Sulut Targetkan 2019 Gaet 1 Juta Wisman

Tomohon International Flower Festival

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) merilis Compound Annual Growth Rate (CAGR) pada medio tahun 2018. CAGR adalah tingkat pertumbuhan tahunan dari sektor andalan seperti pariwisata yang mendatangkan devisa. Dalam rilis Kemenpar terungkap, tingkat pertumbuhan kunjungan wisatawan Sulawesi Utara (Sulut) sepanjang 2018 meraih angka tertinggi sebesar 66%, menggeser Bali yang hanya 15%, dan Jogja sebesar 17%.

Menurut Menpar Arief Yahya, laju pertumbuhan Sulut tersebut tiga kalinya laju pertumbuhan pariwisata Indonesia yang mencapai 22%. “Pariwista Sulut sebagai leading sector untuk datangkan devisa,” katanya. Menurut data itu, jumlah kunjungan wisatawan ke destinasi wisata di Sulut terus membengkak. Wisatawan mancanegara (wisman) misalnya, pada 2015 tercatat sebanyak 147.390 orang. Pada tahun berikutnya (2016) naik signifikan menjadi 346.638 orang, pada 2017 menjadi 500.000 orang, dan pada 2018 jumlahnya menjadi 750.000 orang.

Peningkatan serupa juga terjadi pada jumlah wisatawan Nusantara (wisnus) di mana pada 2015 angkanya di level 13,063 juta orang, pada 2016 naik menjadi 14,74 juta orang, pada 2017 naik lagi menjadi 15 juta orang, dan pada 2018 meningkat menjadi 16 juta orang. Pada 2019 pemerintah provinsi Sulut menargetkan jumlah kunjungan wisman dan wisnus meningkat lebih 30%, yakni sebesar 1 juta wisman dan 17 juta wisnus.

Target tersebut dianggap realistis lantaran Sulut memiliki potensi destinasi wisata beragam dengan keindahan yang mempesona. Menurut Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Sulut Daniel Mewengkang, Sulut memiliki garis pantai sepanjang 1.837 Km dengan lokasi destinasi wisata seperti Bunaken yang menjadi primadona untuk wisata selam, wisata alam, wisata petualangan, bahkan kuliner. “Keindahan Bunaken tersohor hingga mancanegara. Keindahannya bahkan menjadi ikonik Sulut,” jelasnya.

Sulut yang berjuluk “bumi nyiur melambai” menyimpan banyak destinasi wisata bahari untuk wisata diving, diantaranya terdapat di Pulau Lembeh, Pulau Mahoro, Pulau Gangga, Pulau Nain, dan Pulau Lihaga. Tak kalah menarik adalah wisata alam yang berada di Taman Hutan Raya Gunung Tumpa, Air Terjun Kima Atas, Air Terjun Spawandi Rumoong Bawah, Air Terjun Takaan Kilometer 3, dan Batu Dinding Kilo Tiga Amurang. Sulut juga mengembangkan wisata sejarah dan wisata religi yang berlokasi di Benteng Portugis Amurang dan Bukit Doa Pinaling.

Potensi wisata tersebut akan mampu menggaet wisatawan apabila dikemas lewat event. Karena, menurut Daniel, event menjadi salah unsur penting, yakni attraction dalam memasarkan pariwisata. Strategi ini diimplementasikan melalui perencanaan kalender event sepanjang setahun. Saat ini Sulut termasuk yang paling aktif menggelar event yang dibalut dalam kegiatan festival seni, budaya, musik, dan olahraga.

Festival Pesona Bunaken misalnya, merupakan event tahunan yang menjadi primadona untuk menggaet wisatawan. Event menyuguhkan lomba perahu hias, lomba karnaval budaya, lomba Kolintang, lomba Maengket, tarian kreasi baru dan hiburan menarik lain. Menurut laporan Kadispar, event mampu menggaet ribuan wisatawan. Kehadiran event juga mampu menggerakkan sektor Usaha Kecil dan Menegah (UKM) dengan cara menjual berbagai produk UKM kepada wisatawan.

Event unggulan lain, diantaranya wisata pantai Celebrate of The Sea, Paskah se-Asia, Festival Natal/Christmas, serta Tomohon International Flower Festival (TIFF). Event TIFF bahkan digadang-gadang menjadi daya tarik wisatawan karena menyuguhkan berbagai ragam keindahan bunga melalui parade bunga yang menawan. Event ini merupakan salah satu event nasional terbaik yang masuk ke dalam Top 100 Calender Event Pariwisata Nasional.

