Perilaku Traveler Indonesia

 

Industri pariwisata Indonesia memang banyak berubah, khususnya saat kemunculan teknologi digital. Tapi saya melihat, sejauh ini dampaknya positif bagi pariwisata Indonesia. Untuk para traveller, jelas teknologi digital memudahkan. Seperti untuk pemesanan tiket pesawat, hotel, penginapan, paket perjalanan, dan lainnya.

Menurut teori Tourist Gaze (Urry & Larsen, 2011), orang termotivasi untuk melakukan perjalanan dan mengunjungi tempat-tempat tertentu adalah untuk mencari 'keaslian' dan mengalami 'kehidupan nyata' orang lain. Tempat-tempat yang dilihat wisatawan, pada kenyataannya, dibangun secara sosial dan beragam oleh masyarakat. Namun, karena persaingan antar destinasi meningkat, wisatawan kewalahan dengan pilihan tujuan liburan, sehingga sulit bagi mereka untuk mengambil keputusan.

Paradoks pilihan ini didorong oleh pertumbuhan yang cepat dari Internet dan media sosial, yang mengakibatkan informasi yang berlebihan, memprovokasi rasa takut karena tidak dapat memilih secara optimal (Schwartz, 2006). Dalam upaya untuk menemukan sumber informasi yang lebih otentik dan kredibel, wisatawan beralih ke blog dan ulasan online.

Industri pariwisata Indonesia juga semakin berkembang dengan adanya social media. Banyak destinasi baru yang muncul dari sana. Jadi tren di kalangan milenial, dan booming. Nilai plusnya, destinasi tersebut jadi berkembang, semakin dikenal, banyak yang datang, dan otomatis perekonomian daerahnya juga meningkat. Intinya, aktivitas traveling menjadi 'besar' seperti sekarang salah satunya karena digital.

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah lebih dari 17.000 pulau dan masing-masing dengan keunikan budayanya sendiri. Beberapa statistic menunjukkan bahwa AS merupakan tujuan yang menarik bagi wisatawan Indonesia, meskipun kinerja rupiah yang lemah dan peningkatan keterjangkauan banyak destinasi nasional dan Asia lainnya sebagai hasil dari berkembangnya maskapai penerbangan nasional dan regional murah.

Lebih dari 88% penduduk Indonesia adalah Muslim, sehingga banyak yang memilih untuk melakukan perjalanan ke tujuan Asia Tenggara lainnya dengan populasi Muslim yang besar atau ke Timur Tengah untuk berziarah ke kota-kota suci. Traveler tersebut sangat peduli tentang penerimaan budaya dan ketersediaan makanan halal, masjid dan tempat-tempat untuk memanjatkan doa. Tantangan untuk destinasi adalah mengatasi persepsi negatif tentang Islam. Di Ametrika Serikat, untuk mengatasi persoalan ini, sebuah pendamping dikembangkan untuk menyoroti banyak destinasi bagi Muslim di AS dan berusaha membantu wisatawan Muslim merasa lebih nyaman saat melakukan perjalanan di AS.

Wisatawan asal Indonesia memiliki preferensi belanja dan sering mencari mal dan toko bermerek untuk memanjakan diri. Kajian yang dilakukan US Department of Commerce: National Travel and Tourism Office 2014 memberikan gambaran, traveler Indonesia sering bepergian ke kota-kota besar dan menikmati landmark terkenal dan tempat-tempat wisata, serta restoran, mal, dan kapal pesiar.

Orang muda Indonesia terhubung dengan baik melalui media sosial. Ini tidak mengherankan mengingat jumlah pelanggan Facebook di Indonesia terbesar ke-4 dan Jakarta hanya dilampaui Tokyo sebagai kota nomor satu di dunia. Ini berarti banyak anak muda Indonesia yang banyak memiliki pengathuan tentang apa yang ditawarkan dan sering mencari penawaran khusus dan penawaran perjalanan melalui media sosial.

Untuk menarik traveller, penting untuk menyebarkan informasi dari mulut ke mulut tentang kepuasan wisatawan yang berkaitan dengan kegiatan atau pengalaman tertentu. Seperti yang terjadi di komunitas Travel Business Club, biasanya anggotanya selalu menshare merek/produk yang memuaskan, lalu saling menularkan satu dengan yang lain. Ini paling sering terjadi. Misalnya, ada traveller yang menemukan barang bagus di suatu negara lalu dia share di Whats App Group, lalu kita beramai-ramai pesan ke dia.

Pengalaman budaya, sebagai ekspresi suatu wilayah dan warisan uniknya, dapat dianggap sebagai sarana diferensiasi untuk tujuan di pasar pariwisata yang semakin kompetitif. Sebuah studi oleh Harrington dan Ottenbacher (2010) mengemukakan bahwa wisatawan yang mengonsumsi makanan lokal seringkali dapat memahami identitas dan etnis orang-orang di suatu tujuan tertentu.

Dalam hal sudut pandang budaya, Frochot (2003) mengidentifikasi bahwa pengalaman makanan menggambarkan image pengalaman budaya, status dan identitas budaya. Aspek budaya semacam itu biasanya dikembangkan dari aspek-aspek unik pengalaman makanan yang hanya dapat ditemukan di tempat tujuan itu. Oleh karena itu, makanan adalah sesuatu yang sangat berakar dalam budaya dan tradisi suatu daerah.

Bagi traveler, merasakan makanan lokal saat liburan adalah jenis pengalaman sensoris yang menyenangkan. Makanan juga menyediakan pengalaman sensual dan sensual yang meningkatkan kesenangan liburan dan menarik wisatawan ke tujuan (Mitchell dan Hall, 2003). Misalnya, Furst dkk. (1996) menemukan bahwa sifat-sifat sensori dapat memiliki hasil fisiologis dan psikologis yang penting pada apresiasi makanan. Lebih khusus, ditemukan bahwa untuk beberapa traveler, faktor sensorik (misalnya rasa, bau dan penampilan visual) dapat mendorong pengunjung mencicipi pilihan makanan lokal (Kim et al., 2009).

Berbagai karakteristik yang berhubungan dengan makanan seperti persiapan, gaya memasak, presentasi, kebiasaan makan, budaya makanan dan konsumsi makanan dapat dimasukkan dalam membangun pengalaman pengunjung dengan makanan di tempat tujuan wisata (Babolian Hendijani et al., 2013; Jalis et al., 2009). Persiapan, memasak, konsumsi dan bahkan melihat hidangan asing memberi wisatawan rasa keberbedaan dan rasa eksotis (Kivela dan Crotts, 2006).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)