Promosi Bromo Lewat Event Budaya

Jika sebelumnya warga setempat hanya menjadi penonton, kini mereka berperan aktif dalam kesuksesan gelaran event budaya untuk mendukung promosi wisata Bromo. Mereka ikut menjadi tuan rumah dan berperan langsung dalam prosesnya.

Oleh: W. Setiawan

Pesona Gunung Bromo selalu menarik perhatian wisatawan. Sepanjang 2017, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Gunung Bromo di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur (Jatim), mencapai 207.108 orang. Mengacu kepada target wisatawan 2018 di Jatim sebesar 58 juta wisatawan Nusantara (wisnus) dan 1 juta wisatawan mancanegara (wisman), kontribusi jumlah wisatawan dari Bromo ini relatif kecil. Oleh karenanya, Dinas Pariwisata Jatim menyiapkan sejumlah agenda event budaya dan pariwisata yang akan digelar sepanjang 2018, termasuk menyelenggarakan event di Bromo.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Jatim Jariyanto, sedikitnya ada 480 event budaya dan pariwisata akan digelar sepanjang tahun ini. Event terdiri dari 108 festival dan 374 non-festival tersebar di 38 kota dan kabupaten, seperti Jember Fashion Carnival, Banyuwangi Ethno Carnival, Malang Flower Carnival, Kemilau Madura, Pasar Seni Lukis Indonesia, Gandrung Sewu, Internasional Tour de Banyuwangi Ijen, Festival Keraton Nusantara, dan Festival Malang Kota Tua. Sementara di Bromo, digelar event Yadnya Kasada Eksotika Bromo pada 29-30 Juni 2018. “Dengan dirilisnya kalender event budaya dan pariwisata, maka akan mempermudah wisatawan untuk berkunjung ke Jawa Timur,” ujarnya.

Sesuai roadmap program pariwisata nasional, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menetapkan TNBTS merupakan salah satu dari 10 top destinasi wisata prioritas yang biasa disebut 10 Bali Baru. Bromo secara lansekap adalah destinasi yang world class. Branding Bromo sudah dikenal di mancanegara karena Kemenpar sejak empat tahun lalu gencar mempromosikan keindahan panorama Indonesia lewat pemasangan logo “Wonderful Indonesia” di kemasan produk bekerjasama dengan sejumlah perusahaan lokal. Termasuk baru-baru ini menjalin kerjasama dengan GoFress untuk mempromosikan eksotika Bromo ke mancanegara.

Promosi Bromo—termasuk destinasi unggulan lainnya, menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya, sudah gencar dilakukan Pemerintah. “Sekarang tinggal meng-create kegiatan budaya lokal maupun event pariwisata agar menjadi magnet untuk menarik wisatawan,” ujarnya. Potensi pariwisata sebuah wilayah, imbuhnya, tidak efektif menarik wisatawan kalau hanya promosi gencar tanpa dibarengi event-event wisata. “Event yang akan men-drive wisatawan sehingga mau berkunjung,” katanya lagi.

Bak gayung bersambut, Pemerintah provinsi Jatim bersama elemen terkait menggelar kegiatan event budaya dan pariwisata sebagai implementasi atau eksekusi program destinasi wisata Kemenpar untuk menarik wisnus maupun wisman. Untuk program eventnya sendiri, sesungguhnya tidak terlalu sulit karena Bromo memiliki event rutin yang telah dikenal global sejak dulu.

Sebut saja konser Jazz Gunung Bromo tahun ini kembali digelar. Event pertunjukkan musik yang menampilkan aksi panggung para musisi jazz bertaraf internasional ini akan diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut, 25-27 Juli 2018. Event mengambil venue di daerah pegunungan Bromo Tengger Semeru, tepatnya di Amfiteater Jiwa Jawa Resort Bromo, Desa Wonotoro, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Konser merupakan event rutin digelar setiap tahun, dan tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ke-10. Ribuan wisatawan datang ke Bromo saat digelar event.

Selain konser jazz, ada perayaan Hari Raya Yadnya Kasada (Kasodo), yakni upacara ritual tahunan terbesar adat suku Tengger untuk mencari keselamatan, kemakmuran, dan keberkahan. Upacara ini untuk mengenang dan memperingati pengorbanan seorang Raden Kusuma, anak dari Jaka Seger dan Lara Anteng. Rangkaian upacara perayaan digelar selama 29-30 Juni 2018.

Ribuan wisnus dan wisman tumpah ruah menghadiri acara Kasodo yang dikemas dalam event “Eksotika Bromo”. Hal ini tidak berlebihan karena perayaan Kasodo termasuk dalam “100 Wonderful Event World”. Bahkan, dua tahun lalu, ketika Gunung Bromo sedang bergejolak dan mengeluarkan asap panasnya, ribuan wisatawan tetap memenuhi datang ke Bromo menyaksikan upacara ritual itu.

