Sabang Jadi Destinasi Wisata Bahari Kelas Dunia

Sabang International Freediving Competition (SIFC) dan Sabang Marine Festival (SMF) adalah dua event primadona yang rutin diselenggarakan setiap tahun untuk mengangkat position Sabang sebagai desnitasi wisata bahari.

Ditulis Oleh: W. Setiawan

Awareness Sabang sebagai destinasi wisata mungkin tidak setenar Raja Ampat di Papua. Namun, keindahan panorama pantai dan bawah laut Sabang tidak kalah dengan Raja Ampat. Sabang memiliki pesona pantai yang memesona seperti Pantai Balohan yang menjadi spot terbaik untuk menyelam. Keindahan bawah laut Sabang berupa terumbu karang alami yang dihuni ratusan spesies ikan di dalamnya menyuguhkan sensasi yang luar biasa ketika menjelajahinya.

Kota Sabang yang terletak di Pulau Weh, Provinsi Aceh, merupakan salah satu pintu gerbang Indonesia yang berbatasan laut dengan India dan Thailand. Letaknya yang strategis dengan keindahan wisata alam dan lautnya membuat Sabang dikenal sebagai destinasi selam (scuba diving). Pada beberapa lokasi lautnya tidak terlalu dalam dan arusnya relatif tenang sehingga tempat ideal untuk menyelam tanpa scuba (freediving). Sabang juga memiliki pelabuhan dalam yang mudah disinggahi kapal pesiar (cruise) berkapasitas besar.

Tak pelak kalau Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Sabang berupaya memasarkan potensi keindahan alam Sabang bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Aceh dan jajaran terkait di pemerintahan pusat melalui program branding Sabang sebagai destinasi wisata bahari dunia serta destinasi bagi kapal layar dan kapal pesiar untuk menggaet wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan domestik.

Hal itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Nasional tahun 2010-2025 yang menetapkan Pulau Weh (Sabang) sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). “Pemerintah menargetkan wisata bahari akan memberikan kontribusi sebanyak 4 juta wisman, 500 ribu diantaranya wisatawan kapal pesiar dari target 20 juta wisman pada tahun 2019,” ujar Dwisuryo Indroyono Soesilo, Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kementerian Pariwisata (Kemenpar).

Branding Sabang diimplementasikan melalui event internasional bertajuk Sabang International Freediving Competition (SIFC) dan Sabang Marine Festival (SMF). Keduanya menjadi event primadona yang rutin diselenggarakan setiap tahun untuk mengangkat position Sabang sebagai desnitasi wisata bahari.

Event SIFC 2018 yang digelar di Pantai Balohan pada 3-8 November lalu misalnya, adalah kejuaraan selam internasional yang diikuti penyelam nasional dan internasional. Event ini termasuk salah satu yang paling ditunggu para penyelam, terutama bagi mereka yang mencari tempat menyelam yang lebih menantang dan eksotis.

Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Aceh, Rahmadhani menjelaskan SIFC diharapkan menjadi magnet untuk menggaet minat wisatawan khusus penyelam luar negeri agar mau berkunjung ke Indonesia, khususnya ke Sabang, Bahkan, menurutnya, SIFC menjadi salah satu primadona untuk mendongkrak industri pariwisata di Sabang karena jumlah pesertanya selalu meningkat setiap tahun.

Pada SIFC 2017 misalnya, hadir penyelam dari 20 negara. Dan pada tahun ini, jumlah pesertanya mencapai 40 penyelam dari 23 negara. Geliat event juga dirasakan para pengelola hotel, jasa transportasi, serta UKM sektor kuliner dan merchandise yang omsetnya meningkat selama event berlangsung. “Potensi bahari Sabang sangat luar biasa. Ini yang harus kita terus dorong agar perekonomian masyarakat pada sektor turunannya juga ikut terangkat,” kata Rahmadhani.

