Marketing in the Moment

 

Kini makin banyak pengelola merek yang memanfaatkan aplikasi mobil untuk berteraksi dengan pelanggan dan calon pelangannya. Perusahaan kini tertantang untuk menargetkan orang-orang atau pelanggan mereka berdasarkan apa yang mereka lakukan pada perangkat mobile mereka pada waktu dan kesempatan tertentu.

Alba Moslem Fashion Collection adalah usaha dagang yang bergerak dalam bidang fashion and design busana muslim. Usaha ini dikembangkan oleh seorang karyawati yang berhijrah menjadi seorang pebisnis. Butik yang beroperasi sejak 2013, membuat busana muslim mulai dari design dan proses penjahitan dilakukan dengan menggunakan alat – alat canggih dan sehingga memberikan hasil yang sempurna, menarik dan rapi. Selain itu, Butik Alba Moslem Fashion Collection juga bekerjasama dengan penjahit handal dan berkelaborasi dengan beberapa designer.

Butik Alba Moslem Fashion Collection hadir dalam bentuk yang berbeda, selain memiliki butik dan booth yang bisa secara langsung dikunjungi oleh para pembeli. Kini Butik Alba Moslem Fashion Collection dengan website dan aplikasi yang bisa di download oleh semua handphone android dan ios. Karena itu pelanggannya bisa berkreasi dalam menentukan pilihan baju muslim yang mereka gunakan sesuai dengan selera dan kebutuhan bentuk tubuh, umur, waktu dan moment busana tersebut digunakan.

Para pembeli juga bisa belajar bagaimana menggunakan busana muslim yang baik, cara mempadu padankan warna serta bagaimana menggunkan hijab sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. Sehingga khalayak sasaran akan merasakan kualitas pelayanan dan hasil yang terbaik dari Butik Alba Moslem Fashion Collection.

Saat ini, sebagian besar konsumen berjalan-jalan ke toko dengan smartphone di tangan. Karena itu,  menawarkan pengalaman menarik dan relevan saat mereka memasuki -- atau bahkan sebelum mereka menginjakkan kaki di toko - dapat mengubah belanja tradisional menjadi pengalaman berharga dan personal. Alat-alat seperti aplikasi pemasaran melalui push pemberitahuan dan pesan SMS menawarkan kepada merek kemampuan unik untuk menjangkau pengguna dalam ruangan.

Taktik otomatisasi pemasaran berbasis lokasi seperti geo-fencing dan geo-conquesting memberikan merek kesempatan untuk mencegah pembeli dari pesaing dan mendorong mereka ke toko-toko mereka sendiri. Sebagai contoh, jika seorang pembelanja dekat toko pesaing, mengirimkan diskon eksklusif melalui SMS untuk memikat mereka dapat meningkatkan peluang mereka untuk masuk ke toko Anda.  Jika pengelola toko menyapa mereka dengan menyebut nama mereka, peluang untuk mengubah perjalanan biasa ke sesuatu yang sifatnya khusus menjadi lebih besar.

Perusahaan tertantang untuk menargetkan orang-orang atau pelanggan mereka berdasarkan apa yang mereka lakukan pada perangkat mobile mereka pada waktu dan kesempatan tertentu. Tahun ini, banyak merek yang menerapkan teknologi lokasi seperti GPS Wi-Fi sebagainya. Teknologi memberikan kemampuan merek mengumpulkan data pengguna kontekstual yang memungkinkan pengelola merek menentukan dan melibatkan penonton tepat sebelum, selama dan setelah mereka berjalan ke toko.

Perkembangan teknologi informasi telah mempengaruhi perilaku konsumen dalam industri ritel. Belanja online telah memberikan alternative saluran belanja kepada konsumen dengan cara yang berbeda, semakin cepat dan tidak menghabiskan waktu atau bebas hampabatan kemacetan dan sebagainya.  Pelanggan dapat beralih dari satu saluran ke saluran yang lain berdasarkan manfaat belanja yang mereka butuhkan.

Kini produsen, retailer, dan penyedia jasa menyediakan dua saluran ritel online utama, yakni situs pengecer dan aplikasi mobile. Aplikasi mobile adalah saluran baru yang tersedia untuk pelanggan. Pertumbuhan fenomenal pelanggan smartphone yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir membuat aplikasi mobile semakin popular. Aplikasi di smartphone mendukung e-commerce. Mobilitas, fleksibilitas, dan penyebarannya merupakan sebagian dari banyak keuntungan aplikasi mobile bagi pelanggan.

Perangkat mobile ini juga memungkinkan pengecer memasuki lingkungan pelanggan, di mana saja, kapan saja. Pengecer dapat menggunakan saluran mobile untuk mendorong promosi penjualan ke konsumen dan mengaksesnya secara langsung. Dengan mengadopsi perangkat mobile, konsumen dan pengecer dapat menangani transaksinya secara lebih efisien, mengurangi dispersi harga, dan meningkatkan efisiensi pasokan.

