Enam Perusahaan Bangun Sistem Dropping Box Sampah Kemasan

Latar Belakang

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan, timbunan sampah di seluruh Indonesia pada 2017 mencapai 65,8 juta ton per tahun. Di Jakarta sendiri, menurut data tersebut, volume sampah mencapai 6.500-7.000 ton per hari. Angka tersebut terus meningkat seiring meningkatnya populasi penduduk dan kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Persoalan pengelolaan sampah juga masih menjadi tantangan besar. Riset terbaru dari Sustainable Waste Indonesia (SWI) 2018 mengungkapkan sebanyak 24% sampah di Indonesia masih tidak terkelola. Artinya, sekitar 15 juta ton sampah per tahun mengotori ekosistem dan lingkungan karena tidak ditangani. Data yang sama juga menunjukkan bahwa 69% sampah berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan baru 7% sampah berhasil didaur ulang.

Untuk menjawab tantangan tersebut, enam perusahaan besar di Indonesia bersinergi mencetuskan asosiasi independen yang disebut PRAISE (Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment/Asosiasi Untuk Kemasan & Daur Ulang Bagi Lingkungan Indonesia yang Berkelanjutan). Berdiri sejak 2010, PRAISEyang sebelumnya tergabung dalam Koalisi untuk Kemasan Berkelanjutan—tercetus atas inisiasi dari Coca-Cola, Indofood, Nestlé, Tetra Pak, Danone, dan Unilever Indonesia.

PRAISE diluncurkan untuk mencerminkan penekanan keenam perusahaan pendirinya terhadap pengelolaan sampah kemasan yang holistik, terintegrasi, dan berkelanjutan. Di Indonesia, setiap anggota PRAISE telah secara aktif memulai, mendukung, memfasilitasi, dan berinvestasi dalam berbagai program dan inisiatif yang bertujuan meminimalkan dampak sampah kemasan.

PRAISE memiliki empat pilar dalam mempertimbangkan keseluruhan siklus hidup kemasan, yaitu: Inovasi, dengan menerapkan teknologi dan proses inovatif sepanjang mata rantai kemasan; Pengumpulan, dengan membangun dan memperluas jaringan pengumpulan sampah kemasan; Pemilahan, dengan memperkuat infrastruktur untuk memilah sampah; dan Daur ulang, untuk mendukung teknologi daur ulang untuk menghasilkan produk daur ulang bernilai tambah.

Sinta Kaniawati, perwakilan PRAISE mengatakan, “Sejak awal, objektif utama PRAISE adalah untuk mengedukasi masyarakat bagaimana mengelola sampah yang benar dan bertanggung jawab. Perilaku memilah sampah pada masyarakat Indonesia masih rendah. Menurut data Badan Pusat Statistik 2014, tingkat perilaku memilah sampah di rumah tangga baru mencapai 18,84%. Oleh karena itu, selain menyikapi masalah sampah, kami juga terus berupaya mengubah persepsi dan kebiasaan masyarakat mengenai sampah.”

Konsep Program

Salah satu komitmen PRAISE tertuang pada program kerja nyata dalam pengembangan model kolaboratif sistem pengelolaan sampah, atau yang disebut dengan Extended Stakeholders Responsibility (ESR). Dalam eksekusinya, PRAISE menggandeng Waste4Change untuk menciptakan solusi Dropping Box sebagai sebuah inisiatif yang didesain untuk mendukung Indonesia mencapai implementasi dari ESR dalam pengelolaan sampah.

PRAISE dan Waste4Change menempatkan 100 drop box di Jakarta untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya pilah sampah dan mengajak peran serta aktif masyarakat. Tujuan dari inisiatif Dropping Box adalah meningkatkan kesadaran atas tanggung jawab semua pihak terhadap lingkungan, mengedukasi konsumen mengenai pemilahan sampah dan upaya daur ulang, serta memfasilitasi mitra lokal dalam mengumpulkan material sampah bernilai dan meningkatkan potensi daur ulang.

“Sebagai langkah awal, target kami tahun ini akan menempatkan 100 unit Dropping Box. Dan sampai saat ini, Dropping Box sudah ada di 14 titik di Jakarta, seperti di pertokoan, fasilitas publik, perkantoran, hingga institusi pendidikan. Untuk mendorong penyebaran, saat ini kami juga sedang negosiasi dengan Trans Jakarta dan Superindo untuk berkolaborasi penempatan Dropping BOX. Sampai akhir tahun, kami optimistis bisa menyebar 100 drop box di Jakarta sebagai langkah awal,” ungkap Mohamad Bijaksana Junerosano, Pendiri Waste4Change.

Eksekusi

Konsumen dapat langsung memilah dan membuang sampah kemasan berbasis kertas (kemasan karton, kertas dan kardus) dan non kertas (botol plastik, kaleng minuman, botol kaca, sachet dan kantong plastik) di Dropping Box terdekat. PRAISE dan Waste4Change memastikan bahwa seluruh proses pengumpulan, pengangkutan hingga pengelolaan sampah akan tetap terbagi sesuai dengan pemilahan sampah di Dropping Box.

Sampah kemasan yang terkumpul akan diangkut oleh mitra Waste4Change secara berkala dan disalurkan kepada sejumlah mitra Bank Sampah dari Dinas Lingkungan Hidup untuk disortir dan dipilah. Setelah pemilahan, kemasan yang dapat didaur ulang akan disalurkan ke pabrik daur ulang, sementara residu (bahan yang tidak dapat didaur ulang) akan diserahkan ke mitra pengolah dari Waste4Change sehingga sampah kemasan yang terkumpul tidak akan berakhir di landfill (TPS maupun TPA) untuk meringankan beban penumpukan sampah di kedua lokasi tersebut.

Menurut Sano, demikian pendiri Waste4Change ini biasa disapa, tugas Waste4Change adalah membangun sistem dan memastikan semua SOP (Standard Operating Procedure) berjalan dengan baik, termasuk berkomunikasi dengan publik tentang Dropping Box. “Kami mengedukasi masyarakat melalui infografis menarik yang tercantum pada desain Dropping Box maupun komunikasi berkelanjutan melalui social media ataupun channel komunikasi lain seperti Whats App Group, yang sejauh ini lebih efektif dan to the point,” imbuhnya.

‘‘Inisiatif Dropping Box telah mendapatkan dukungan penuh dari KLHK RI dan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta. Kami percaya solusi ini dapat menciptakan sebuah sistem pengelolaan sampah kemasan holistik yang berfokus pada pemilahan, pengangkutan, dan pengelolaan sampah dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat menuju pemulihan limbah produk kemasan yang berkelanjutan,“ pungkas Sinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)