|
Komunitas komik dianggap sebagai kumpulan orang pehobi komik yang aktivitasnya cuma membaca komik. “Padahal tidak demikian. Komunitas MKI adalah orang-orang yang ingin berkreatiftas melalui media komik,” ujar Gokla T Sujiwo, Managing Director MKI divisi Cergam Center. Peliput dan Penulis: W Setiawan Foto: Ihsan Sulaiman
Bank Indonesia (BI) pernah kesulitan mengedukasi inflasi kepada masyarakat. Pasalnya, tidak semua orang mengerti betul istilah inflasi. Apalagi jika dijelaskan dengan bahasa ekonomi. Alhasil, BI meminta Masyarakat Komik Indonesia (MKI) untuk membuat komik yang berkisah tentang inflasi. BI menggangap edukasi melalui komik lebih mudah dipahami oleh awam. “Itulah kiprah MKI, membuat karya komik untuk membantu pemerintah” kenang Gokla T Sujiwo, Managing Director MKI divisi Cergam Center. Selama ini keberadaan komunitas komik dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan. Terutama para orangtua yang memiliki anak yang masih duduk dibangku sekolah. Mereka menggangap bahwa komik menjadi “racun” berbahaya karena membuat malas belajar. Kenyataan itu, menurut Sujiwo, bisa dimaklumi karena komunitas komik dianggap sebagai kumpulan orang pehobi komik yang aktivitasnya cuma membaca komik. “Padahal tidak demikian. Komunitas MKI adalah orang-orang yang ingin berkreatiftas melalui media komik,” ujarnya. Kelahiran MKI tidak lepas dari dinamika dan perkembangan komik di dalam negeri. Dulu, papar Sujiwo, di era 80-an menemukan komik lokal Indonesia tidak begitu sulit. Sebutlah itu komik Jaka Sembung karya Djair Warni atau komik Si Buta dari Gua Hantu karya Ganesh Th. Konsumen bisa membeli dengan gampang di toko buku atau menyewa di kios penyewaan. Penerbit pun pada masa itu masih bergairah untuk menerbitkan buku-buku komik lokal. Maklumlah, komik asing masih langka. Terlebih lagi keberadaan komik lokal masih digandrungi pembaca. Istilah komik lokal ditujukan untuk komik yang menyajikan cerita dengan latarbelakang kebudayaan Indonesia, tokoh utamanya diambil dari fiksi yang “hidup” di benak sebagian besar masyarakat, termasuk pengarangnya adalah orang pribumi. Menginjak dekade 90-an, lambat laun komik lokal mulai menghilang. Perannya di masyarakat tergantikan dengan masuknya komik-komik asing. Tokoh fiksi Spiderman, Superman dan Batman makin familiar di kalangan anak-anak. Terutama anak-anak yang lahir di era millennium, mereka lebih mengenal tokoh Spiderman ketimbang jagoan Si Buta dari Gua Hantu. Saat industri komik lokal “mati suri”, pada tahun 1995 tiba-tiba muncul komik lokal dengan judul “Caroq” yang diterbitkan oleh penerbit daerah. Kehadirannya menggugah kesadaran banyak pihak bahwa komik lokal sesungguhnya belum benar-benar “mati”. Akhirnya pada 1997 Fakultas Sastra UI menggelar Pekan Komik Nasional yang bertujuan untuk “menghidupkan” kembali komik lokal sekaligus menggiatkan kembali pengarang muda berkiprah di industri komik lokal. Bersamaan dengan penyelenggaraan acara, dibentuk MKI tanggal 15 Maret 1997. Sukses penyelenggaraan Pekan Komik Nasional akhirnya berlanjut dengan penyelenggaraan event Pekan Komik dan Animasi Nasional yang digelar berkala 2 tahun sekali “MKI lahir bukan untuk menghalangi komik asing beredar di sini, melainkan untuk menghidupkan kembali komik lokal yang sekarang mulai langka,” tutur Sujiwo.. Terbentuknya MKI melahirkan komunitas-komunitas komik di beberapa kota. Misalnya di Bandung, muncul komunitas komik dengan nama Mayala, sedangkan di Yogyakarta komunitasnya bernama Daging Tumbuh. Di Jakarta, MKI saat ini beranggotakan 642 orang. Para anggota rata-rata berusia belasan tahun dan kebanyakan dari mereka adalah pelajar sekolah menengah atas yang berantusias untuk menekuni industri kreatif komik lokal – tidak mencakup penerbitan. Mengapa dikatakan industri kreatif? Karena, menurut Sujiwo, banyak komponen yang terlibat di dalamnya. Umpamanya, ada anggota yang pandai menciptakan ide cerita, kompetensinya adalah penggagas cerita. Sebaliknya, anggota yang pandai menciptakan tokoh imajinatif, maka perannya sebagai illustrator. “Karya sebuah komik biasanya lahir dari kolaborasi penggagas cerita dan illustrator,” katanya. Setiap hari Sabtu, anggota komunitas berkumpul di kantor sekretariat MKI di Ragunan, Jakarta Selatan. Kegiatan diisi dengan saling bertukar pengetahuan (sharing skill). Sedangkan untuk hari lain, komunikasi antaranggota komunitas dilakukan melalui milis