Selain ritual upacara, juga ditampilkan beragam event seni lintas budaya untuk mendatangkan lebih banyak wisatawan, seperti seni Topeng Hudoq Dayak (Kalimantan Timur), Drama Wayang Swargaloka (Jakarta), Musik Baleganjur (Probolinggo), Parade jaranan Tengger, Reog Ponorogo, hingga pembacaan puisi Kusuma oleh aktris Cornelia Agatha dan Pevita Pearce. Usai Yadnya Kasada, akan dilanjutkan dengan upacara Kasada Bromo saat bulan purnama tanggal 1 Juli 2018.

“Bromo adalah salah satu daerah tujuan wisata tersohor di dunia. Gunung ini memiliki keunikan panorama indah sekaligus mistis, sehingga menyodorkan suasana berbeda dibandingkan gunung lainnya. Inilah yang menjadi daya tarik wisatawan datang ke sini,” ujar Jariyanto.

Euforia kemeriahan upacara Kasodo gaungnya semakin luas karena sejumlah agen wisata dan hotel mengedukasi acara secara online melalui website maupun sosial media. Sebut saja website https://bromomalangtour.com , http://suhartonotourtravel.com, atau https://tripwisatabromo.com yang menawarkan wisata Kasodo Bromo kepada wisman dan wisnus. Selain itu, para wisatawan yang hadir tak ingin melewatkan kenangan manis dengan melakukan swafoto (selfie) lalu mengunggahnya ke akun media sosial Facebook, Twitter, maupun Instagram sehingga mampu mendongkrak brand destinasi wisata Bromo. Tak ketinggalan, artis sekaligus produser film Mira Lesmana mengabadikan keindahan Bromo dengan menggunggah foto-foto hasil jepretennya ke akun Instagram pribadi @mirales dan mendapat ribuan likes.

“Eksotika Bromo“ merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Hal ini menjadi bukti bahwa pemerintah daerah setempat memberikan ruang pada masyarakat untuk berpartisipasi mengembangkan wisata lokal. Hal ini juga merupakan salah satu strategi program destinasi. Jika sebelumnya warga setempat hanya menjadi penonton, kini warga juga ikut berperan aktif atas kesuksesan gelaran tersebut. Saat ini masyarakat dapat terlibat langsung dalam acara ini. Biasanya hanya melihat dan menonton saja, untuk saat ini menjadi tuan rumah dan ikut langsung di dalam prosesnya.

Tak ketinggalan, upaya “memasarkan” wisata Bromo dilakukan lewat kolaborasi panorama alam dengan kegiatan olahraga yang termaktub dalam event “Bromo Marathon” yang digelar Oktober tahun lalu. Kegiatan diikuti para pelari lokal dan mancanegara serta mampu mendatangkan ribuan wisatawan. Bromo Marathon tidak hanya memberi peserta jalan yang indah dan menantang, tapi juga membaurkan mereka dalam kehidupan desa sejati dan budaya unik Tengger dalam upaya mempromosikan interaksi lintas budaya. Melihat antusias wisatawan yang tinggi, ke depan bakal diselenggarakan event serupa.

Bromo menghadirkan nuasa panorama alam yang tidak ada habisnya. Bahkan, saat erupsi pada 2016 lalu, Pemerintah Kabupaten Probolinggo menawarkan paket wisata erupsi Bromo untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. “Bagi wisatawan rombongan, baik dari dalam maupun luar negeri, tentu ada pendamping dan ditunjukkan bagaimana keindahan Bromo saat erupsi. Apalagi fenomena ini terjadi lima tahun sekali,” ucap Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Probolinggo Tatok Krismahendro.

Alhasil, melalui serangkaian promo dan aktivasi event festival, budaya, dan olahraga, panorama Bromo diantara jajaran gunung Semeru dan Tengger mampu menjadi destinasi wisata unggulan. Sebagai bagian dari kluster Jatim-Bali, Taman Wisata Alam Bromo Tengger mampu memberi kontribusi sekitar 35% terhadap pariwisata ekowisata Tanah Air. Tak terkecuali dengan melakukan pembenahan fasilitas infrastruktur, akomodasi, serta sarana penunjang lain di dalam kawasan, merupakan program komprehensif yang kini giat dilakukan pemerintah daerah setempat agar sasaran program menggaet lebih banyak wisatawan dapat terwujud.

“Jika pada tahun 2017 lalu telah terjadi peningkatan kunjungan wisata lokal sebanyak 5% dan 1,15% untuk wisatawan mancanegara ke destinasi wisata Jatim, termasuk ke Bromo, maka untuk tahun 2018 ini harus bisa melebih tahun lalu,” tandas Kepala Dinas Pariwisata Jatim Jariyanto. *

Leave a Reply

Your email address will not be published.