Milo School Competition, Perjalanan Panjang Brand Competition Program

  Milo School Competition (MSC) merupakan bentuk komitmen Nestlé Milo dalam mendorong gaya hidup sehat dan aktif yang telah diikuti oleh lebih dari 31.000 siswa SD dan SMP di 27 kota dan 17 provinsi sejak 2002. Sejak awal Milo School Competition diposisikan sebagai ajang kompetisi bulu tangkis tingkat sekolah usia U-13 dan U-15 (antar SD dan SMP) tingkat nasional sebagai wadah pencarian bibit-bibit bulu tangkis berprestasi.   Penyelenggaraan MSC telah banyak melahirkan atlet muda berbakat yang berhasil lolos seleksi Pelatnas Cipayung dan menjadi atlet kebanggaan bangsa. Sebutlah nama-nama seperti Tommy Sugiarto di kategori putra yang saat ini berada pada peringkat pertama nasional dan Jonathan Christie di peringkat kedua nasional dan nama-nama lain seperti Anthony Sinisuka Ginting dan Hafiz Faisal. Sementara di kategori putri terdapat Aurum Octavia Winata, Jaudza Fadhila Sugiarto, Vehrenica Debora Rumate dan Richi Puspita Dili.   Inisiator program ini adalah legenda atlit bulu tangkis nasional, Minarni Sudarianto yang kemudia menggandeng Milo dan Yonex. Oleh karena itu pada tahun-tahun awal kompetisi ini bernama Milo Yonex Kompetisi Bulu Tangkis Antar Sekolah (MYKBAS). Tahun pertama kompetisi diadakan di 9 kota besar ( Jakarta, Medan, Bogor, Makasar, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Bandung dan Tangerang) serta diikuti 3.831 peserta.   Tahun kedua cakupan kota dan jumlah peserta menurun (5 kota, 2.010 peserta) . Namun begitu, kompetisi ini berhasil menjaring bibit unggul yaitu Tommy Sugiarto dari kategori tunggal putra, yang sekarang menjadi pemain nasional. Sampai 2010, peserta dan coverage kota penyelenggaraan kompetisi dibatasi pada kisaran tersebut. Namun karena keberhasilannya menjaring bibit-bibit bulutangkis berkualitas, pada tahun 2005 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan penghargaan kepada PT Nestle Indonesia atas kontribusi nyatanya dalam pembinaan prestasin dan perkembangan olah raga di Indonesia.   2007, MYKBAS diubah namanya menjadi Milo School Competition (MSC). 2008 program tersebut dimeriahkan dengan lomba liputan para jurnalis cilik dari berbagai majalah dinding sekolah. Komitmen Milo untuk membesarkan dan meningkatkan kualitas program MSC semakin terlihat ketika mereka melibatkan klub-klub bulu tangkis dalam talent scouting (pencarian bibit baru) pada 2009. Tahun itu MSC juga tercatat menjadi satu-satunya kompetisi bulu tangkit antar sekolah tingkat nasional karena 4 juara perorangan di setiap kota bertemu dalam grand final di Jakarta.   Tahun berikutnya, para pemenang dari berbagai kota penyelenggaraan mendapat pelatihan fisik langsung dari Bambang Supriyanti, atlet legendaris yang juga pelatih Pelatnas. Sementara juara MSC ditangani secara eksklusif dari Mulyo Handoyo di Taufik Hidayat (TH) Camp. Dengan pola yang sama, di tahun 2011 gemblengen fisik melibatkan Christian Hadinata melalui pelatihan eksklusif di TH Camp. Tak hanya itu, juara nasional MSC mendapat kehormatan untuk berlatih tanding dengan legenda-legenda bulu tangkis seperti Susi Susanti, Alan Budikusuma, Sarwendah dan Icuk Sugiarto. SIRNAS-MSC (8)   Dalam perjalanannya, Tommy kemudian dikukuhkan sebagai Duta Milo School Competition untuk mendampingi Taufik Hidayat pada tahun 2012. Tak sekadar diberi latihan fisik dari Ricky Soebagdja, Nestle mendatangkan Petar Gade, bintang bulu tangkis dunia dari Denmark untuk memberikan motivasi serta berbagi pengalaman dan berlatih tanding dengan juara MSC.   Sejarah MSC semakin bersinar ketika kompetisi ini resmi masuk dalam kalender PBSI sebagai satu-satunya kompetisi bulu tangkis antar sekolah pada 2014. Tahun itu juga Nestle meluncurkan program “Ayo Olahraga” dengan memberikan pelatihan teknik dasar bulu tangkis bagi 3.000 murid SD kelas 1-3,dan guru-guru olah raga di 4 kota MSC. Tak cukup di situ, MSC mulai menerapkan sistem poin ranking nasional di 2015 dan nama pemenangnya diabadikan di plakat yang diletakkan di kantor PBSI dan Nestle Milo.   “Melihat perjalanan MSC dari awal, saya senang kualitas kompetisi ini senantiasa meningkat setiap tahunnya. Setelah tahun lalu menerapkan poin ranking nasional, tahun ini MSC hadir dengan standar sirkuit nasional. Menurut saya, hal ini membuat MSC menjadi wadah yang semakin diperhitungkan dan diminati oleh bibit-bibit pebulu tangkis muda Indonesia untuk menunjukkan kemampuan mereka,” ungkap Ricky Soebagdja Kepala Sub Bidang Pelatnas PP PBSI Ricky Soebagdja   “Semoga SIRNAS-MILO School Competition dapat membantu pemerintah untuk melahirkan pebulu tangkis Indonesia yang berkualitas, menumbuhkan kecintaan anak-anak Indonesia terhadap olahraga terutama bulu tangkis, serta menanamkan nilai-nilai olahraga dalam kehidupan seperti pantang menyerah, sportivitas, kepercayaan diri dan kerja sama tim serta mental juara sebagai langkah awal juara sejati,” tutup Prawitya Soemadijo, Business Executive Manager Beverages PT Nestlé Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Read previous post:
Rebranding Milo School Competition

Masuk tahun ke-14, Milo School Competition (MSC) berubah namanya menjadi Sirnas-Milo School Competition. Rebranding ini terkait dengan naiknya program kompetisi...

Close