Public Relations, Fans dan Partisipasinya

Sudah lama para praktisi public relations memfokuskan diri pada relationship antara organisasi atau perusahaan dan stakeholder mereka. Sayangnya mereka seakan tidak memiliki waktu untuk melihat fenomena ketika rekationship tersebut didominasi oleh partisipasi public. Model-model baru dari pesan-pesan yang datang dari publik di berbagai tingkat keterlibatan secara luas diakui, tetapi tidak banyak dieksplorasi, terutama dalam konteks bagaimana memanfaatkan pesan-pesan itu tadi untuk dijaiskan sebagai peluang. Model komunikasi satu arah dan kontrol terhadap pesan oleh praktisi PR kini tidak ada lagi. Media sosial dan makin meningkatnya budaya partisipatif hendaknya dimaknai bahwa penggemar (fans) saat ini berperan lebih aktif dalam memproduksi dan pencipta-pendamping pesan, komunikasi, dan makna. Fans saat ini memiliki kekuatan yang signifikan dalam hubungan dinamis antara pesan, komunikator, dan audiens yang lebih besar. Sayangnya, sampai kini mereka belum didefinisikan dengan menggunakan pendekatan teori dan wacana. Konsepsi kita yang ada gagal untuk mengidentifikasi publik yang aktif dan terlibat ini. Apalagi memahami komunitas virtual yang sangat termotivasi untuk berkomunikasi dengan organisasi dan merek. Media baru, khususnya media sosial, telah mengubah praktik hubungan masyarakat dan menantang para ahli untuk mempertimbangkan kembali atau mengkonsep-ulang yang telah dianggap model dan praktik PR "tradisional." Para ahli percaya bahwa perubahan ini secara fundamental mengubah tujuan dan praktek hubungan masyarakat, dan bahwa masa depan hubungan masyarakat menjadi jauh berbeda dengan masa kini. Berbeda dengan lingkungan PR pra-internet, publik kini memiliki peluang yang tampaknya tak terbatas untuk menjadi terlibat dengan organisasi, konten, dan satu sama lain. Sebagai bagian dari perangkat baru tanggung jawab profesional yang mencerminkan meningkatnya penekanan komunikasi online, praktisi PR kini diberi dibebankan untuk menciptakan, membudidayakan, dan mengelola komunitas merek online, serta membangun dan mempertahankan hubungan yang diciptakan oleh aktif dengan keterlibatan public. Mencermati publik yang sudah terlibat dan aktif merupakan langkah penting di dunia PR baru era media sosial. Publik yang sudah lama terlibat menggerakkan perusahaan selangkah lebih dekat, tapi banyak peneliti dan praktisi masih mengukur keterlibatan melalui klik hyperlink atau situs web hits, dan mendefinisikan hasil berdasarkan tujuan bisnis seperti ROI. Kini diperlukan pergeseran meski terus menyajikan pandangan yang terbatas dalam komunikasi online. Pembangunan, pemeliharaan, dan peningkatan komunikasi dua arah dan hubungan antara organisasi dan masyarakat selalu menjadi fungsi penting dari hubungan masyarakat. Akan tetapi pentingnya pengelolaan masyarakat telah diperluas dalam skala global. Banyak praktisi PR yang mengelola media sosial atas nama klien atau organisasi secara de-facto menjadi manajer komunitas online yang fokus pada pembangunan dan pemeliharaan kekuatan ikatan antara publik melalui media sosial. Praktek dan ilmiah studi hubungan masyarakat telah berkembang - dan akan terus berkembang - di samping kemajuan teknologi, teknik-teknik baru dan saluran komunikasi, dan model teoritis baru komunikasi dan persuasi. Elemen Transmedia, termasuk mendongeng di berbagai platform, gamification, pengalaman yang mendalam, kecerdasan kolektif dan pemecahan masalah, menjadi terintegrasi dengan hubungan masyarakat dan kampanye komunikasi strategis untuk organisasi nirlaba maupun klien perusahaan Buku ini menurut editornya merupakan awal dari percakapan antara profesional PR dan para ahli. Tujuan yang adalah untuk mengevaluasi disiplin kita dalam konteks budaya partisipatif; untuk menegaskan kembali dasar, model, dan teori yang dapat terus memberikan bimbingan bagi komunikator profesional, dan untuk memusatkan perhatian pada konsep dan tantangan ke depan. Tujuan dari buku ini adalah untuk mengintegrasikan teori stakeholder dan publik dengan memberikan fokus pada orang-orang yang secara budaya dan media berpatisipasi. Bab-bab yang dipilih untuk dimasukkan dalam buku ini mengeksplorasi tantangan, peluang, dan keragaman aktivitas fan dan hubungan. Situasi dianalisis untuk mendapatkan gambaran keragaman situasi komunikasi yang melibatkan publik fan, dan tidak terbatas pada produk hiburan. Intinya, buku ini memang layak dibaca oleh praktisi dan akademisi yang mencintai PR.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Mengapa Pembaca Koran di India Masih Bertambah Banyak?

India memang anomali. Lihat saja pertumbuhan koran cetak disana. Bila di negara belahan dunia lain pertumbuhan koran cenderung menurun, di...

Close