APC Paparkan 10 Inisiatif yang Perlu Diprioritaskan Pegiat Filantropi, Apa Saja?

Corporate Social Responsibility (CSR) menjadi salah satu program yang tengah marak dilakukan oleh berbagai perusahaan, instansi, maupun pegiat filantropi di Indonesia. Hanya saja, tak mudah bagi mereka untuk menggelar program CSR yang efektif yang memang dibutuhkan masyarakat.

Dan, pilar CSR yang acapkali diusung oleh perusahaan serta para pegiat filantropi di Tanah Air adalah pendidikan. Mengapa? Lantaran, sistem pendidikan di Indonesia tercatat yang terbesar ke empat di dunia, dengan lebih dari 50 jtua jiwa siswa, 2,6 juta pengajar, dan lebih dari 250 ribu sekolahyang tersebar di seluruh Nusantara.

Sejatinya, perbaikan dalam sistem pendidikan akan membantu mendorong pertumbuhan produktivitas tenaga kerja dan meningkatkan jumlah tenaga kerja siap pakai. Untuk itu, dikatakan Ketua Asia Philanthropy Circle (APC) Chapter Indonesia Victor Hartono memiliki komitmen untuk memperkuat sistem pendidikan di Indonesia.

Salah satu komitmen APC diwujudkan lewat peluncuran laporan Giving Guide, yang merupakan pandukan praktis bagi para filantropi. “Giving Guide tersebut berisi panduan bagi para pegiat filantropi yang ingin berkontribusi pada perbaikan dunia pendidikan di Indonesia. Giving Guide tersebut juga berisi empat bidang strategis dengan 10 inisiatif program yang dapat dilakukan para pegiat filantropi guna mempercepat dampak transformatif terhadap sistem pendidikan Indonesia,” paparnya pada saat peluncuran Giving Guide di Jakarta, hari ini (5/12).

Untuk menerbitkan Giving Guide tersebut, APC bekerja sama dengan konsultan strategis McKinsey dan penasehat strategis AlphaBeta guna melakukan riset mendalam yang melibatkan lebih dari 80 ahli dan organisasi, survei terhadap 49 organisasi filantropi, 1.000 siswa, dan 10 perusahaan.

"Kami berharap, panduan praktis ini dapat membantu semua pihak yang berkepentingan untuk memahami apa yang sedang dilakukan pegiat filantropi lainnya. Termasuk, memprioritaskan target mereka untuk memberikan dampak yang lebih besar bagi dunia pendidikan," tambah Victor yang juga President Director Djarum Foundation.

Sementara itu, President Director McKinsey Indonesia Phillia Wibowo menerangkan empat bidang yang direkomendasikan untuk menjadi fokus utama filantropi pendidikan di Indonesia. Keempat area tersebut adalah kualitas guru, kepemimpinan guru dan tata kelola sekolah, pendidikan kejuruan, serta pendidikan dan pengembangan anak usia dini.

Dari keempat area yang direkomendasikan itu, lanjut Phillia, ada beberapa inisiatif program CSR yang dapat diprioritaskan oleh para pegiat filantropi. Berikut ini adalah program-programnya.

#1 Kualitas Guru Para pegiat filantropi dapat menggelar program “Guru Juara” antara lain melalui kegiatan Indonesia Mengajar yang mendorong para sarjana berprestasi di Indoensia untuk mau mengajar. Program lainnya adalah #BerandaIlmuGuru yang merupakan inisiatif yang menggunakan teknologi untuk menciptakan beranda belajar interaktif dan kustom, guna memperkaya pelatihan bagi para pengajar. Program berikutnya yang dapat dipilih para pegiat filantropi adalah dengan menggiatkan forum mentoring guru. Program tersebut bertujuan memperkuat Kelompok Kerja Guru yang telah ada, menonjolkan keefektifannya, dan saling berbagi praktik baik.

#2 Kepemimpinan Guru dan Tata Kelola Sekolah Para pegiat filantropi dapat menggelar program “Sekolah Percontohan” yang berfokus pada perbaikan di seluruh ekosistem sekolah guna meningkatkan pencapaian, seperti pendekatan yang digunakan oleh program USAID PRIORITAS. Program lainnya adalah “Akademi Kepala Sekolah”, yang bertujuan untuk memperkuat pelatihan bagi para kepala sekolah dengan meluncurkan program pengembangan kepemimpinan yang berdasar pada praktik baik, seperti India School Leadership Institute. Program yang juga dapat dilakukan pada area ini adalah “Anugerah Pengajar Indonesia” yang berupa penghargaan bagi para pemimpin sekolah yang sukses, untuk kemudian dibentuk komunitas panutannya guna menstimulasi perbaikan di seluruh sektor pendidikan Indonesia.

#3 Pendidikan Kejuruan Pada area ini, ada dua program yang dapat dilakukan oleh para pegiat filantropi. Keduanya adalah program “Boot Camp Industri” (program pelatihan selama 2-3 bulan yang dibina dan dibimbing langsung oleh para pelaku industri) dan program “Industri Mengajar” (berupa program penempatan industri jangka pendek bagi para guru dan pengurus sekolah kejuruan dalam rangka memberikan pengalaman praktik, yang nantinya bisa disampaikan kembali kepada para siswa).

#4 Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD) Pada area ini, para pegiat filantropi dapat menggelar program “Super Kader” dan “Adopsi Desa”. Program “Super Kader” adalah inisiatif yang bertujuan untuk melatih para praktisi layanan kesehatan di Posyandu dengan cera memberikan penyuluhan tentang pentingnya pendidikan dan pengembangan PAUD dan keterampilan dasar kepada orangtua. Adapun program “Adopsi Desa” bertujuan untuk membangun kapabilitas orang-orang yang terlibat di dalam pengembangan PAUD, misalnya pelatihan bagi para pengasuh tentang kebutuhan nutrisi anak dan pelatihan guru PAUD tentang konsep pembelajaran.

Bellinda Tanoto, anggota APC yang juga Dewan Pembina Tanoto Foundation menambahkan bahwa kesamaan visi-misi serta kolaborasi yang kuat dari pihak-pihak yang berkepentingan memiliki peran penting dalam percepatan dampak terhadap pendidikan di Indonesia. "APC siap mendukung pegiat filantropi untuk berkumpul dan berbagi mengenai upaya-upaya apa saja yang terbaik yang dapat dilakukan bersama terkait perbaikan pendidikan di Indoensia," tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Indonesia Most Experiential Brand Activation 2017

Majalah MIX edisi November 2017 ini, kembali mengupas cover story bertajuk "Indonesia Most Experiential Brand Activation Award 2017". Tema tersebut...

Close