Asian Games 2018 dan Nation Brand Indonesia

Untuk mendukung dimensi governance dalam nation brand, pekerjaan rumah pemerintah Indonesia berikutnya adalah membuktikan bahwa penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang ini benar-benar berdampak kepada perekonomian nasional. Karena bagaimana pun, isu tentang dampak ekonomi perhelatan semacam ini masih kontroversial.

Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang baru saja berlalu. Masyarakat Indonesia masih merasakah euphoria atas kemegahan dan kemeriahan penyelenggaraan mega-sporting event tersebut. Opening ceremony-nya berhasil memukau dunia. Kreativitasnya mendapat komentar positif dari berbagai lapisan masyarakat dan wartawan asing yang meliput event ini. "Anda akan merasa bangga dengan negara asal Anda, Indonesia," kata Presiden Dewan Olimpiade Asia (Olympic Council of Asia atau OCA) Sheikh Ahmed Al-Fahad Al-Sabah dalam kata sambutannya setelah menyaksikan gebyar pembukaan AG 2018 di stasion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, itu.

Praktisi branding dari Inven.ture Yuswohady menilai event yang dihadiri oleh atlet dari 45 negara (11.300 atlet dan 5.000 officials), melibatkan 465 pertandingan, 13.000 volunteer, 2 juta penonton, dan 11.000 media lokal dan internasional ini merupakan momentum emas untuk nation branding Indonesia.

Kesuksesan opening ceremony Asian Games meyakinkan saya bahwa Asian Games harus kita jadikan momentum untuk meluncurkan nation brand Indonesia. Kenapa momentum? Karena selama dua minggu pelaksanaan Asian Games kita disorot oleh masyarakat dunia. Inasgoc sudah mengonfirmasi bahwa Asian Games diliput oleh 11 ribu media dalam dan luar negeri. Itu artinya, perhatian dunia tertuju ke Indonesia. Seperti telah kita tunjukkan saat opening ceremony, melalui Asian Games kita bisa menunjukkan kepada dunia mengenai kekayaan budaya Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Asian Games bisa menjadi platform untuk menunjukkan identitas bangsa,” tutur Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Arief Yahja.

Apa itu nation branding? Yuswohady mendefinisikan nation brand sebagai citra dan reputasi (national image & reputation) yang ditangkap oleh masyarakat internasional terhadap suatu negara. Sedangkan nation branding adalah upaya untuk menciptakan nation brand tersebut. Simon Anholt yang dikenal sebagai “Bapak Nation Brand” merumuskan citra dan reputasi sebuah negara itu ke dalam enam dimensi, yaitu Export, persepsi masyarakat internasional mengenai kualitas produk/layanan yang dibuat oleh suatu negara); Governance, persepsi masyarakat internasional mengenai kemampuan negara dalam mengelola pemerintahan yang profesional, bersih, dan demokratis. Juga komitmen negara tersebut terhadap isu-isu global seperti perdamaian, keamanan, keadilan, kemiskinan, dan lingkungan; Culture & Heritage, persepsi masyarakat internasional terhadap budaya suatu negara baik warisan nenek moyang maupun budaya kontemporer seperti film, musik, seni sastra, dan lain-lain; People, persepsi masyarakat internasional terhadap kualitas SDM yang dimiliki suatu negara seperti kompetensi, keterbukaan, keramahtamahan, dan sebagainya; Tourism, ketertarikan wisatawan dari seluruh dunia untuk mengunjungi suatu negara baik karena kekayaan budaya, keindahan alam, maupun kehebatan destinasi wisata buatan; dan Investment & Immigration, kemampuan untuk menarik orang untuk berinvestasi, tinggal, dan belajar di suatu negara. Juga persepsi masyarakat internasional terhadap kualitas hidup dan iklim berusaha di negara tersebut.

Nation branding memang tidak cukup hanya dibangun oleh satu event seperti Asian Games. Nation brand dibangun oleh banyak peristiwa, momentum, dan kebijakan pemerintah, dalam jangka waktu yang tidak sebentar, yang meliputi enam dimensi tersebut. Dan berbagai peristiwa itu secara agregat harus memperkuat citra dan reputasi negara yang di-branding.

