MENATA BIJAK PERAN GANDA PERUSAHAAN

Setiap perusahaan wajib memainkan peran ganda: menciptakan nilai ekonomi dan nilai sosial secara bersama-sama. Memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan ekonomi, sosial, dan lingkungan bukan pekerjaan sampingan, tapi harus embedded di dalam jantung strategi perusahaan. Caranya?

Buku lawas James Collins dan Jerry Poras: Built to Last, rupanya tetap kontekstual hingga sekarang. Buku itu menunjukkan perusahaan-perusahaan yang mampu bertahan dan sukses selama puluhan bahkan ratusan tahun seperti GE, IBM, Disney, Coca Cola, Merck, Boeing, dan lain-lain, ternyata pada umumnya tidak mempunyai motivasi utama meraup untung besar atau motivasi ekonomi yang membabi buta. Dari riset diketahui, perusahaan-perusahaan itu justru mengutamakan idiologi, filosofi/kultur dan visi yang berpihak kepada kehidupan sosial. Ternyata perusahaan yang menguntungkan bukan mereka yang menerapkan economic animal, melainkan justru perusahaan bersandar pada tujuan sosial dan kemasyarakatan.

Fakta tersebut harus disuarakan dengan keras. Kita sedang krisis kepedulian sosial,” ungkap Yuswohady, Direktur Inventure geram. Menurutnya, ketika persoalan ekonomi, sosial, dan lingkungan merajalela di masyarakat, maka bisnis tak bisa cuci tangan menganggap semua persoalan itu adalah tanggung jawab pemerintah atau LSM. “Bisnis haruslah menempatkannya di jantung operasinya: menjadi core activity-nya, bukan sekadar lipstik berkedok corporate responsibility,” tegasnya. “Bisnis harus menjadikan pemecahan persoalan ekonomi, sosial, dan lingkungan sebagai “reason for being” dari operasinya. Kalau bisnis tak mampu memberi solusi bagi masyarakat lingkungannya, maka tak selayaknya ia hidup,” lanjutnya lagi.

Creating Shared Value (CSV) yang diperkenalkan Michael Porter, menurut Yuswohady bisa menjadi solusi. Sebuah konsep yang mengharuskan perusahaan memainkan peran ganda menciptakan nilai ekonomi (economic value) dan nilai sosial (social value) secara bersama-sama (shared), tanpa salah satu diutamakan atau dikesampingkan. Memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan ekonomi, sosial, dan lingkungan bukanlah pekerjaan sampingan, tapi haruslah embedded di dalam jantung strategi perusahaan. Bukan sekedar lipstik.

Seperti yang dilakukan PT PT SHARP Electronics Indonesia, perusahaan ini mengembangkan "Kebun Gizi" . Program berbasis pemberdayaan masyarakat khususnya wanita, menurut Pandu Setio, PR, CSR & Promotions Manager, sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran mengkonsumsi sayuran di tengah masyarakat dengan memanfaatkan lahan pekarangan maupun media lainnya sebagai media tanam sayuran.

Bersama dengan organisasi nirlaba Rumah Zakat, PT Sharp Electronics Indonesia berusaha memenuhi standar gizi masyarakat dengan cara memberdayakan warga desa dengan memanfaatkan sumber daya alam atau potensi setempat untuk memenuhi kebutuhan sayuran dengan cara menanam sendiri. Dengan menggerakan ibu-ibu kader Posyandu, Sharp meng-edukasi para kaum wanita guna meningkatkan pengetahuan dan kecintaan ibu-ibu dalam hal bercocok tanam serta kebiasaan menyediakan sayuran kedalam menu makanan sehari-hari keluarga. “Melalui mereka, kami berharap informasi ini dapat menyebar tidak hanya di keluarga mereka namun keseluruh warga dusun,” jelas Pandu yang menambahkan lahan “Kebun Gizi” pinjam dari warga agar terbentuk rasa tanggung jawab dan engagement dari masyarakat akan program ini.

Apa relevansinya dengan visi dan misi perusahaan? Menurut Pandu, program “Kebun Gizi” bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi sayuran dengan menyediakan sarana dan prasana untuk bercocok tanam guna menghasilkan sayuran juga menciptakan lingkungan hijau disekitar rumah warga. “Sesuai dengan visi dan misi perusahaan, kami ingin meningkatkan perilaku lebih baik masyarakat terhadap lingkungannya,” jelas Pandu.

