Jangan Sampai Ketahuan, Ini Adalah Iklan

 

Menonton video online bukan lagi masa depan – namun hari ini. Di Inggris dan Amerika, 32% pemirsa video digital menonton lebih dari 4 jam video digital setiap minggu. Tidak mengherankan bila video tersebut telah menjadi salah satu cara paling efektif bagi merek untuk terlibat dengan pelanggan mereka. Kabar baiknya bagi pemasar adalah konsumen menjadi lebih nyaman dengan menonton konten video yang bila dicermati lebih jauh adalah iklan.

Minggu, 14 Oktober, skydiver Austria Felix Baumgartner dan rekan-rekannya anggota tim dari Red Bull Stratos Project mencatat sejarah sebagai pemecah rekor mengalahkan kecepatan suara. Felix berhasil turun  dari ketinggian 128.000 kaki dalam balon stratoshperic dan membuat lompatan terjun bebas yang menakjubkan dengan kecepatan 1.342 km / jam. Ini membuatnya menjadi orang pertama yang memecahkan rekor melampui kecepatan suara di musim gugur sebelum terjun payung ke tanah.

Misi tersebut diklaim sebagai kegiatan ilmiah yang menyediakan data penelitian medis dan ilmiah yang berharga untuk pelopor ruang masa depan. Red Bull bersikeras 'misi ke tepi ruang' bukanlah kampanye periklanan tapi sebagai 'misi ilmiah'. Namun apapun klaimnya, dalam enam bulan setelah “iklan yang bukan iklan” beredar tersebut, penjualan Red Bull naik 7% menjadi US $ 1,6 miliar.

Studi terbaru menemukan bahwa hampir 40% orang dewasa di AS menonton konten video merek minimal seminggu sekali. Terlebih lagi, pemirsa juga tidak membedakan antara video sponsor dan konten editorial. Namun kondisinya video tersebut harus benar-benar penting dan menentukan apakah mereka menonton atau tidak. Survei di Inggris menunjukkan pola yang sama, dengan 47% konsumen menonton video merek di media sosial, dan 43% bahkan melakukan pembelian setelah menonton iklan video sebuah merek.

Yang penting adalah menciptakan konten video sebuah merek yang menceritakan kisah yang relevan dan terhubung dengan orang karena mereka benar-benar senang menontonnya. Beberapa waktu lalu, Red Bull meluncurkan kampanye Stratos. Kampanye ini dianggap sebagai contoh sempurna dari periklanan dan pemasaran partisipatif. Tujuan dari kampanye ini adalah membiarkan manusia pertama memecahkan rintangan suara tanpa tenaga mesin.

Baumgartner mencoba sesuatu yang tidak mungkin orang lain tidak bayangkan, yakni menyelam di luar angkasa (skydive) dengan kecepatan lebih tinggi dari pada kecepatan suara. Mengenakan sesuatu yang tampak seperti paket baterai dari film sci-fi tahun 1950-an, jutaan orang menonton saat orang Austria ini melompat dari semak-semak ruang yang di kelilingi kegelapan untuk mendarat dengan aman di lapangan yang diterangi sinar matahari seluas 128.000 kaki di bawahnya.

Kesuksesan dia menempuh jarak dengan kecepatan 844 mil per jam seakan menggambarkan kemenangan teknologi dan ketidakberdayaan seseorang yang sejak puluhan tahun lalu menjadi pembicaraan dunia. Ini merupakan versi baru baru kejayaan teknologi seperti yang digambarkan oleh  Neil Armstrong yang berjalan di bulan.

Baumgartner dikenal sebagai penerjun bebas yang sangat berani. Semasih kanak-kanak, dia selalu bermimpi terbang dan terjun payung. Pada tahun 1999, dia memecahkan rekor dunia untuk terjun parasut tertinggi dari sebuah bangunan saat dia melompat dari Menara Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia.  Pada tanggal 20 Juli 2003, Baumgartner menjadi orang pertama yang terjun payung melintasi Selat Inggris dengan menggunakan sayap serat karbon khusus. Alban Geissler, yang mengembangkan sayap serat karbon SKYRAY dengan Christoph Aarns, mengatakan bahwa Baumgartner menggunakan  salinan dua sayap prototipe SKYRAY yang dijual ke Red Bull (sponsor Baumgartner) dua tahun sebelumnya.

Usaha yang sangat berisiko ini bukanlah misi NASA atau percobaan fisika dari Carnegie Mellon. Itu adalah peristiwa ekstrem yang disebut Stratos yang dikembangkan dan dibiayai oleh Red Bull, produsen minuman energi yang populer di kalangan remaja, dewasa muda, dan mahasiswa. Dipasarkan dengan tagline "Red Bull gives you wings," produk ini seakan mengkomunikasikan bahwa mereka adalah ujung tombak budaya pop. Seperti yang ditunjukkan dalam video yang disebarkannya, Red Bull mempertunjukkan sesuatu yang tidak biasa.

Sisi komersialnya ditunjukkan dengan adanya logo pada kapsul roket, setelan baju astronaut yang dikenakan Baumgartner, pada kaos orang-orang yang menonton di keramaian di bawah, dan seterusnya. Kamera tidak pernah berhenti pada simbol-simbol ini dan perhatian pemirsa adalah pada pencapaian fantastis yang akan terjadi. Jadi kecuali Anda memang tidak ingin bermaksud mencarinya, logo tadi  mudah dilewatkan.

Buku Black Ops Advertising ini menarik karena banyak ilustrasi contoh-contoh bagaimana perusahaan atau merek perlu mentransformasi dirinya ke dalam digital.  Black Ops Advertising membedah "konten disponsori" yang kini berkembang kian cepat. Merek-merek tersebut menjalankan sebuah strategi di mana pengiklan telah menjadi penerbit dan penerbit membuat iklan. Semua itu, dialakukan dengan kedok informasi yang bias.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)