Jadi dalam hal ini, AG tampaknya merupakan momentum yang tepat untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia dari dimensi Culture & Heritage serta People. Tidak mudah menjadikan perhelatan ini sebagai momentum untuk memperkenalkan Indonesia dari empat dimensi lainnya. Apakah event olah raga ini berhasil mempengaruhi impresi masyarakat internasional tentang governance di Indonesia, sukses menarik investasi masyarakat internasional dan membawa mereka untuk ingin tinggal di Indonesia, atau menarik orang untuk ingin berwisata mengunjungi Indonesia? Ini masih memerlukan waktu untuk membuktikannya.

Namun setidaknya, tarian Ratoh Jaroe Aceh yang kompak dan kolosal dengan 1600 penari, tarian Kecak Bali yang ritmis dan eksotis, hingga 19 tarian Nusantara yang menggambarkan keberagaman tradisi budaya Indonesia, serta stadion Gelora Bung Karno (GBK) yang disulap menjadi panggung raksasa berbentuk gunung selebar 130 meter dan setinggi 27 meter dengan rainforest (hutan hujan tropis) yang berisi beraneka flora khas Indonesia, serta air terjun setinggi 17 meter yang menampung 60 ton kubik air, itu dapat menggambarkan warisan budaya Indonesia dan profesionalisme orang-orang Indonesia di balik perhelatan dunia tersebut yang mendukung dimensi Culture & Heritage serta People. Selain itu, keramahan orang Indonesia dalam menyambut para tamu dan wisatawan mancanegara pada penyelenggaraan AG juga memperkuat dimensi People yang dapat membangun nation brand Indonesia.

Surat kabar paling berpengaruh di dunia The New York Times memuji acara pembukaan Asian Games dengan memberi judul tulisannya “Indonesia Welcomes Asia with Explosive Opening Ceremony.” Sementara The Straits Times menulis “Asian Games: Indonesia Welcomes for Continent 18th Asiad with Spectacular Opening Ceremony.”

Agar penyelenggaraan AG 2018 ini dapat menjadi momentum emas untuk memperkenalkan Indonesia, pakar branding Yuswohady yang juga staf ahli Kementrian Pariwisata Indonesia memberikan masukan delapan strategi untuk mengoptimalkan AG 2018 bagi nation brand. Kedelapan strategi tersebut adalah: 1. Memaksimalkan visibilitas Indonesia (global visibility); 2. Mengenalkan identitas nasional; 3. Menciptakan citra positif dan reputasi; 4. Membangun diplomasi global melalui kekuatan yang soft; 5. Melakukan cobranding dan transfer image; 6. Menyatukan Indonesia sebagai brand dengan Asian Games yang juga sebuah brand; 7. Mempromosikan turisme; dan terakhir 8. Memanfaatkan warisan (leverage the legacy).

Dalam rangka memaksimal visibilitas inilah maka kemudian muncul adegan stunt Presiden yang beraksi layaknya Tom Cruise di film “Mission: Impossible.” Benar saja, adegan ini menjadi pembicaraan di media konvensional maupun media sosial. Di Twitter hashtag #proudtobeindonesian dan #stuntman menjadi trending di negara-negara kawasan Asia Tenggara, di mana 260 juta penduduk-nya—dan sebagian besar adalah orang Indonesia—menjadi pengguna Twitter. Menurut Yuswohady, adegan itu menciptakan story of our leader: yaitu sosok leader yang keren, punya sense of humor, merakyat, berani tampil beda, dan berjiwa muda-milenial. “Ingat, pemimpin negara adalah salah satu elemen penting dari nation brand. Begitu pemimpin negara dipersepsi positif oleh masyarakat dunia, maka negaranya pun dipersepsi positif,” katanya.

