Apa Kabar Kampanye Branding Baru Kota-kota Kita?

Brand Destinasi memegang peranan penting dalam pemasaran pariwisata sebuah kota. Bagaimana perkembangan kampanye Brand Destinasi 10 kota di Indonesia yang diluncurkan Pemerintah tahun lalu?

Pertengahan tahun lalu, pemerintah secara resmi meluncurkan branding baru untuk 10 destinasi wisata di Indonesia. Masing-masing adalah Colorful Medan, Wonderful Riau Island, Enjoy Jakarta, Stunning Bandung, Java Cultural Wonders, Majestic Banyuwangi, Bali the Island of Gods, Friendly Lombok, Explore Makassar dan Coral Wonders (Bunaken, Wakatobi dan Raja Ampat).

Seluruh brand destinasi tersebut diselaraskan dengan Master Brand “Wonderful Indonesia” agar semakin memperkuat positioning country branding kita. Menurut Asdep Pengembangan Komunikasi Pemasaran Pariwisata Mancanegara Noviendi Makalam, proses perumusan sepuluh branding tersebut merupakan hasil karya berbagai pihak terlibat dan mengandung makna yang telah disepakati bersama.

Pada dasarnya, Brand Destinasi yang diciptakan perlu melewati tahap yang sulit dan panjang. Brand yang sudah melewati tahap tersebut haruslah memiliki kekuatan. Kekuatan suatu Brand Destinasi salah satunya berasal dari identitas destinasi itu sendiri.

Mengutip pendapat Marcello Risitano PhD. dalam “The Role of Destination Branding in the Tourism Stakeholders System” (2005), untuk menciptakan Brand Destinasi yang kuat, dapat mengacu pada aspek-aspek berikut ini:

  • Brand Culture adalah bagaimana suatu Brand Destinasi dapat mencerminkan karakteristik destinasi berdasarkan aspek budaya masyarakat (kepercayaan, tradisi, ritual, dan lain-lain) dan aspek destinasi itu sendiri (situs bersejarah, monumen, situs arkeologi, bangunan tua, dan lain-lain). Hal tersebut merupakan esensi yang sesungguhnya dari suatu destinasi dan menunjukkan nilai inti dari apa yang ada di destinasi tersebut.

  • Brand Character terkait dengan janji sebuah destinasi dalam memberikan pengalamannya, seperti integritas, kepercayaan, kejujuran.

  • Brand Personality adalah bagaimana suatu destinasi diibaratkan seperti kepribadian manusia dalam kehidupan sehari-hari: down-to-earth, ceria, senang berimajinasi, berkelas tinggi, suka berpetualang, dan lain sebagainya.

  • Brand Name, baik menggunakan bahasa lokal ataupun bahasa inggris, merupakan sesuatu yang sangat penting dan sangat berguna dalam strategi komunikasi kepada target wisatawan. Saat ini, kebanyakan destinasi hanya menggunakan nama asli daerahnya, bahkan untuk memasarkan produk wisatanya sekalipun. Idealnya, Brand Name harus memiliki keunikan serta mudah diucapkan dan mudah diingat. Biasanya destinasi yang sudah siap untuk memasarkan produknya menggunakan kata tambahan dalam brand-nya seperti Wonderful Indonesia, Incredible India, Imagine Your Korea, Malaysia Truly Asia, 100% Pure New Zealand, dan lain-lain.

  • Brand Logos (and Symbols) dalam sebuah Brand Destinasi menjadi bagian yang cukup krusial. Logo atau simbol tersebut haruslah mendefinisikan kekuatan dari sebuah destinasi melalui sebuah tampilan visual, seperti keindahan alam destinasi tersebut, monumen terkenal, keunikan tradisi, dan lain-lain. Tidak hanya berupa gambar, namun jenis tulisan dan warna tulisan juga termasuk ke dalam Brand Logos (and symbols).

  • Brand Slogan (tagline), meskipun tidak selalu ada slogan dalam Brand Destinasi, nyatanya Brand Slogan dibutuhkan untuk mengomunikasikan brand secara lebih persuasif sehingga wisatawan yang asalnya tidak tertarik menjadi tertarik untuk berkunjung.

Brand memegang peranan penting dalam pemasaran destinasi pariwisata. Memiliki sebuah brand yang mampu merepresentasikan nilai, budaya, filosofi, harapan masyarakat atau stakeholder di dalam suatu destinasi tentunya akan sangat berpengaruh positif terhadap perkembangan pariwisata di destinasi tersebut.

Setahun berlalu sejak pencanangan branding baru dari 10 destinasi wisata di Indonesia, bagaimana perkembangannya? Kecuali Bali, Prof. Dr. I Gde Pitana, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata Indonesia mengakui sampai saat ini belum ada brand pariwisata yag cukup kuat di Indonesia. Bahkan, Master Brand Wonderful Indonesia dianggap belum sekuat Brand Destinasi pariwisata Bali.

