Gerakan Global Re-branding Kota, Bagaimana dengan Kota Anda?

 

Selama beberapa dekade, Amsterdam telah menjadi tujuan wisata penting. Sayangnya, meskipun Amsterdam tetap menjadi tujuan wisata yang terkenal dan diminati, selama periode dari 1980-an hingga awal 2000-an, posisi peringkat kota Amsterdam turun karena makin tingginya persaingan dari tujuan wisata lainnya di seluruh Eropa (Cap 2012 ).

Amsterdan tersaingi oleh kota-kota di Spanyol dan Eropa Timur seperti Barcelona, Brussels dan Munich (Stamp, 2012). Karena itu, pengelola kota Amsterdam melakukan re-branding kota. Agar re-branding kora berhasil, sejumlah masalah utama, khususnya masalah identitas kota, harus menjadi fokus usaha pengelola kota (Arifon, 2017).

Langkah penting dalam re-branding kota adalah untuk menciptakan kontras antara identitas kota dan kota-kota lain dengan aset yang sebanding. Untuk menemukan kontras itu, pengelola Amserdam melakukan studi perbandingan praktik pemasaran di empat kota Eropa lainnya, yakni Berlin, Dublin, Barcelona, dan Rotterdam (Kavaratzis & Ashworth, 2012).

Pada akhir 1960-an, citra kota Amsterdam yang dominan adalah keterbukaan, toleransi, dan liberalitasnya. Karena ini, Amsterdam terutama menarik pengunjung yang ingin tidak lebih dari merokok di kedai kopi atau kawasan lampu merahnya dimana toko seks dan klub tari telanjang bisa dijumpai dengan mudah.

Pengelola Amsterdam ingin menarik tamu lebih banyak dan beragam. Untuk mencapai tujuan ini  mereka menetapkan beberapa keunikan kota Amsterdam, dan berusaha menggunakannya sebagai cara untuk menemukan kembali citra Amsterdam. Amsterdam tidak ingin menonjolkan citranya sebagai kota dengan kebebasan seksualnya dan penggunaan narkoba.

Tahun 2004, Amsterdam melakukan re-branding dengan mengubah logo dan slogannya menjadi I Amsterdam. Mereka merebranding Amsterdam sebagai kota yang memiliki identitas budidaya dengan kanalnya, kreativitas (creativiteit), inovasi (innovatie) ), dan semangat perdagangannya (handelsgeest) (Stamp, 2012). Hasilnya, jumlah wisatawan yang berkunnjung ke Amsterdam meningkat, bisnis lokalnya berkembang pesat, dan Amsterdam sekali lagi mengokohkan posisinya sebagai lima kota teratas di Eropa berdasarkan kekuatan merek dan aset budaya (Stamp, 2012).

Diakui atau tidak, sejak tahun 1990an, branding kota telah menjadi faktor kunci dalam kebijakan pembangunan perkotaan. Kota-kota di seluruh dunia berusaha keras dan melancarkan berbagai macam strategi untuk memoles citra dan persepsi kota,  di mata penduduk maupun calon wisatawan, investor, pengguna dan konsumen.

Banyak kota-kota di dunia yang telah dire-branding, sebuah proses yang dirancang untuk menarik perhatian para turis, para pekerja pengetahuan, dan investasi asing. Langkah strategis itu tidak hanya dilakukan kota-kota yang baru akan dikembangkan melainkan juga kota-kota yang sudah lama berkembang namun dirasa daya tariknya berkurang atau masih masih ada peluang untuk ditingkatkan.

Saat ini, di kota-kota di negara berkembang seperti China menghabiskan jutaan dolar untuk mengubah citra diri mereka dan membuat diri mereka trendi dan akrab bagi konsumen di seluruh dunia. Beberapa kota di negara berkembang, misalnya, mencoba memberi merek pada diri mereka sendiri sebagai pusat anggur (Herstein, 2012), bersaing melawan perkebunan anggur asing, termasuk yang berasal dari negara maju.

Kota-kota di negara berkembang seperti China menghabiskan jutaan dolar untuk mengubah citra diri mereka dan membuat diri mereka trendi dan akrab bagi konsumen di seluruh dunia. Beberapa kota di negara berkembang, misalnya, mencoba memberi merek pada diri mereka sendiri sebagai pusat anggur (Herstein, 2012), bersaing melawan perkebunan anggur asing, termasuk yang berasal dari negara maju.

Fenomena itu memberikan gambaran makin semangatnya perencana kota dan pengambil kebijakan, berusaha menarik pebisnis dan turis mengunjungi kotanya. Mereka menghabiskan jutaan dolar untuk mengubah image kota mereka dengan melakukan rebranding sehingga ini menjadi sebuah aktivitas populer di seluruh dunia. Kopenhagen misalnya, menghabiskan sekitar $ 100 juta dalam lima tahun untuk mengubah citranya di Eropa dari hanya sebagai ibukota negarta di Eropa menjadi salah satu ibukota terkemuka di Eropa.

Bahkan saat ini hampir setiap kota besar di Inggris telah direbranding. Hampir 70 persen kota Jerman sudah melakukan pemasaran tempat. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir kota-kota seperti Bangkok, Lagos (Nigeria), Rio de Janeiro dan Beijing telah merebranding.

Meskipun sejumlah besar uang kota berinvestasi dalam proses perencanaan dan implementasi rebranding, uang itu dihabiskan dengan baik asalkan ada strategi yang mendasarinya. Kota-kota yang mengubah citra berhasil menciptakan keunggulan kompetitif dibandingkan kota-kota lain yang citranya kabur atau kabur dan merasa lebih mudah bersaing untuk pangsa konsumen, turis, bisnis, investasi, pekerja terampil dan perhatian media.

Secara umum, setiap proses rebranding kota relevan dengan empat khalayak. Pertama, pengunjung.  Mereka bisa turis asing dan  atau domestik. Sebagian besar strategi rebranding kota bertujuan untuk menarik wisatawan dari segala daerah.

Beberapa kota seperti Dubrovnik, Barcelona, Venesia dan Bangkok mendasarkan ekonomi mereka terutama pada wisatawan asing. Sementara kota lain berusaha menarik wisatawan domestik. Selama periode “perang”, Yerusalem dan New Delhi  melakukan branding terutama untuk menarik wisatawan lokal (Mitki et al., 2011).

Kedua, warga. Warga termasuk penghuni lama dan baru. New Castle adalah contoh sebuah kota yang berhasil meningkatkan citra dan membuat penduduknya tidak meninggalkan kota itu. Sebaliknya Holon, sebuah kota di Israel, kehilangan 50 persen penduduknya. Mereka pindah ke kota lain, dan kemudian, setelah proses rebranding, kota itu menjadi perhatian. Banyak pasangan muda dan keluarga berbondong-bondong pindah ke kota itu.

Ketiga adalah pebisnis dan industri. Segmen bisnis dan industri mencakup perusahaan asing dan domestik, investor dan pegawai negeri. Melbourne dan Sydney, misalnya, bekerja keras untuk menarik pekerja terampil seperti dokter, insinyur dan analis komputer untuk menjadikan dirinya sebagai kota yang lebih menarik bagi bisnis dan industri.

Keempat pasar ekspor. Pasar ekspor terdiri dari perusahaan asing dan konsumen dari seluruh dunia yang membeli produk yang diproduksi di kota-kota tertentu. Produk meliputi barang fashion seperti i Milan (Italia), parfum dari Grasse (Prancis) dan jeruk dari Jaffa (Israel).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)