Media Cetak di Era Disruption

Key Performance Indicator media cetak pada era ini bukan cuma ditentukan oleh kualitas produk jurnalistiknya, melainkan juga diukur secara presisi jumlah user, jumlah share, hingga berapa traffic yang berhasil di-generate oleh setiap tulisan. Manajemen Tempo boleh berlega hati, target go digital mereka sudah menemukan titik cerah. Yup, awal 2017 ini mereka baru saja mendapat suntikan modal untuk mendukung proses transformasi menuju industri digital. Maklum saja, go digital membutuhkan modal untuk membangun infrastruktur yang tidak sedikit. Melalui pintu investasi ini, Tempo.co dipersiapkan sebagai portal untuk pintu masuk semua channel, baik majalah, koran mau pun online. Saat ini Tempo sudah mempunyai tiga format digital: apps, replika (pdf) dan webbase majalah Tempo.co. “Ini strategi yang sudah direncanakan lama. Bagian dari how to survive kami di era disruptive,” papar Wahyu Dhyatmika, Redaktur Eksekutif Majalah Tempo tanpa menjelaskan besaran investasi yang baru mereka terima, serta sumbernya. Maklum saja, Key Performance Indicator (KPI) bagi media pada era ini bukan cuma ditentukan oleh kualitas produk jurnalistiknya, namun juga ukuran presisi tentang jumlah user, jumlah share, hingga berapa traffic yang berhasil di-generate oleh setiap tulisan. Untuk mengukur indikator-indikator tersebut tentu dibutuhkan kelengkapan perangkat lunak yang tidak sedikit biayanya. Keputusan go digital otomatis juga menambah fungsi-fungsi baru yang sebelumnya tidak ada dalam media konvensional. Selain membutuhkan programer lebih banyak, muncul berbagai fungsi yang sebelumnya tidak ada di media cetak seperti webdesainer, front ad specialist, lebih banyak programmer, data visualitation, dan data scienties. “Kalau tidak, teman-teman yang sempat go digital ini akan frustasi karena lingkungan tidak disiapkan. Saya paham sekali rasa frustasi teman-teman sebelum ada capital injection kemarin karena secara habit dan culture sebenarnya sudah siap berubah tapi infrastruktur tidak siap.” Sejatinya, awak redaksi dan usaha Tempo grup sudah memberi sinyal kepada semua SDM-nya bahwa mereka harus mempersiapkan perubahan habit terkait trend disruptive. Apalagi sejak empat tahun lalu, bisnis majalah dan cetak Tempo memperlihatkan tren penurunan. “Kami sudah menanamkan mindset kepada teman-teman, bahwa bisnis ini sudah sunset. Kalau mau survive, kita harus menyelamatkan jurnalisme ke platform baru,” tutur pria yang akrab disapa Komang tersebut. Persiapan go digital akhirnya dimulai sejak dua tahun silam. Salah satu yang dilakukan adalah membentuk tim transformasi digital dan melakukan konvergensi redaksi. Dengan sistem tersebut, semua wartawan mencari konten yang disetor secara terpusat melalui newsroom tunggal. Output dari newsroom inilah yang kemudian dipilah-pilah mana yang cocok untuk distribusi konten majalah, koran dan online. Nyatanya strategi itu tidak memberi dampak signifikan. Bisnis Tempo Group tetap menurun. Di sisi lain cost setiap divisi menjadi tidak terukur karena bebannya bercampur. Kualitas produk jurnalistik juga dinilai menurun, karena wartawan memasok konten sekadar untuk memenuhi kuota. Dengan kondisi tersebut, lanjut Komang, mau tak mau strategi konvergensi akhirnya dikoreksi mulai awal tahun ini. Tempo dalam konsep digital, ungkapnya lagi, justru membuka peluang-peluang baru dari sisi variasi platform. Terutama dari sisi pola bercerita baru, yang semakin memakai pendekatan interaktif grafis supaya user lebih memiliki keleluasaan terhadap apa yang mereka inginkan, angle apa yang dipilih untuk dibaca, bagaimana menfasirkan berita. Pendek kata, berita tidak lagi memiliki narasi tunggal karena orang bisa melihatnya dari berbagai kacamata. Apalagi engagement melalui forum interaktif juga sangat penting karena orang memberikan respon seketika. Dari sisi internal, manajemen juga melakukan pembenahan hubungan antara silo