Akankah Era Toko Fisik Berakhir?

 

Toko fisik saat ini menghadapi masa-masa sulit: penurunan daya beli, kemacetan, peraturan daerah, masalah parkir, persaingan dari internet dan posisi pemasok yang kuat. Pembelian melalui internet menjadi pengganti toko lokal yang memiliki jam buka yang kaku dan pilihan terbatas. Jadi masihkah ada masa depan bagi peritel tradisional?

Hari-hari ini, membeli barang melalui internet bisa dilakukan kapan saja, 24 jam sehari tujuh hari seminggu sementara toko fisik dibatasi jam bukanya. Fenomena ini yang membuat kebanyakan orang mungkin berpikir bahwa masuk ke toko online merupakan obat mujarab persoalan yang dihadapi peritel tradisional, tapi benarkah begitu?

Mungkin Anda juga mengetahui bahwa internet juga akan mengalami banyak perubahan. Lanskap untuk perdagangan makin luas dan beragam. Persaingan sesame online juga makin ketat. Banyak pengecer e-retail hilang atau akhirnya bertahan di pinggir arus utama. Hanya pemasok dan toko yang paling cerdik, yang bisa memanfaatkan peluang terbaik yang ditawarkan oleh Internet, bisa bertahan.

Ini adalah awal dari era perubahan besar di industri ritel. Dengan makin luasnya lanskap perdagangan formatnya tidak lagi hanya pada toko online, tetapi juga situs web, situs seluler, aplikasi seluler, dan media sosial. Implikasinya, persaingan dalam bisnis ritel esmakin ketat. Dengan semakin banyak persaingan yang muncul di semua sisi, pengecer perlu menggunakan setiap alat yang mereka miliki untuk menciptakan nilai dan mendapatkan keunggulan kompetitif.

Ada empat fenomena disrupter (pengganggu) di bisnis ritel. Pengganggu pertama, evolusi toko yang pada dasarnya juga evolusi model bisnis. Pengganggu kedua dan ketiga adalah jaringan sosial dan  teknologi. Yang keempat pergeseran demografis yang lebih bersifat sosio-ekonomi.

Sampai saat ini, toko fisik masih tetap menjadi titik sentuh ritel yang utama karena memiliki frekuensi tertinggi. Riset yang dilakukan PWC tahun 2015 lalu menunjukkan lebih dari satu dari tiga (36%) sampel global mereka pergi ke toko fisik setidaknya setiap minggu. Persentase itu berbeda secara signifian dengan persentase yang berbelanja secara online mingguan mingguan via PC (20%), online via tablet (10%), dan online via ponsel (11%). Bahkan untuk kategori  tertentu, dimana konsumen secara dominan membeli secara online (misalnya, barang elektronik konsumen, buku), beberapa konsumen memang masih melakukan penelitian melalui online, namun untuk barang elektronik sekitar 25 % membeli di toko dan 13% untuk buku.

Narasumber yang dihubungi Mix juga mengatakan bahwa meski belanja online marak, namun jumlah pengunjung di mall Central Park dan Neo Soho Jakarta tetap stabil, tidak ada penurunan yang signifikan,” kata Manager Marketing Communication Central Park-Neo Soho Welly Adi. Rata-rata jumlah pengunjung 120 ribu per hari, dan meningkat jadi 135-145 ribu pada weekend. Bahkan, pada Natal dan Tahun Baru lalu, jumlah pengunjungnya melonjak sampai dua kali lipat lebih. Selama 2017, jumlah pengunjung mal mencapai lebih dari 52 juta orang dan diprediksi akan meningkat lagi pada  tahun ini.

Mal-mal mungkin masih ramai. Yang jadi pertanyaan apakah keramaian itu berbanding lurus dengan tingkat penjualan gerai-gerai yang ada di dalamnya? Selain tingkat promosi yang tinggi meskipun posisi inventarisnya lebih rendah, dalam beberapa tahun terakhir terakhir ada ekspansi yang luar biasa belanja mobile dan pergeseran penjualan ke e-commerce. Dengan kata lain, toko fisik kini tersaingi oleh toko online.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)