Slogan “Stunning Bandung” untuk Gaet Wisatawan

Tahun ini Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menargetkan jumlah kunjungan wisatawan menembus angka tujuh juta orang. Target tersebut meningkat 10% dibandingkan dengan tahun 2017 yang mencapai 6,9 juta wisatawan. Kendati diwarnai perhelatan politik pemilihan kepala daerah (pilkada, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kenny Dewi Kaniasari memastikan bahwa penyelenggaraan pesta demokrasi tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap sektor pariwisata.

“Meski ada pilkada, kami tetap aktif berpromosi dan aktivasi kegiatan kebudayaan. Politik tidak berpengaruh terhadap kepariwisataan, kebudayaan dan ekonomi kreatif,” jelas Kenny. “Kalau keamanan tidak kondusif, biasanya para wisatawan akan berpikir dua kali untuk datang ke suatu daerah. Jadi harapan kami, di 2018 ini keamanan di Kota Bandung tetap kondusif,” imbuhnya.

Bandung dikenal sebagai destinasi wisata karena memiliki banyak potensi yang mendukung sektor pariwisata. Dari keunikan budayanya, kuliner, lokasi berbelanja yang menarik, suasana kota yang inspiratif, hingga panorama alamnya yang mempesona. Tak keliru apabila Bandung – dikenal dengan sebutan Paris van Java karena produk fashionnya – menjadi salah satu destinasi wisata primadona dan meraih indeks pariwisata tertinggi di Indonesia (95,30) mengungguli Den Pasar (87,65), dan Yogyakarta (85,68).

Lantas, bagaimana mengemas semua potensi tersebut untuk strategi destination branding? Walikota Bandung Ridwan Kamil menjelaskan, menggaet wisatawan lewat pertunjukkan seni budaya sebagai keunggulan lokal sejalan dengan strategi destination branding yang dicanangkan pemkot dimana event budaya berperan sebagai magnet pariwisata. Oleh karena itu, sejak 2017 pemkot mengembangkan sektor kebudayaan untuk men-trigger pengembangan pariwisata.

Jadi dikembangkan Bud-nya dulu, lalu nanti Par-nya muncul mengiringi,” katanya. Unsur budaya di Tanah Sunda, diakui masih belum terlalu menonjol jika dibandingkan dengan daerah lain. Misalkan Bali punya dua hal, yakni alam dan budaya. Di Tanah Sunda, Jawa Barat, punya kekayaan alam yang mempesona, tapi budayanya belum dikembangkan secara maksimal. Oleh karenanya, pemkot mencoba menciptakan kawasan berwawasan budaya Sunda, salah satunya adalah Pusat Budaya Sunda yang akan dibangun di Cibiru.

“Seperti Kampung Naga, yang di dalamnya retail, jadi semua ada, ada pernak-pernik, ada kulinernya. Jadi nanti turis kalau berkunjung tidak hanya ke Saung Udjo saja, tapi bisa ke Pusat Budaya Sunda ini,” papar wali kota.

Wisatawan mancanegara (wisman) cenderung mencari konten lokal setiap kota yang akan dikunjunginya. Mereka berharap dapat menemukan kearifan lokal, seni, atau budaya yang tidak ditemukan di negara asalnya. Pemerintah Daerah (Pemda) Jawa Barat mendukung strategi tersebut yang dielaborasikan melalui Perda No.5 Tahun 2012 yang mewajibkan hotel di Bandung menggelar pertunjukan seni budaya, setidaknya satu kali pertunjukan dalam sebulan. Diharapkan ini bisa menjadi daya tarik pariwisata, sekaligus mendongkrak kunjungan dan wisatawan menginap di hotel tersebut.

Program ditindaklanjuti oleh Disbudpar dengan menjalin kerja sama Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), serta Komisi B dan D DPRD Kota Bandung yang terkait bidang pariwisata dan kebudayaan. Sebagai stimulus, Disbudpar akan melibatkan 70 hotel dan ratusan seniman dari 600 lingkung seni untuk menggelar pertunjukan seni budaya di hotel hingga akhir 2018.