Tujuan meningkatkan perilaku masyarakat juga dilakukan Telkomsel. Lewat kegiatan “Internet BAIK”, Telkomsel mengembangkan program edukasi cyber wellness meliputi rangkaian aktivitas sosialisasi dan workshop mengenai pemanfaatan internet secara Bertanggung jawab, Aman, Inspiratif, dan Kreatif (BAIK). “Program ini ditujukan bagi segmen anak sekolah dasar mulai dari kelas 4 dan anak sekolah menengah pertama sebagai entry level pengguna internet, serta para orang tua dan guru yang berperan sebagai pengawas dan pendamping,” jelas Rifki Sya'bani – Manager CSR Environment & Ecosystem Telkomsel.

Jadi, melalui program Internet BAIK, Telkomsel berusaha menjadi navigasi bagi pengguna internet, khususnya di kalangan anak-anak dan remaja. “Karena kami melihat resiko negatif berinternet di kalangan anak-anak semakin tinggi,” kata Rifki menunjukkan contoh seperti cyber crime, pornografi, cyber bullying, dan konten negatif lain yang berdampak buruk bagi perkembangan karakter anak-anak.

Selama 2016, kampanye #internetBAIK sudah dilakukan di 12 kota di berbagai wilayah Indonesia. Diantaranya: Yogyakarta, Tenggarong, Nunukan, Tasikmalaya, Kupang, Medan, Pekanbaru, Palembang, Banyuwangi, Manokwari, Bantaeng, dan Bekasi. Dalam kampanye tersebut berhasil mengedukasi 914 siswa dan 2900 orang yang terdiri dari guru, orang tua, dan komunitas mahasiswa. Tahun 2017 dijalankan kembali ke wilayah perbatasan Kalimantan Utara, yaitu di Nunukan dan Sebatik. “Kami menggandeng Gerakan Indonesia Mengajar, yaitu gerakan sosial yang melibatkan Pengajar Muda untuk mencerdaskan masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia,” ungkap Rifki juga melibatkan ICT Watch, Yayasan Kita dan Buah Hati, serta Kakatu, sebuah aplikasi parental control karya anak bangsa.

Ditegaskan Rifki, intinya Telkomsel melakukan program Internet BAIK adalah membangun karakter. “Kami ingin kebiasaan berinternet dilakukan secara baik dan tepat, dan terutama sesuai dengan kepribadian bangsa,” tegas Rifki sejalan dengan visi perusahaan yaitu membangun ekosistem digital.

Yang menarik, totalitas dan keseriusan Sharp maupun Telkomsel dalam menempatkan upaya-upaya corporate responsibility sebagai bagian dari kebijakan stratejik perusahaan. CEO memegang kendali penuh, dan bahkan terlibat dalam aktivitasnya. Dikatakan Pandu, CEO SHARP bahkan ikut hadir dalam waktu-waktu tertentu guna bertemu dan berbincang langsung dengan para warga dan fasilitator dari rumah zakat untuk mengetahui kondisi di lapangan dan kendala yang ada. Juga, Dirut Telkomsel, Ririek Adriansyah, menjadikan kampanye “Internet BAIK” sebagai program masterpiece atau penyangga untuk semua program digital kampanye mereka. “Sebelum ada smart city, smart country, harus ada smart people dulu. Jadi, program ini sangat related dengan core business perusahaan,” tegas Rifki.

Agar perusahaan bijak menjalankan peran ganda, menurut Yuswohady, perusahaan harus bisa menemukan titik tengah dari tiga lingkaran. Program CSV harus menjawab tiga kepentingan, antara lain kepentingan bisnis, kepentingan stakeholder/pemerintah, serta kepentingan komunitas/ masyarakat.

CSV bukanlah CSR (corporate social responsibility), “ tegas Yuswohady. Praktek yang umum berlangsung hingga saat ini, CSR diarahkan untuk menciptakan citra dan reputasi perusahaan agar kinclong bersinar. Celakanya, banyak perusahaan-perusahaan yang sesungguhnya tidak kinclong dipoles sedemikian rupa hingga terlihat kinclong. Banyak perusahaan-perusahaan yang merusak lingkungan, merusak kesehatan masyarakat, atau menjadi biang persoalan sosial, menutupinya dengan kedok corporate responsibility, philantrophy, atau sustainability.

