Bahayakah Posting Politik di Media Sosial ?

Media sosial memang menawarkan ruang kebebasan yang sangat leluasa bagi penggunanya, termasuk para profesional maupun pemasar. Akibatnya, tak sedikit pengguna media sosial sangat giat dan massif dalam mengemukakan pendapat mereka. Salah satunya, opini mereka tentang politik.

Pada dinding akun Facebook atau Twittter misalnya, mereka tak sungkan untuk men-share aneka artikel, video, maupun meme politik. Bahayanya, tak sedikit konten politik yang mereka share bersifat menjatuhkan, menyerang, bahkan mengejek, yang kemudian berujung saling bully.

Mike Allton dalam www.marketingprofs.com membagi posting politik menjadi dua, yakni Implicit Political Post dan Explicit Political Post. Implicit Political Post adalah ketika pengguna berbagi link artikel politik yang sifatnya sederhana di akun media sosial seperti Facebook atau Twitter, kemudian menambahkan sedikit komentar mereka sendiri di sana. Pada konteks tersebut, ada kesan yang berbeda antara mereka yang mem-posting link politik dengan komentar dibandingkan mereka yang memposting tanpa komentar. Jika pengguna memilih men-share link politik dengan menambahkan komentar, maka hal itu telah menegaskan bahwa si pemilik akun sudah masuk ke ranah wacana politik.

Sementara itu, menurut Mike, Explicit Political Post adalah ketika pengguna dengan secara kentara mem-posting atau membagi artikel, video, gambar atau meme yang sifatnya mengejek atau menyerang salah satu pihak. Bahkan, tak segan-segan, artikel yang diposting sifatnya membandingkan ekstrim kiri dengan ekstrim kanan atau menampilkan hal-hal yang kontroversial demi menjatuhkan pihak lain. Jika pengguna sudah melakukan tindakan demikian, maka ia sudah secara tegas menampilkan haluan politiknya.

Pertanyaannya, apakah profesional perlu berbagi posting politik di media sosial? Mike menjawab bahwa jika profesional merasa perlu memposting hal-hal terkait politik, maka langkah yang harus dilakukan sebelum mem-posting adalah alasan mereka memilih mem-posting-nya. Apa yang ingin dicapai atau diharapkan profesional dengan berbagi postingan politik? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seharus dijawab terlebih dahulu oleh profesional ketika akan mem-posting artikel, video, atau meme politik.

Mike mengingatkan, setiap kali profesional berbagi sesuatu—termasuk isu politk—di media sosial, maka ia dengan sendirinya telah membuat kesan atau persepsi kepada mereka yang melihatnya. Kadang-kadang, profesional berpikir bahwa posting politik mereka berdampak minimal pada image personal. Padahal, berbagi posting politik dapat berakibat fatal. Mulai dari renggangnya hubungan di jejaring pertemanan—seperti saling unfriend—hingga konsekuensi dipecat dari pekerjaan.

Memang hak seseorang untuk bebas berpendapat di media sosial. Sehingga, mereka dapat dengan bebas berkomentar dan mem-posting apa saja di akun media sosial mereka. Namun, hal itu tidak berlaku bagi para profesional. Ia mencontohkan bagaimana bisnis atau perusahaan dapat membuat kebijakan media sosial untuk para karyawannya.

Sebuah artikel yang menampilkan pernyataan dari American Bar Association menyebutkan bahwa “American employees' free speech rights may be more accurately summarized by this paraphrase of a 1891 statement by Oliver Wendell Holmes, Jr.: "An employee may have a constitutional right to talk politics, but he has no constitutional right to be employed." In other words: to keep your job, you often can't say what you like.”

Artinya, karyawan mungkin memiliki hak konstitusional untuk bicara politik, tetapi ia tidak memiliki konstitusi hak untuk dipekerjakan. Dengan kata lain, untuk tetap mempertahankan pekerjaan atau profesi Anda, maka Anda tidak bisa dengan seenaknya mem-posting hal apa saja yang Anda suka, termasuk berbagi atau mem-posting isu politik.

Cukup dimaklumi jika perusahaan menetapkan kebijakan seperti itu. Mengingat, karyawan adalah juga brand ambassador yang mewakili wajah perusahaan atau merek. Artinya, isu politik yang karyawan atau para profesional posting di akun media sosial pribadinya akan juga mempengaruhi reputasi maupun citra perusahaan.

Menurut Mike, tidak ada yang pribadi tentang media sosial, terutama jika Anda sengaja memilih untuk berbagi posting—termasuk posting politik—secara publik. Ia pun mengingatkan bahwa posting yang sifatnya hipersensitif akan melahirkan reaksi yang berlebihan dari yang melihatnya, yang berbuntut pada konsekuensi negatif bagi profesional yang mem-posting-nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Gelar Kampanye #BERANIBERSIHINMULUT, Listerin Bidik Segmen ‘Fresh Go Getter Moms’

Walaupun penetrasi obat kumur di pasar Indonesia masih relatif rendah dibandingkan pasta gigi, namun tahapan yang menarik dapat dilihat saat...

Close