Jurnalis VS Influencer, Bagaimana PR Harus Menyikapi?

"Most influencers aren't journalists, and not all journalists are influencers. But sometimes, their powers are combined in a super-influential hybrid who drives conversations," demikian pendapat Devon Wijesinghe, CEO of Insightpool, seperti yang dirilis di PRweek.com.

Pernyataan Devon sepertinya sangat tepat untuk era disrupsi yang berdampak pada industri media seperti sekarang. Jika dulu masyarakat hanya dipengaruhi oleh berita-berita yang disebarkan jurnalis lewat media mereka, maka saat ini dengan adanya digital, publik memiliki pilihan untuk memilih informasi yang ingin mereka peroleh atau percayai, baik dari jurnalis (media) atau influencer--seperti blogger, selebgram, selebtwit, dan youtubers. Dan, harus diakui bahwa teknologi digital telah memicu profesi influencer tumbuh subur.

Bahkan, seperti kutipan Devon di atas, ada juga jurnalis yang berprofesi ganda sebagai influencer atau meninggalkan profesi jurnalisnya untuk kemudian menjadi seorang influencer. Meskipun, kebanyakan media bukanlah influencer, serta tidak semua jurnalis adalah juga influencer. Akan tetapi, jika kekuatan keduanya digabungkan, maka akan mampu menciptakan percakapan yang sangat mempengaruhi publik.

Bagi perusahaan, terutama tim Public Relations (PR), termasuk agensi PR tentunya, fenomena itu harus disikapi dengan bijak. Saat ini, menurut Devon, ada perusahaan yang masih fokus pada bagaimana mempengaruhi jurnalis, namun ada juga perusahaan yang sudah mulai memanfaatkan para influencer.

Ditegaskan Devon, jurnalis atau wartawan masih memiliki kekuatan sekaligus paling kaliber untuk trust atau kebenaran informasi. Sebab, mereka bekerja untuk institusi yang menjaga dan mengawal betul standard tersebut. Bahkan, sebagian besar organisasi tersebut melarang wartawan mereka untuk menerima pembayaran dalam bentuk apapun.

Bagaimana dengan influencer? Dijawab Devon, influencer dapat memiliki efek yang sama dengan jurnalis, dengan syarat jika mereka tidak dibayar untuk setiap hal yang mereka posting. "Untuk mencapai tingkat pengaruh yang sama dengan jurnalis, influencer harus meyakinkan pengikut dan pembaca mereka bahwa mereka tidak dibayar," ucapnya.

Yang menarik yang juga harus dicermati PR adalah banyak juga jurnalis yang bermain di media sosial dan memiliki pengaruh yang kuat bak seorang influencer. Pengikut mereka di media sosial pun tak kalah banyaknya dari influencer. Tak heran, jika jurnalis tersebut terlihat berprofesi ganda, ya jurnalis, ya influencer. Devon pun mencontohkan seperti sosok Josh Marshall dari TalkingPointsMemo, Jamelle Bouie dari Slate, dan Cofounder Axios and Politico Mike Allen.

Bagaimana dengan Indonesia? Fenomena ini terjadi juga di Tanah Air. Dalam beberapa tahun belakangan, profesi influencer marak di Indonesia. Mereka (influencer--red) bisa berasal dari jurnalis ataupun non jurnalis. Tren influencer terlihat dari berbagai press conference atau acara-acara perusahaan yang juga dipadati para influencer, selain jurnalis dari aneka media tentunya.

Sejatinya, keduanya menjadi penting bagi merek atau perusahaan demi mempengaruhi publik. Jika jurnalis (media) memiliki kekuatan untuk menciptakan trust maupun kredibilitas merek atau perusahaan, maka influencer memiliki kekuatan untuk menciptakan viral atau word of mouth (WOM). Idealnya, keduanya harus dimanfaatkan bersamaan untuk dapat saling melengkapi.

Alih-alih tidak mampu menyikapi fenomena tersebut secara bijak, maka perusahaan justru akan menghadapi hubungan yang tidak baik dengan salah satunya. Efeknya, tentu tidak akan baik untuk perusahaan ke depannya. Contohnya, kasus yang baru saja terjadi antara produsen otomotif Daihatsu dengan Forum Wartawan Otomotif (Forwot).

Intinya, Forum Wartawan Otomotif merasa tersinggung karena Daihatsu lebih dahulu memberikan kesempatan untuk mengetes All New Daihatsu Terios kepada sejumlah Key Opinion Leader (KOL) alias influncer.

Seperti yang dikutip dari media online Autoblarr.com, Ketua Umum Forwot Indra Prabowo (mobil123.com) dan Sekjen Zainal mendatangi PT Astra Daihatsu Motor (ADM) –pemegang merek Daihatsu di Indonesia– untuk menyampaikan surat protes. Protes itu terkait fakta bahwa ADM telah menggelar acara test drive All New Daihatsu Terios bersama para youtuber dan aktivis media sosial lainnya, padahal ADM baru akan meluncurkan resmi Terios pada 23 November 2017. Sementara itu, para wartawan anggota Forwot tidak diikutsertakan dalam acara test drive tersebut, dan baru akan menyaksikan wujud All New Terios pada 23 November.

Langkah itu memang hak dan pilihan Daihatsu. Sayangnya, di pihak lain, yakni dari kacamata Forwot, memberi kesempatan test drive beberapa pekan lebih dulu kepada influencer adalah langkah yang kurang berkenan bagi Forwot. Persoalannya adalah ketidakseimbangan informasi. Influencer sudah mendapat hampir semua info yang dibutuhkan, sedangkan jurnalis Forwot yang terdiri dari wartawan cetak dan online, belum mendapat apa-apa. Daihatsu membuat Forwot seperti kelompok jurnalis yang ketinggalan info.

Belajar dari kasus Daihatsu, maka sudah seharusnya tim PR menggandeng keduanya dalam sebuah perencanaan strategi PR yang terintegrasi. Hal ini akan mengingatkan kita pada kekuatan Above the Line (ATL) seperti media cetak dan TV dengan Bellow the Line (BTL) berupa aktivasi merek di lapangan. Keduanya (ATL dan BTL) dapat saling melengkapi menjadi strategi branding yang efektif. Demikian juga jurnalis dan influencer, dapat menjadi strategi PR yang powerful sekaligus efektif, jika keduanya diintegrasikan dan dikolaborasikan dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)