Keunikan Sulut untuk menarik wisatawan adalah penggunaan bahasa asing dalam penanda di tempat keramaian. Selain dengan bahasa Inggris, juga menggunakan bahasa Mandarin karena banyak turis asal Cina. Hal ini terlihat di sejumlah hotel, objek wisata, pusat perbelanjaan, instansi layanan publik, bahkan taksi bandara di Manado yang mencantumkan tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Mandarin.

Penggunaan tiga bahasa ini diprakarsai bersama Dinas Pariwisata Sulut dan Dinas Pariwisata dan Budaya Manado, yang didukung Tim Satgas Pariwisata Sulawesi Utara. “Antusiasme menggunakan tiga bahasa dalam berbagai penanda maupun peringatan bertujuan agar turis asing semakin nyaman berada di Manado bahkan Sulut. Mengingat arus wisatawan mancanegara ke Sulut terus meningkat,” kata Ketua Satgas Pariwisata Sulut Dino Gobel belum lama ini.

Transportasi ikut menjadi faktor penentu untuk mendatangkan wisatawan. Tak pelak apabila pemerintah provinis Sulut sangat serius membenahi transportasi, terutama rute penerbangan karena sebagaian besar wisatawan ke Sulut melalui moda angkutan udara. Tercatat saat ini dalam setiap minggunya ada 18 trip penerbangan dari China ke Manado yang mengangkut wisatawan dari negeri tirai bambu.

Akses ke destinasi wisata di Sulut, terutama ke Manado, bagi wisman semakin terbuka lebar. Ditengarai sejumlah perusahaan maskapai penerbangan yang melayani rute ke Manado, baik rute lokal, regional, maupun internasional. Bandara, menurut Daniel, menjadi pintu pertama wisatawan datang ke Sulut. “Oleh karena itu, kami siapkan counter yang memberikan informasi destinasi wisata kepada para wisatawan,” katanya. Termasuk pula menjalin kerjasama dengan biro perjalanan untuk menyelenggarakan paket-paket wisata.

Di samping akses dan fasilitas akomodasi, pihaknya sangat corncern terkait masalah keamanan. Sebab, wisatawan tertarik datang jika yang tempat dikunjungi memberi rasa aman. “Kemanan” yang dimaksud adalah kemanan internal, seperti ketersediaan lahan parkir, alat kebakaran di hotel, higienitas makanan, kebersihan, termasuk pula keamanan transportasi laut.

Pasalnya, banyak wisatawan yang menuju lokasi wisata dengan menggunakan angkutan kapal. “Kapal-kapal wisata kita harus pakai live jacket, kapalnya harus bermesin ganda serta alat komunikasi kalau tidak memenuhi standar keamanan izinnya harus dicabut karena ini menyangkut nyawa manusia,” ujar Daniel.

Tak kalah penting adalah mengedukasi potensi wisata sebagai program destinasi branding Sulut. Strategi branding mengacu revolusi industri 4.0 dimana para pelaku pariwisata dapat memanfaatkan media sosial dan teknologi dalam mempromosikan produk dan destinasi pariwisata. Pasalnya, saat ini mayoritas para pelancong melakukan pemesanan paket wisata melalui dunia maya.

Strategi tersebut diimplementasikan dengan mengembangkan cyber campaign melalui e-magazine, e-brochur, online event (contest, blogging event), serta social networking machines melalui akun sosial media Facebook, Twitter, Youtube, My Space, Flickr, dan lain-lain.

Menurut Daniel, pihaknya memperluas peran Generasi Pesona Indonesia (GenPI) dengan mendeklarasikan GenPI Sulut. Kehadiran GenPI Sulut akan mem-booster promosi pariwisata Indonesia, khususnya di Sulut. “Eksekusinya memakai konsep go digital dengan memanfaatkan peran media sosial. Bisa melalui Blog, Facebook, Twitter, Instagram, Path, juga lainnya,” katanya lagi.

Format kegiatannya bermacam-macam, seperti merujuk pada calendar of event, destinasi wisata, maupun kebijakan kepariwisataan. Misalnya, menyelenggarakan event di Bunaken atau meng-explore salah satu destinasi wisata kemudian memviralkan di media sosial. “Konsep seperti ini jauh lebih efektif, termasuk untuk menjual destinasi yang ada di Sulut karena GenPI berperan sebagai motor branding pariwisata Sulut,” tandas Kadispar Daniel Mewengkang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.