Akibat Cacingan, Indonesia Rugi Rp33 Miliar

Data Bank Dunia pada tahun 2016 menyebutkan, Indonesia mengalami kerugian ekonomi sebesar Rp 30-33 miliar per tahun akibat penyakit cacing. Nilai kerugian berkorelasi dengan jumlah penderita. Makin banyak anak Indonesia menderita cacingan, semakin banyak kerugian yang ditanggung negara.

Sementara data di Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa prevalensi cacingan di Indonesia pada umumnya masih sangat tinggi, terutama pada golongan penduduk yang kurang mampu, dengan sanitasi yang buruk. Prevalensi cacingan bervariasi antara 2,5% - 62%.

Melihat fakta tersebut, PT Johnson & Johnson Indonesia selaku produsen produk Consumer, Medical Devices, Pharmaceutical dan Vision Care, berkomitmen mendukung upaya pemerintah dalam menekan tingkat infeksi cacingan. Melalui brand Combantrin, pihaknya gencar menggelar edukasi mengenai cacingan kepada masyarakat, terutama pada anak-anak.

Devy Yheanne, Country Leader of Communications & Public Affairs PT Johnson & Johnson Indonesia mengatakan, rendahnya tingkat kebersihan lingkungan dapat memicu tingkat prevalensi cacingan. Padahal, cacingan dapat menurunkan kualitas gizi, kecerdasan, dan bahkan produktifitas penderitanya.

Saat ini, masih banyak masyarakat di Indonesia yang belum menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan menganggap remeh penyakit cacingan.” terang Devy pada acara edukasi cacingan yang digelar di Jakarta, baru-baru ini.

Sementara Head of Medical Affairs PT Johnson & Johnson Indonesia Rospita Dian menjelaskan, PHBS untuk mencegah cacingan diantaranya dengan membiasakan cuci tangan dengan sabun, menggunakan air bersih untuk keperluan rumah tangga, menjaga kebersihan makanan, menciptakan lingkungan tempat tinggal yang bersih, serta minum obat cacing secara berkala untuk pencegahan, khususnya anak usia sekolah dan di bawah 5 tahun.

Cacingan dapat mempengaruhi asupan (intake), pencernaan (digestive), penyerapan (absorbsi), dan metabolisme makanan. Secara kumulatif, cacingan dapat menimbulkan kerugian terhadap kebutuhan zat gizi karena kurangnya kalori dan protein, serta kehilangan darah,” papar Dian.

Lebih jauh, Johnson & Johnson Indonesia aktif menggelar kampanye PHBS di Indoensia dan menjalin kerjasama untuk menyelenggarakan program edukasi lewat seminar. Kegiatan ini telah diselenggarakan beberapa tahun sebelumnya.

Tahun lalu misalnya, tepatnya tanggal 9 Juni 2016, pihaknya dan Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Pusat menandatangani perjanjian kerjasama dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai penyakit cacingan.

Kerjasama ini sekaligus menindaklanjuti pencanangan “Gerakan Waspada Cacingan” yang di prakarsainya sebagai salah satu program corporate social responsibility Johnson & Johnson Indonesia. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Aktivasi JNE Pecahkan Rekor MURI

Kegiatan aktivasi merek (brand activation) merupakan strategi efektif untuk mendongkrak brand awareness sekaligus mendekatkan brand dengan target konsumen. Hal ini...

Close