dengan mulai membiasakan komunikasi lintas unit, di mana tim sirkulasi dan iklan memberi masukan yang selama ini hampir tidak terbayangkan oleh redaksi. Tim redaksi yang biasanya memiliki kekuatan paling besar, sekarang mulai mendengarkan masukan dari tim sirkulasi yang paling tahu siapa pembaca mereka, serta tim iklan yang paling tahu siapa klien mereka. Menurut Komang, selama ini tim iklan seringkali keteteran karena tidak dilibatkan dalam pembahasan tema editorial. Independensi (idealisme) dan pasar, menurut Komang, mestinya tidak harus bertentangan. Koordinasi tetap dilakukan tapi garis apinya ditafsirkan berbeda. Kalau dulu antara tim redaksi dengan tim bisnis sama sekali tidak boleh ada komunikasi, sekarang komunikasi itu dilegalkan selama tidak ada intervensi. Namun begitu, dalam eksekusi produk, iklan dan advertorial tetap dikatakan sebagai iklan. Redaksi mengolah naskah tetap berpedoman pada nilai berita atau pertimbangan apakah ada info baru yang ditawarkan. apakah hal itu punya nilai berita dan menawarkan info baru. Misalnya saja, dalam edisi khusus 17 Agustus yang tahun lalu mengambil tema tentang Chairil Anwar, karena sudah dipersiapkan tiga sampai empat bulan sebelumnya, tim iklan kemudian mengusulkan membuat acara off air dalam bentuk pembacaan puisi. Ini salah satu model kerjasama unit bisnis dengan redaksi. Contoh lain dalam kerjasama dengan Kementrian Pedesaan. Karena temanya menarik dan banyak menyajikan info baru, maka tema kerjasama tersebut diangkat sebagai bahasan tersendiri secara editorial. Tim bisnis kemudian merancang awarding untuk desa terbaik dengan sponsorship Kementrian. Namun kementrian tidak mengintervensi penjurian. *   Majalah Unggul Di Waktu Edar dan Kedalaman Pada dasarnya ketika melakukan media planning, seperti diungkapkan oleh Laurentius Iwan Pranoto, Manager Communication and Event Asuransi Astra, pemilik brand memiliki setidaknya tiga pertimbangan. Pertama perubahan teknologi, kedua consumer behavior dan ketiga, sudah tentu, segmen yang dituju agar brand awareness, persepsi dan rekomendasi brand tersebut tepat sasaran. Dari situ Iwan dan kawan-kawan kemudian memilih media yang begitu banyak jenisnya, untuk berkomunikasi. Channel dipilih sesuai dengan tujuan kampanye dan budget yang dimiliki. Saat ini yang menjadi primadona untuk berkomunikasi memang channel online/digital, namun Asuransi Astra masih mengombinasikannya dengan media tradisional yang sesuai dengan segmen pelanggan yang mereka tuju. Merek Garda Oto sebagai produk asuransi mobil dari Asuransi Astra dan Asuransi Bisnis Commercial, menurutnya, tepat hadir di majalah bisnis yang pembacanya kalangan pemilik usaha, CEO dan profesional bisnis. Majalah (fisik) menurut Iwan memiliki keunggulan dari waktu edar yang lebih lama dengan bahasan lebih mendalam. “Apalagi majalah fisik tersebut disubtitusi menjadi e-magazine yang bisa dibaca orang melaui tablet,” ujarnya. Bagaimana pun juga, lanjut Iwan, saat ini perilaku konsumen (walau tidak semua, karena masih ada saja yang gagap teknologi) sudah berubah. Mereka lebih sering berhubungan dengan gadget sehingga kebiasaan membaca media cetak (fisik) pun berkurang. Mereka lebih nyaman mencari berita melalui feeding seperti Flipboard atau malah melalui akun media sosial mereka. Bagi brand, online unggul karena langsung masuk ke sasaran, indikatornya sangat terukur, fleksibel dan memiliki engagement. “Dalam kondisi ini merek tentu perlu menyesuaikan diri,” ujarnya. Karena pertimbangan ini, ketika melakukan integrasi komunikasi antara media tradisional dan online, tim Iwan selalu melakukannya dengan seksama. Dengan demikian komunikasi bisa dilakukan secara efektif dan efisien. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
MNC Bank Rilis Kartu Kredit Motion

Sebagai pendatang baru di industri perbankan, tepatnya 15 Oktober 2014 lalu, MNC Bank tampak massif menggarap pasar. Hari ini (10/2),...

Close