Dari Kongres Luar Biasa P3I: P3I Redefinisi Bisnis Periklanan dan Restrukturisasi Organisasi

Pada 3 Maret lalu Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) menyelenggakan Kongres Luar Biasa (KLB) dengan agenda utama pemilihan ketua umum baru untuk menggantikan Harris Thajeb yang telah menjabat dua periode kepengurusan.

Dalam kongres itu terpilih Ketua Umum P3I yang baru Janoe Arijanto yang juga adalah Chief Operating Officer Dentsu Strat, salah satu agensi periklanan dalam jaringan bisnis global agensi komunikasi pemasaran Dentsu Aegis Network.

Menurut Janoe Arijanto, selain agenda utama, dalam kongres itu P3I juga mendiskusikan persoalan-persoalan organisasi perusahaan periklanan sehubungan dengan berbagai perkembangan terakhir yang terjadi di dunia komunikasi pemasaran, terutama persoalan transformasi digital dan redefinisi terhadap bisnis periklanan.

Bagaimana P3I akan menjawab tantangan menjadikan agensi periklanan lokal sebagai tuan di negeri sendiri? Berikut ini adalah kutipan wawancara MIX dengan Janoe Arijanto. Selamat menyimak. Semoga dari wawancara ini Anda mendapat angin segar tentang penyelegaraan industri periklanan dan komunikasi pemasaran pada masa yang akan datang. (Lis Hendriani)

Mengapa Anda bersedia menerima mandat untuk menakhodai asosiasi ini di tengah berbagai persoalan? 

Bisnis Periklanan, atau dalam cakupan lebih luas lagi, yaitu komunikasi pemasaran, memiliki potensi pertumbuhan yang besar dan memiliki multiplier effect yang makin luas. Cakupan skala bisnis yang luas ini mempengaruhi banyak elemen, terutama percepatan pengetahuan, ketrampilan, kualitas tenaga kreatif sampai pada produksi konten kreatif. Seluruh elemen itulah yang berkembang dan bertransformasi cepat di bisnis periklanan dan cukup menantang untuk dikerjakan.

Bagaimana Anda melihat permasalahan di industri Periklanan Indonesia saat ini?

Dunia periklanan sedang berada dalam keadaan yang sangat cair. Persentuhan dengan banyak disiplin mengakibatkan batas-batas bisnis menjadi kabur. Dalam angle positif, kita melihatnya sebagai perluasan bisnis, yang harus ditangkap peluangnya. Walaupun di saat yang sama—terutama ketika dunia periklanan dihadapkan pada perkembangan industri media, teknologi dan konten—kita melihat banyak fungsi-fungsi bisnis konvensional yang hilang. Di titik inilah kita tidak boleh menyerah menghadapi perubahan.

Apa saja isu yang mengemuka selama Kongres P3I yang baru lalu?

Dari sisi lansekap bisnis, fungsi organisasi di tengah perubahan adalah issue utama. Itulah kenapa tema yang diambil adalah “Disrupt Yourself”, sebuah ajakan untuk berani membuat perubahan besar dalam diri masing-masing pelaku bisnis.

Bagaimana P3I menyikapi berbagai isu tersebut?

P3I, selain sedang meredefinisi bisnis periklanan, juga melakukan restrukturisasi organisasi. Restrukturisasi organisasi dilakukan semata-mata agar organisasi relevan dan mampu menampung berbagai model bisnis dan proses bisnis periklanan yang baru.

Redefinisi bisnis periklanan itu secara langsung akan mengubah siapa saja yang akan bisa masuk di organisasi P3I dan apa saja yang akan dilakukan P3I ke depan. Cara itulah yang bisa dilakukan P3I menghadapi lansekap bisnis yang semakin disruptive ini.

Sejauh mana hegemoni agensi asing di industri Periklanan Indonesia menjadi concern P3I?

