Lima Alasan Mengapa Sharing Economy Bakal Booming

sharing economy ok

Sharing economy diprediksi akan makin berkembang pesat serta menjadi model bisnis yang sangat menjanjikan ke depannya. Pertumbuhan sharing economy diprediksi akan menjadi dua kali lipat dalam 12 bulan ke depan. Mau bukti? Sekarang, hampir seperempat dari penduduk Amerika, Inggris, dan Kanada, seperti yang dilkutip dari Forbes, terlibat dalam berbagai bentuk sharing economy. Mulai dari model bisnis sharing economi Airbnb, JustPark, Rent The Runway, RelayRides, atau Yerdle.

Istimewanya, sampai saat ini model bisnis sharing economy telah mampu menciptakan 17 perusahaan dengan pendapatan lebih dari satu miliar dolar. Itu sebabnya, ke depan, sharing economy akan menjadi lokomotif ekonomi sekaligus menjadi favorit para pemasar di seluruh dunia.

Bagaimana dengan Indonesia? Meski belum sebesar pasar Eropa dan Amerika, model bisnis sharing economy sudah mulai bertumbuh dalam setahun terakhir ini. Tengok saja, bagaimana GO-JEK, Uber, GrabTaksi, GrabBike, SribuLancer, dan yang lainnya mulai diminati masyarakat Indonesia.

Berikut ini lima alasan yang dikemukakan Steven Ufford, seperti yang dikutip dari Forbes Online, mengapa sharing economy akan mejadi model bisnis terbesar di dunia.

1. Pemain Terbesar di Sharing Economy Adalah Para Visioner

Sebagai seorang yagn visioner, maka para pengusaha yang bergerak di model bisnis sharing economy bersedia dan mampu membelanjakan semua uang yang dibutuhkan untuk membuat kampanye pemasaran yang orisinil, menarik, dan akan menjadi terobosan baru. Di Indonesia, contoh nyata dapat dilihat dari sepak terjang Nadiem Makarim, lulusan Harvard Business School yang mampu menciptakan aplikasi GO-JEK.

2. Munculnya Para Micro-Entrepreneur

Dalam buku “The Business of Sharing” yang ditulis Alex Stephany, CEO JustPark, dikatakan bahwa ada jutaan pengusaha mikro baru yang dimobilisasi oleh sharing economy saat ini. Masing-masing dari mereka adalah para pebisnis start-up. Caranya, para start-up itu mencoba menemukan cara untuk menjangkau publik, untuk selanjutnya melancarkan strategi “network effect”. Terbukti, saat ini para pemain dengan model bisnis sharing economy di Indonesia adalah para start-up. Contohnya, GO-JEK, Tiket.com, dan Sribulancer.

3. Generasi Millenial Penggerak Utama Sharing Economy

Generasi millenial berada di garis depan di gerakan sharing economy. Itu sebabnya, generasi millenial menjadi pendorong atau pemicu utama dari model bisnis sharing economy. Mereka juga yang membantu menciptakan sekaligus menumbuhkan trust di masyarakat tentang sharing economy lewat berbagai ulasan online.

4. Sharing Economy dan Barter Economy akan Segera Menyatu Baik sharing economy maupun barter economy memiliki kesamaan model saat ini. Namun, barter economy memiliki sejarah yang lebih panjang, sejak pertama kali diperkenalkan oleh World Wide Web pada 25 tahun yang lalu. Blogger keuangan Ben Schiller menuliskan bahwa barter economy sangat bergantung pada kampanye iklan media sosial. Sampai-sampai, perusahaan seperti TradeYa menghabiskan hampir seperempat dari keuntungan tahunan mereka untuk kampanye pemasaran.

5. Generasi Baby Boomers Sulit Didekati, Namun Bisa Merasakan Manfaat Sharing Economy

Generasi Baby Boomers tidak akan mudah menerima atau memahami sesuatu yang baru. Mereka perlu “dilunakkan” atau didekati oleh sejumlah kampanye pemasaran besar, sebelum akhirnya mereka mulai berpartisipasi dalam model bisnis sharing economy. Kata profesor pemasaran Dave Weineke dari Northeastern University, sharing economy seperti perangkat teknologi terbaru untuk orang-orang di atas usia lima puluh tahun. Sebab, teknologi akan membuat mereka sulit . Namun, mereka dapat merasakan bahwa teknologi akan sangat menguntungkan mereka. Untuk itu, mereka siap untuk belajar tentang teknologi dari berbagai sumber konten pemasaran yang berkualitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)