“Kami berharap melalui program ini kunjungan wisatawan mancanegara ke Bandung bisa naik. Targetnya tahun ini bisa mencapai 1 juta wisman dari pencapaian tahun lalu 400.000 wisman,” papar Kenny.

Pertunjukan seni dan budaya juga akan digalakkan di tigabelas penyelenggara jasa wisata lainnya yang ada di Bandung dengan melibatkan para penggiat seni. Termasuk pula meningkatkan pertunjukkan lomba pasanggiri seperti jaipongan dan sinden, serta agenda kegiatan festival sepanjang 2018, seperti Festival Bandung Lautan Api (Maret), Festival Asian African Carnaval yang digelar sepanjang Jalan Asia Afrika dan diisi dengan berbagai pertunjukan seni (April). Kemudian, event Bukber on The Street pada Ramadhan (Mei), festival Angklung Music Performance (Juni), dan sejumlah pertunjukkan seni yang lain.

Di ranah kuliner dan perbelanjaan, tidak ketinggalan digelar ajang bazaar yang menghadirkan produk hadil karya usaha kecil menengah (UKM) serta fetival kuliner khas lokal yang diikuti para pengusaha kuliner UKM. Bazaar dikemas dalam event Bandung Great Sale yang menyuguhkan berbagai rangkaian acara dan diskon di semua merchant, mulai pedagang kaki lima, mall, hingga hotel. Penyelenggaaran bazaar ini mampu menyedot wisatawan sekaligus mendongkrak omzet para pedagang.

Tentu saja, strategi branding perlu dilakukan untuk mengedukasi potensi wisatanya agar makin dikenal sehingga pemkota membuat branding lewat slogan “Stunning Bandung” yang diluncurkan pada 2016. Menurut Ridwan Kamil, Bandung dikelilingi dataran tinggi atau pegunungan. Menyaksikan kota dari ketinggian sungguh indah. “Di Bandung, tidak ada pemandangan yang tidak bagus. Diambil dari sudut mana pun, pasti bagus. Makanya, digunakan stunning sebagai slogan,” paparnya.

Guna mendukung promosi wisata Bandung, pihaknya membentuk Badan Promosi Daerah Kota Bandung (Bandung Tourism Promotion Board) yang melibatkan para warga netizen untuk mempromosikan Bandung di sosial media Facebook, Twitter, Instagram, maupun Youtube. Termasuk promosi melalui website http://www.bandungtourism.com yang menyuguhkan berbagai informasi seputar agenda event wisata, hotel, resto, dan lokasi-lokasi wisata unggulan.

Di tingkat pemda, Disparbud Jawa Barat meluncurkan aplikasi Wonderful West Java Indonesia atau Wonder apps yang merupakan layanan e-magazine berisi informasi pariwisata dan kebudayaan yang ada di Jawa Barat. Di dalamnya menyajikan beragam fitur, mulai info kuliner, tempat wisata, hingga informasi jalur yang bisa ditempuh untuk dapat mencapai tempat wisata yang dituju. “Sekarang sudah tidak zamannya lagi pakai yang manual. Paling efektif kami harus memanfaatkan potensi digital agar jauh lebih mudah,” kata Kepala Bagian Bidang Promosi Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Jawa Barat, Iwan Darmawan.

Selain itu, pengguna smartphone berbasis OS Android dapat mengunduh beragam informasi seputar Bandung dari Google Play. Aplikasi tersebut diantaranya Hi Bandung (menyuguhkan info transportasi menuju lokasi wisata); Bandung 247 (tampilan kamera lalulintas yang membantu wisatawan menuju lokasi wisata atau membantu wisatawan menghindari kemacetan melalui jalan alternatif); Kuliner Urang Bandung (menyajikan resto atau tempat kuliner); dan Hotels in Bandung (informasi hotel).

Geliat sektor pariwisata berimbas terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), bahkan menjadi sektor utama pertumbuhan ekonomi. Menurut Walikota Ridwan, Bandung memiliki pertumbuhan ekonomi 7,6%, di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini lantaran sektor pariwisata Bandung sukses menggaet wisatawan yang ujung-ujungnya mendongkrak perumbuhan ekonomi Kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published.