Karena keyakinan tersebut, tidak heran saat mempromosikan 10 daerah wisata di atas dalam bursa pariwisata Vakantiebeurs di Utrecht, Belanda pada 10-15 Januari lalu, Kementrian Pariwisata (Kemenpar) mengusungnya di bawah payung brand “10 Bali Baru”. Selama lima hari, 16 operator wisata, tiga hotel, dan maskapai penerbangan Garuda Indonesia juga ikut serta dalam ajang bursa wisata tersebut.

Strategi yang dilakukan pemerintah pusat di atas tentu bukan dalam konteks untuk mengecilkan peran dan upaya branding yang telah dilakukan para pemerintah daerah setempat. Kenyataannya, hampir semua daerah, bahkan yang berada di wilayah Indonesia Timur, memperlihatkan kesadaran masif akan pentingnya destinasi branding. Upaya branding Makassar bisa menjadi contohnya.

City branding Makassar mengusung “Explore Makassar”dengan logogram kapal Phinisi yang memiliki ikatan erat dengan sejarah Makasar. Kapal merupakan simbol konektivitas dengan dunia internasional dan menyiratkan Makassar terbuka bagi para wisatawan.

Sempat dikenal dengan nama Ujung Pandang sebelum kembali pada nama Makassar, kota terbesar di Indonesia bagian timur ini adalah gerbang ke Indonesia dengan penerbangan tersibuk di Indonesia bagian timur.

Sejak abad ke-14, Makassar juga telah dikenal sebagai pelabuhan laut tersibuk di Nusantara, tempat dimana kapal-kapal dagang dari China, India, dan Kamboja melakukan transaksi komoditas sutera, teh, dan keramik yang ditukar dengan cengkeh, pala, dan mutiara dari Maluku serta dengan emas dan hasil hutan dari Sulawesi. Etnis Bugis yang dominan di Makassar sendiri dikenal sebagai penakluk laut dan penjelajah dunia. Pengalaman berabad-abad ini, diharapkan kembali mengantarkan Makassar menjadi kota dunia.

Kesadaran Pemerintah Daerah Makasar tentang destinasi branding sebenarnya sudah timbul jauh sebelum pemerintah pusat memasukkannya ke dalam list branding baru destinasi wisata. Empat tahun lalu, Pemkot Makasar menerbitkan buku berjudul City Branding Makasar, yang seperti diutarakan oleh walikota kala itu, merupakan langkah awal mereka untuk menampilkan ruh kota atau inner beauty.

City branding adalah soal imajinasi kolektif terhadap suatu kota. Membangun dan merancang brand tidak semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan upaya masif dan konsisten dengan perencanaan terukur dengan jelas terjadap parameter yang ditentukan,” demikian tulis Walikota dalam sambutannya. Walikota juga menyadari bahwa bangunan citra bukan hanya pada fisik kota, namun juga mencakup karakter dan potensi lain yang lebih penting agar tertata bagus.

Tiga tahun sebelum Pemerintah Pusat meresmikan “Explore Makassar (dengan sudut pandang geostrategis pemerintah pusat), Pemkot Makassar sudah merintis sebuah city branding dengan tagline “I Love Sombere” dan “Smart City” yang merupakan gambaran karakter masyarakat kota Makasar.

Sombere’ berasal dari kata Makassar merupakan penegasan bahwa Makassar adalah kota dengan keramahtamahan dan murah senyum, kepedulian tinggi dari warga yang mendiaminya memberikan rasa aman siapa saja ketika berada di kota Makassar. Konsep Sombere akan sangat ditentukan aparat pelayanan publik serta warga kota yang welcome terhadap pendatang.

“Sombere dalam bahasa Makassar itu artinya keramahtamahan, kerendahan hati, dan persaudaraan. Itu menjadi bentuk muatan kultural kami dalam pemanfaatan teknologi digital,” tegas Ramdhan Pumanto, Walikota Makassar dalam suatu seminar digital bertajuk “Teknologi Digital dan Branding Pariwisata Sulawesi Selatan” di Hotel Santika, Makassar dua tahun silam.

Diintegrasikan dengan konsep smart city yang modern, ranah digital kemudian dimanfaatkan secara lebih jauh untuk mengeksplorasi city branding Makassar yang mengedepankan kearifan lokal, misalnya di bidang pariwisata dan kuliner. Di bidang pariwisata, Ramdhan berpendapat harus ada sisi historis yang ditonjolkan.

“Kenapa orang pada ke Makassar? Karena mereka mau makan enak. Berarti kuliner harus kita branding. Tidak ada satu pun tempat di dunia yang kulinernya seperti di Makassar. Mulai dari pagi, siang, sore, malam, makanannya beragam. Makin banyak orang (wisatawan) makan, makin banyak duit keluar. Itu jadi tugas saya untuk mewujudkannya,” ujarnya. *

Leave a Reply

Your email address will not be published.