Sementara SMF, yang juga menjadi primadona Sabang untuk menggaet kunjungan wisatawan, semakin eksis dalam menarik wisatawan. Tahun ini merupakan tahun ke-4 penyelenggaraan SMF, digelar pada April lalu dan diikuti 22 kapal yacht (kapal pesiar) dari berbagai negara. Menurut Sayed Fadil, Kepala BPKS (Badan Pengelolaan Kawasan Sabang) selaku pihak penyelenggara, SMF menjadi sarana efektif untuk mempromosikan Sabang sebagai destinasi marine tourism kelas dunia. SMF 2018 menempuh jalur pelayaran lintas negara, meliputi Sabang (Indonesia)-Phuket (Thailand)-Langkawi (Malaysia).

Di samping itu, lokasi Sabang di Selat Malaka kerap menjadi jalur perlintasan kapal pesiar. Pada 2016, terdapat 12 kapal pesiar bersandar di Sabang, kemudian pada 2017 jumlahnya meningkat menjadi 84 kapal pesiar. Tentu hal ini menjadi potensi wisata yang menguntungkan bagi Sabang.

Oleh sebab itu, BPKS melakukan terobosan dalam event SMF, yakni mengombinasikan nuansa modern dan tradisional. Sehingga, para peserta selain menonton festival kapal yacht, juga disuguhi pertunjukkan bernuansa budaya seperti festival nelayan tradisional Aceh serta atraksi keseniaan lainnya. Strategi ini, menurut Sayed, bertujuan mempromosikan budaya lokal ke tingkat global lantaran keunikan adat istiadat Aceh bisa menjadi daya tarik untuk menggaet wisatawan.

“Ini yang tengah kami lakukan, mengemas budaya lokal dalam event internasional. Sehingga, wisatawan akan tetap mau datang ke sini bukan hanya karena keindahan baharinya, tapi juga terpikat oleh keunikan budayanya,” papar dia.

Selain bahari, Sabang memiliki banyak potensi wisata lain yang prospek menggaet wisatawan, seperti wisata museum (Monumen Km 0 dan museum Abad Kejayaan Sabang), wisata halal (kuliner bersertifikat halal, dan kehidupan masyarakatnya kental dengan nuansa religius), termasuk wisata petualangan karena Sabang memiliki lokasi eksostik untuk berpetualangan, seperti Gua Sarang. Sejumlah pantai yang dikembangkan untuk wisata pantai diantaranya Pantai Sumur Tiga, Pantai Iboih, Pantai Gapang, Pantai Anoi Itam dan Pantai Kasih.

Dukungan edukasi, tak pelak dilakukan untuk mendongkrak pamor Sabang di ranah global melalui Website, media massa, portal online, hingga social media. Tujuannya untuk mempermudah wisatawan mengakses informasi wisata. Salah satunya website resmi yang diluncurkan Disbudpar Sabang pada tahun lalu, yakni www.tourismsabang.com dan www.parbudsabangkota.co.id. Termasuk pula aksi menggandeng berbagai komunitas untuk mempromosikan wisata Sabang di akun social media Instagram, Twitter, Facebook, dan Youtube.

Sementara dari sisi aksesibilitas, berbagai kemudahan transportasi disuguhkan bagi wisatawan berupa rute penerbangan langsung ke Sabang atau menuju bandara Sutan Iskandar Muda, Aceh. Dari sini dapat melanjutkan perjalanan menggunakan kapal fery di pelabuhan Ulee Lheue.

Alhasil, sinergi antara pemerintah kota, provinsi, BPKS, dan pemerintah pusat untuk mempromosikan Sabang membuahkan hasil. Tercermin dari jumlah kunjungan wisatawan yang terus meningkat. Pada 2014 kunjungan wisatawan hanya 500 ribu orang, lalu meningkat menjadi 700 ribu wisatawan pada 2015. Pada 2016 jumlah kunjungan meningkat lagi mencapai lebih dari 750 ribu. Dan pada 2017 mencapai 1 juta wisatawan. Pada tahun ini Sayed Fadil menargetkan jumlah kunjungan wisatawan ke Sabang di atas 1 juta.

Leave a Reply

Your email address will not be published.