Namun kemudian adegan ini memicu kontra dari lawan politik Presiden Jokowi. Politisi Partai Demokrat secara terus terang menuduh pemimpin negara menggunakan adegan pada upacara pembukaan AG 2018 ini untuk memoles citranya di depan khalayak pemilih muda jelang pemilihan umum tahun depan. Adegan ini, kata sang politisi, digunakan untuk menenggelamkan masalah mendasar yang dihadapi negara ini, yaitu defisit perdagangan. Aktivis Ratna Sarumpaet menilai video stunt Presiden ini tidak tepat di saat Indonesia sedang menghadapi musibah gempa bumi di Lombok dan cenderung membuang-buang uang. Apakah komentar negatif ini mempengaruhi persepsi dunia terhadap Pemerintah Indonesia? Ini masih perlu dibuktikan karena memang bisa jadi adegan yang dinilai sebagian kalangan itu “lebay” bisa menjadi kontra negatif kepada dimensi Governance dalam nation branding. Governance adalah persepsi masyarakat internasional mengenai kemampuan negara dalam mengelola pemerintahan yang profesional, bersih, dan demokratis. Karena bagaimana pun nation branding adalah tentang persepsi masyarakat internasional, bukan persepsi masyarakat di dalam negeri.

Untuk mendukung dimensi governance dalam nation brand, pekerjaan rumah pemerintah Indonesia berikutnya adalah membuktikan bahwa keputusan mengambil alih host (tuan rumah) Asian Games AG 2018 dari Vietnam—yang mundur karena alasan finansial—ini adalah tepat. Atau dengan kata lain, pemerintah harus membuktikan bahwa AG 2018 di Jakarta dan Palembang ini benar-benar berdampak kepada perekonomian nasional seperti perhitungan awalnya. Karena bagaimana pun, di tataran global, isu tentang dampak ekonomi perhelatan olah raga dunia semacam Asian Games ini kepada negara penyelenggaranya masih menjadi kontroversi.

Kontroversi Dampak Ekonomi

The Economist pada Februari 2015 pernah menulis bahwa efek riak ekonomi akibat penyelenggaraan mega-sporting event ini sangat besar karena pembiayaannya biasanya selalu dilakukan dengan utang. The Economist mengutip Andrew Zimbalist, seorang ekonom olahraga Amerika, bahwa pemerintah kota yang bijaksana harus dengan segala cara untuk menghindari kontes menjadi tuan rumah perhelatan semacam ini. Dia menyebut event ini sebagai “pertaruhan ekonomi.” “Menjadi tuan rumah gelaran olahraga internasional berisiko tinggi dengan potensi tingkat pengembalian yang rendah,” katanya.

Staf ahli Kementrian Pariwisata Yuswohady mengatakan bahwa Asian Games 2018 menjadi katalis pengembangan infrastruktur. “Berkat Asian Games kita memiliki LRT untuk pertama kali dalam sejarah Indonesia yaitu di Palembang dan di Jakarta. Berkat Asian Games pula kita memiliki venue

olahraga berkelas dunia seperti stadion GBK, Velodrom Rawamangun, Equestrian Pulomas,

hingga Jakabaring Sport City Palembang. Infrastruktur berkelas dunia ini akan mendongkrak reputasi Indonesia sejajar dengan infrastruktur di negara-negara maju,” katanya.

Sementara menurut The Economist, jaminan ekonomi dari mega-event tersebut jarang membuahkan hasil. Bahwa mega-event ini akan mendatangkan turis, kota akan mendapat liputan selama sebulan, pembangunan infrastruktur akan menjadi warisan yang dapat digunakan kemudian akhirnya hanya menjadi “janji” semata. Klaim seperti ini pada akhirnya menjadi misleading. Di Athena, stadion volley yang dibangun untuk Olympiade pada akhirnya ditinggali penghuni liar, stadion softball ditumbuhi pepohonan. Di Beijing arena balap sepeda yang dibangun dengan biaya mahal itu dipenuhi gulma. Ini terjadi karena semua infrastruktur yang dibangun dengan utang itu membutuhkan biaya perawatan yang cukup mahal yang diwariskan kepada pemerintah berikutnya.

Selain itu, tidak ada bukti nyata bahwa menjadi tuan rumah suatu kegiatan olahraga bertaraf internasional akan menyumbang devisa yang besar dari sektor pariwisata. Menurut catatan The Economist, olimpiade yang digelar di Beijing dan London hanya menarik minat sedikit pengunjung dibanding penyelenggaraan Olimpiade tahun-tahun sebelumnya.