Aplikasi mobile menawarkan pengecer saluran distribusi baru. Karena beberapa fungsi tambahan, aplikasi mobile memberikan manfaat yang unik dibandingkan dengan website dalam menciptakan nilai tambah untuk pelanggan. Nilai digambarkan sebagai evaluasi keseluruhan oleh konsumen atas utilitas suatu produk (atau jasa) berdasarkan persepsi terhadap yang diterima dan apa yang diberikan.

Tantangan terbesar yang dihadapi pemasar saat ini adalah menciptakan pengalaman saat ini secara konsisten. Perkembangan ritel online dan saluran belanja alternative menantang pengecer untuk terus memberi perhatian secara khusus agar bagaimana caranya mereka dapat memotivasi pelanggan menggunakan saluran online baru. Salah satunya adalah dengan menciptakan layanan channel yang dapat mencegah pelanggan beralih ke pesaing.

Survei yang dilakukan Google bekerja sama dengan TNS, perusahaan konsultan riset pemasaran, terhadap 1.036 pengguna ponsel pintar di Indonesia memberikan gambaran bahwa rata-rata pengguna mengakses internet di telepon seluler pintar sekitar dua jam per hari. Selama kurun waktu tersebut, jenis fitur yang kerap dibuka oleh pemilik ponsel pintar adalah mesin pencari dan aplikasi layanan digital tertentu.

Pemakaian aplikasi semakin diminati pengguna perangkat bergerak. Meski masih didominasi buatan asing, upaya mengakomodasi pengembang aplikasi lokal kian bertambah. Survei lain yang dilakukan GfK—lembaga riset pasar global— di Jakarta, Bandung, Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi, Semarang, dan Surabaya pada Oktober-November 2015, menunjukkan penetrasi pemakaian aplikasi mencapai 97 persen dibandingkan dengan mesin penelusuran yang hanya 76 persen di kalangan pengguna perangkat bergerak. Pengguna biasanya meluangkan waktu rata-rata 60 menit per hari untuk memakai aplikasi.

Perilaku tersebut, lanjut dia, memberi peluang bagi pelaku industri perdagangan secara elektronik atau e-dagang. Kondisi itu sejalan dengan peningkatan penetrasi ponsel pintar dari tahun ke tahun,” ujar Country Industry Head Google Incorporation Henky Prihatna dalam diskusi hasil survei ”Shopping in Indonesia Insights 2016”, Kamis (17/11), di Jakarta.

Sebanyak 14 persen dari total penduduk Indonesia memiliki ponsel pintar tahun 2013. Setahun kemudian, penetrasinya meningkat menjadi 28 persen. Adapun pada 2015, penetrasi sudah mencapai 43 persen dari total populasi. Henky menyebutkan, jumlah warga yang mempunyai ponsel pintar diperkirakan lebih banyak dari tahun sebelumnya.

Hasil survei menyebutkan, 92 persen dari responden lebih menyukai membeli barang dari perusahaan yang sudah mengembangkan laman dengan kemampuan khusus ponsel pintar (mobile site) ataupun aplikasi. Sekitar 59 persen dari total responden mengakses fitur mobile site dan aplikasi beberapa perusahaan e-dagang agar bisa membandingkan harga produk yang diinginkan. ”Keberadaan fitur mesin pencari tidak lagi hanya digunakan mencari data, tetapi juga informasi agenda diskon belanja daring,” ujar Henky.

Selama ini, banyak perusahaan yang menerapkan pemasaran lewat mobile sebagai jalur trial untuk mempelajari pasar dan testing keefektivitasannya. Sementara pemasaran iklan lewat jalur konvensional, seperti televisi, radio, billboard, media cetak, dan media online cenderung masih jadi andalan. Ini memberikan gambaran bahwa iklan mobile bukanlah kompetitor bagi iklan konvensional. Iklan mobile adalah pelengkap yang sudah ada. Ada tambahan channel marketing yang tingkat efektivitasnya bisa terukur dengan tepat.

Penerapan mobile marketing di lingkup Asia Pacifik saat ini diperkirakan baru  7%-10% dari total bujet iklan. Di Indonesia, beberapa perusahaan menerapkan mobile marketing untuk kegiatan pemasaran dan diperkirakan akan mengalami lonjakan pada tahun 2018 dimana perusahaan bakal menambah budget untuk mobile marketing menjadi 20 persen dari total belanja iklannya. Ini berarti peluang sekaligus tantangan bagi pemasar, apakah mereka ikut menerapkan pekasaran dengan aplikasi mobile atau tergilas oleh pesaing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)