Ketika teknologi, media dan konten berubah, ditambah lagi dunia usaha semakin terbuka terhadap investasi asing, maka konsekuensi masuknya teknologi dan sumber daya asing memang tidak terhindarkan.

Persoalannya adalah, bagaimana kita mengatur dan tetap mendukung tumbuhnya bisnis periklanan lokal, termasuk memperkuat tenaga-tenaga lokal.

Iklim dunia teknologi dan informasi yang diwarnai banyak inovasi bahkan disrupsi, justru memberi banyak peluang kepada berbagai jenis bisnis komunikasi spesialis untuk muncul secara kuat. Kecepatan perubahan tidak mudah direspon bahkan oleh organisasi multinasional. Yang terjadi justru, agensi multinational berkolaborasi, merger dan mengakuisisi banyak local agency yang memiliki karakter bisnis kuat dan spesialisasi yang konsisten.

Bahwa secara revenue multinational agency mendominasi memang benar, tapi pertumbuhan berbagai jenis agensi lokal dengan berbagai macam spesialisasinya sedang dan akan semakin menemukan momentumnya.

Apa saja yang akan dilakukan PPPI untuk meng-address berbagai issue tersebut?

P3I menaruh concern yang besar bahwa transformasi digital, bukan hanya di agensi multinasional, tapi harus berproses secara kuat di agensi lokal, bahkan di daerah-daerah. P3I bersama agensi multinasional bahkan sedang menyusun kolaborasi, menumbuhkan transformasi digital dan membangun ekosistem local agency di mana pun, untuk menjalankan bisnisnya secara lebih adaptif.

Apa prioritas program Anda untuk menjadikan P3I sebagai “rumah” bagi semua anggotanya—karena banyak yang menilai P3I selama ini tidak “menyuarakan” kepentingan agensi lokal.

Memberikan “reason why” yang kuat kepada perusahaan-perusahaan untuk bergabung dalam wadah P3I adalah persoalan pertama yang harus dijawab. P3I harus hadir dalam proses bisnis, dan menjadi organisasi yang relevan. Memperkuat ekosistem bisnis periklanan tidak hanya ditujukan kepada agensi multinasional saja, tapi keseluruhan. Bahkan ketika kita bicara tentang sumber daya manusia maka kita akan berbicara tentang sumber daya manusia Indonesia.

Bagaimana menurut Anda selama ini peran Dewan Periklanan Indonesia (DPI) dalam menjembatani permasalahan-permasalahan seputar agensi-media-klien?

Dewan Periklanan Indonesia akan semakin strategis perannya. Terutama mengintegrasikan berbagai macam kepentingan dari bisnis komunikasi. Melalui DPI, kita bisa mengambil kesepakatan bersama dengan asosiasi yang mewakili berbagai macam media, pengiklan bahkan organisasi-organisasi baru yang berbasis digital. DPI, terlebih lagi ketika kita sedang menata transformasi, akan menjadi sangat penting.

Seperti apa hubungan kerjasama P3I dan DPI sejauh ini?

P3I dan DPI cukup intens di tahun-tahun terakhir ini, terutama menyangkut kesepakan bersama untuk membangun etika pariwara yang kuat dan adaptif. P3I dan DPI juga banyak menyepakati persoalan digital measurement, dan yang paling mutakhir, P3I mewakili DPI juga menyelenggarakan AdAsia pada bulan November 2017.

Kita telah menyaksikan, bisnis komunikasi adalah sisi terdepan yang terdampak perubahan yang kuat. Mengintensifkan kolaborasi dan terus menerus merespon perubahan bersama-sama, akan menjadi kunci utama untuk menguatkan bisnis periklanan di Indonesia.

Dan kita harus faham, bahwa Periklanan adalah arus besar Informasi, komunikasi massa yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Semua elemen dalam periklanan, termasuk di dalamnya konten, nilai informasi, karakter pesan dan bisnisnya, harus dilindungi dan dibela. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)