Sebaliknya,CSV dilaksanakan dengan niatan mulia untuk memecahkan persoalan-persoalan sosial yang selaras dengan upaya untuk menghasilkan profit. Kata Porter, “companies can create economic value by creating societal value”. Jadi penyelesaian persoalan sosial tidak ditempatkan sebagai aktivitas sampingan, tapi dilaksanakan sepenuh hati sebagai bagian dari misi dan eksistensi perusahaan.

Godo Tjahjono, PhD (Strategic Marketing & Humanistic Management Expert PhD in Consumer Behavior from Western Sydney University Australia menambahkan, konsep CSV maupun MCSI (Marketing & Corporate Social Initiative) seharusnya memang sudah diletakkan dalam jantung strategi perusahaan. Pasalnya, kini telah berkembang humanistic business dan juga social entrepreneurship. Artinya, CSV maupun MCSI harus sudah menyatu dalam DNA perusahaan. “Perusahaan harus menempatkan konsumen sebagai manusia yang memiliki harkat, bukan sekadar obyek pembeli. Harkat manusia terletak pada nilai-nilai seperti kejujuran, kesopanan, persahabatan, kepedulian, keluarga dsb jadi tidak mengarahkan manusia menjadi individualistis mau pun materialistis,” tegas Godo.

Jadi, CSV maupunMCSI yang ideal itu harus strategis dan memiliki dampak sosial yang menyelesaikan problem yang ada di masyarakat secara berkesimbungan. MCSI yang ideal harus merupakan refleksi dari visi perusahaan yang berwawasan kemanusiaan dengan upaya menciptakan masyarakat yang lebih berkeadilan dan lebih beradab, yang bisa diwujudkan dalam bentuk fasilitas publik, membangun kesadaran tentang nilai-nilai kebaikan, dan perusahaannya sendiri berkembang menjadi lebih sosial dan humanis, dengan kinerja keuangan yang baik dan wajar.

Untuk itu, Godo menyarankan, perusahaan atau pemilik merek harus bisa membentuk perusahaan atau manajemen yang lebih humanis, dan mau mewujudkan visi dalam framework sosial terkait dengan kinerja keuangan yang baik. Disinilah perlunya membuat rencana pemasaran atau penjualan yang mengarah pada the greater social good, sehingga tidak perlu lagi muncul dikotomi social budget atau commercial budget, karena rencana komersial juga memiliki muatan social,” sarannya.

Menurut Dr. M. Gunawan Alif - Vice Rector, Universitas Sampoerna & Chairman, sebenarnya beberapa perusahaan multinasional sudah menerapkannya dengan baik dan bisa dicontoh oleh perusahaan-perusahaan Indonesia. Seperti Unilever, misalnya, menetapkan Unilever Sustainable Living Plan (USLP) dengan tujuan antara lain mengurangi jejak lingkungan dari kegiatan bisnisnya hingga separuh, dan memasok 100 persen bahan mentah pertanian utk perusahaan dari sumber-sumber yang dikelola secara lestari.

Sebagai perusahaan bisnis yang memerlukan laba untuk terus berkembang, menurut Gunawan, Unilever secara strategik melibatkan petani kedele hitam dalam memastikan pasok kedele yang berkualitas, mendorong kebiasaan mencuci tangan untuk mencegah penyakit (Lifebuoy), atau mengajarkan untuk memelihara dan menggosok gigi (Pepsodent). “Dengan pendekatan semacam ini maka sesungguhnya telah berusaha mempertimbangkan bottom line secara lebih lengkap: People, Planet & Profit,” jelasnya.

Kuncinya, CSV maupun MCSI harus dipahami sebagai suatu keputusan stratejik baik di level pelaksana maupun di level top executive. Sehingga tantangannya adalah bagaimana memberikan wawasan pada manajemen atau mengubah sikap mental terhadap CSV maupun MCSI supaya konsep program tidak berdiri sendiri, tetapi menyatu sejak dari pembuatan produk baru hingga strategi pemasaran dan strategi penjualannya. “Kegiatan CSV maupun MCSI harus didekati secara stratejik, bukan dengan pendekatan karitatif. Dengan demikian, pengelolaan maupun penganggaran dapat dilakukan dengan measurement yang lebih baik,” tegas Godo Tjahjono. (Dyah Hasto Palupi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Kampanye “Trip of Wonder” untuk “Wonderful Indonesia”

Tantangan Bisnis Pemerintah menggandakan target kontribusi sektor Pariwisata dari 4% PDB (Produk Domestik Bruto) pada 2015 menjadi 8% pada 2019...

Close