Jadi pertanyaannya, apakah Pemerintah Indonesia bisa menjamin investasi senilai hampir Rp40 triliun itu worth it untuk perekonomian Indonesia? Mega event Asian Games 2018 ini sejak awal dijanjikan akan menggerakkan perekonomian negara, atau minimal kota yang menjadi venue atau tuan rumah penyelenggaraan acara. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dikabarkan membuat riset tentang hal ini. Menurut Bappenas, AG 2018 di dua kota itu akan mendorong pengeluaran pengunjung senilai Rp3.568 triliun yang berasal dari Rp 583.429 wisatawan dalam negeri dan mancanegara. Selain itu, katanya, AG 2018 menciptakan tambahan lapangan pekerjaan sebanyak 108.800 di Jakarta dan Palembang. Bahkan Bank Indonesia dikabarkan membuat prediksi Asian Games akan berkontribusi sebesar 0,2%-0,3% terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018.

Karena alasan itulah pemerintah kemudian menanamkan investasi senilai Rp29.7 triliun untuk pembangunan infrastruktur, yaitu pembangunan fasilitas pendukung seperti Gelora Bung Karno, Stadion Jakabaring, Wisma Atlet dan Light Rapid Transit (LRT). Pemerintah juga mengalokasikan belanja untuk operasional penyelenggaraan total senilai Rp7.9 triliun.

Pendapatan Inasgoc sendiri dari penyelenggaraan event ini ternyata tidak bisa menutup cost. Inasgoc hanya mendapatkan maksimal Rp1.8 triliun dari sponsor—sebagian besar sponsor adalah Badan Usaha Milik Negara, Rp60 miliar dari penjualan tiket, dan Rp7 miliar dari penjualan merchandise. Tidak disebutkan berapa pendapatan Inasgoc dari royalti hak siar media partner SCTV Group.

Dengan total biaya penyelenggaraan AG 2018 senilai hampir Rp38 trilun ini, worth it kah event ini bagi perekonomian Indonesia? Sejauh ini, dampak positif yang kasat mata dari penyelenggaraan AG 2018 adalah meningkatnya impresi masyarakat Indonesia kepada Pemerintah Indonesia dan Kepala Negara serta dampak emosi bangkitnya kebanggaan anak bangsa. Event ini juga dinilai bisa menyatukan perbedaan pandangan politik yang memecah bangsa jelang Pemilihan Presiden pada tahun depan. “Sebuah pemandangan yang menyejukkan ketika dua pemimpin (Presiden Jokowi dan Calon Presiden Prabowo) berpelukan bertiga bersama pemegang medali emas pencak silat Hanifan Yudani Kusuma, sesaat setelah si atlet melakukan selebrasi,” kata Siwo, demikian Yuswohady biasanya disapa.

Akhirnya, dibutuhkan pembuktian bahwa Asian Games 2018 ini memang berdampak kepada perekonomian nasional. Juga diperlukan pembuktian bahwa penyelenggaraan AG 2018 berdampak kepada nation brand Indonesia. Pembuktian ini barangkali bisa dilakukan melalui survei kepada khalayak dunia internasional, bukan kepada masyarakat Indonesia.

Siwo pada awal presentasinya membandingkan manfaat perhelatan AG 2018 dengan perhelatan Olimpiade 2008 di Beijing, yaitu untuk melakukan diplomasi global dalam rangka membentuk persepsi baru Cina dengan keajaiban ekonomi dan kemampuan penguasaan teknologinya. Kejayaan Cina ini, katanya, tergambar pada Beijing National Stadium (“Bird's Nest Stadium”) yang berbentuk menyerupai sarang burung. Diplomasi global ini, lanjutnya, dilakukan dalam satu paket karena dalam waktu hampir bersamaan Cina menjadi tuan rumah dua event besar lainnya, yaitu Shanghai World Expo 2010 dan Asian Games Guangzhou 2010. Melalui Olimpiade dan Asian Games, kata Siwo, Cina ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dia sednag bertransformasi menjadi kekuatan baru ekonomi dunia menandingin Amerika Serikat. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)