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
. Adapun, benefit yang diperoleh anggota komunitas adalah akses ke penerbit. Selama ini terjalin kerjasama antara MKI dan pihak penerbit sehingga apabila salah seorang angota komunitas membuat sebuah karya komik, maka MKI merekomendasikan kepada penerbit untuk menerbitkan karyanya. Beberapa penerbit yang dirangkul untuk bekerjasama antara lain penerbit Mizan, Concept Megindo, Pustaka Lebah, Teran dan Gramedia. Saat ini komik lokal karya komunitas MKI yang sudah dipasarkan adalah komik berjudul Alia oleh penerbit Concept. Komik Alia seri ke-2 ini dicetak sebanyak 15.000 eksemplar. “Menurut rencana, Alia akan diterbitkan hingga seri ke-6,” ucap Sujiwo. Sementara bagi penerbit, MKI kerap dilibatkan dalam strategi penjualan, yakni mengundang angota komunitas dalam acara launching komik terbitan terbaru. Cara ini cukup efektif karena anggota komunitas banyak yang membeli. Untuk menggugah animo, pada acara launching biasanya penerbit menampilkan pengarang yang kemudian membubuhi tandatangan pada buku komik yang terjual. Selain itu, tidak jarang pula penerbit bekerjasama dengan MKI untuk event bedah buku sebagai strategi edukasi dan promosi. Dalam rangka mengenalkan karya lokal ke mancanegara, MKI menggelar event dua tahunan bertajuk “24 Hour Comics Day” yang diikuti Foundation Scott Mc Cloud, lembaga pengembangan komik di Amerika Serikat. Tahun ini, event berlangsung di Bandung tanggal 18-19 Oktober 2008. Dalam event tersebut MKI menyerahkan buku komik karya anggota komunitas berjudul Compilation 24 Hour Comics Day kepada Scott Mc Cloud. “Melalui buku kompilasi itu, diharapkan mereka dapat mengetahui komik karya bangsa Indonesia,” katanya. Oleh Mc Cloud, buku komik kompilasi tersebut dicetak namun tidak diperjualbelikan dan kemudian disebarluaskan ke kalangan tertentu seperti perpustakaan atau lembaga pendidikan. Selain pemerintah, lembaga independen dan perusahaan banyak pula yang meminta bantuan komunitas untuk membuat karya komik. Sebut saja lembaga independen ICW(Indonesia Corruption Watch) yang meminta komunitas MKI membuat komik layanan masyarakat tentang anti korupsi. Sementara Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Huma menjalin kerjasama untuk program edukasi penyelamatan hutan melalui media komik. Sedangkan perusahaan Nestle belum lama ini memanfaatkan jasa komunitas MKI untuk pembuatan komik tentang manfaat minum susu. Komik itu disisipkan pada kemasan produk susu Ideal. Termasuk komik untuk produk es krim Walls. “Ide cerita komik datang dari perusahaan.Kami hanya mengerjakan ilustrasi tokoh-tokoh kartunnya,” jelasnya.###  Jahja Soenarjo Jahja B Soenarjo, Chief Consulting Officer Direxion Strategy Consulting Saya melihat terjadinya pergeseran Saya termasuk orang yang hobi baca komik. Dulu masih banyak beredar komik-komik yang menampilkan tokoh jagoan lokal. Tapi sekarang sudah jarang, bahkan mungkin sudah tidak ada. Di masyarakat, saya melihat terjadi pergeseran dari semula komik lokal berganti dengan komik-komik asing. Coba saja kalau ke toko buku, banyak ditemui komik-komik asing yang tokohnya ciptaan asing. Memang bahasanya Indonesia karena terjemahan, tapi ide ceritanya dari luar. Ini juga jadi tantangan bagi MKI, bagaimana memunculkan kembali komik-komik lokal ke masyarakat. MKI bisa bekerjasama dengan salah satu penerbit untuk menerbitkan kembali buku-buku komik yang dulu pernah ada. Karena bukan tujuan komersial semata, penerbitan itu bisa dilakukan melalui konsorsium atau penerbitan bersama, Pemerintah juga bisa dilibatkan. Untuk menambah skill, anggota komunitas MKI juga perlu belajar tentang animasi di media elektronik sehinga kemampuannya tidak hanya sebatas dalam buku cetakan, tapi juga di elektronik. Saat ini animasi-animasi makin marak. Soal keberadaan MKI yang kadang dipandang sebelah mata, misalnya ikut komunitas kemudian jadi malas belajar, hal ini terjadi karena MKI kurang mengedukasi dan mensosialisakan kepada masyarakat. Padahal, kegiatannya sangat positif. Apalagi kalau ditekuni secara profesional, akan prospektif karena komik merupakan salah satu sektor usaha yang masuk dalam industr kreatif yang sekarang sedang marak digalakkan pemerintah. ### |