Google Kampanye “Growing With Google”

Asian Development Bank mengungkapkan bahwa 98% bisnis di Asia merupakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Segmen ini berkontribusi kepada 50% GDP. Sementara di Indonesia, menurut catatan Google, segmen UMKM yang jumlahnya 55 juta malah menguasai hampir 100% usaha, atau tepatnya 99,99%, dan berkontribusi kepada lebih dari 60% GDP dan 97% jumlah tenaga kerja Indonesia.

Dengan jumlah UMKM sebanyak itu, mestinya kontribusi mereka kepada perekonomian nasional bisa lebih besar. Dan penggunaan media digital untuk pemasaran mestinya bisa meningkatkan kontribusi mereka kepada perekonomian. Sayangnya, tidak sampai 16% bisnis di Indonesia memiliki situs website sendiri. Padahal, hampir separuh penduduk di Indonesia sudah menggunakan internet.

Tak heran, jika Google serius mengedukasi UMKM di Indonesia, termasuk di kawasan Asia Pasifik untuk segera Go-Online. Salah satu cara yang dilancarkan Google dalam mewujudkan misi tersebut adalah dengan melakukan pendekatan Public Relations (PR).

Banyak upaya edukasi UMKM yang sudah dilakukan Google, upaya paling anyar dilakukan pada 11-13 April lalu di mana Google mengedukasi media di kawasan Asia Pasifik tentang upaya yang dilakukannya untuk membantu pertumbuhan bisnis perusahaan, terutama perusahaan berskala UMKM.

Pada kesempatan itu Google Asia Pasifik mengundang puluhan wartawan di kawasan Asia Pasifik—seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Singapura, Jepang, dan China—untuk mengikuti program “Growing with Google” di kantor pusat Google Asia Pasifik di Singapura. Dan, Majalah MIX-Marketing Communication, bersama empat media lainnya di Indonesia, mendapatkan kesempatan istimewa untuk mengikuti program tersebut.

Menurut Karim Temsamani, President Google Asia-Pacific, teknologi digital memiliki dampak yang signifikan terhadap bisnis. "Teknologi membantu perusahaan untuk berinovasi, menciptakan hubungan yang lebih dalam antara perusahaan dengan konsumennya, serta membangun ekosistem perusahaan yang baru," katanya pada acara tersebut. Karim membawakan tema “How Digital Technology Powers Business”.

Hadir bersama Karim adalah Melanie Silva, Managing Director Go To Market Strategy & Operations for Google Asia-Pacific, yang membawakan tema “How Digital Ads Help Businesses Grow”. Sementara Managing Director Google Marketing Solutions Google Asia Pacific Kevin O’Kane memaparkan isu “How the Web Helps Small Businesses Grow”; Arjun Narayan, Head of Trust & Safety Google Asia Pacific mengupas tema “Creating A Digital Ecosystem that Works for Everyone”; Mauro Sauco, Technical Director Office of The CTO Google Cloud, memaparkan tema “How the Cloud Powers Business Innovation”; dan Jeremy Butteriss, Managing Director Global Partnership Google Asia Pacific, membahas tema “How Technology Powers Partner Innovation”. Tentu saja, sejumlah UMKM di Asia Pasifik dihadirkan untuk berbagi pengalaman sukses mereka dalam memanfaatkan teknologi digital. Selain itu, media dari Indonesia juga diberi kesempatan untuk mewawancarai Arsianne Sanjaya, Community & Social Platform Program Lead, terkait Google AdWords untuk Indonesia.

Berikut ini adalah laporan khusus Jurnalis Majalah MIX, Dwi Wulandari, dari kantor pusat Google Asia-Pacific di Singapura, pada pertengahan April 2018.

Kunci Pertumbuhan Bisnis Perusahaan

Teknologi digital tidak hanya mampu menciptakan produk, namun juga ekosistem serta keterhubungan antara konsumen, partner (seperti publisher dan developer), serta pengiklan.”

Demikian diungkapkan Karim Temsamani, President Google Asia-Pacific, pada saat membuka program ‘Growing with Google’ pada 12 April lalu di Kantor Pusat Google Asia-Pacific di Singapura. Melalui teknologi digital, menurut Karim, UMKM dapat berinteraksi secara tepat dan cepat dengan konsumennya ketiga mereka mencari produk atau jasa tertentu.

Begitu juga dengan kreator konten, dapat menjangkau penonton yang lebih luas dan mewujudkan kreativitas mereka menjadi bisnis lewat teknologi digital. Sementara publisher, dapat memanfaatkan teknologi digital untuk memonetisasi konten sekaligus mempromosikan diri. Bagi developers, mereka dapat menghubungkan miliaran orang di tengah booming-nya ekonomi aplikasi global.

Ditegaskan Karim, ada tiga elemen inti dari sebuah ekosistem di era mobile. Ketiganya adalah konsumen, partner (seperti publisher dan developer), serta pengiklan. "Google sebagai perusahaan yang menawarkan layanan atau produk  teknologi memiliki tanggung jawab untuk membangun ekosistem tersebut. Antara lain dengan menghadirkan tujuh produk atau layanan dengan miliaran pengguna seperti Search, Maps, Android, Play, YouTube, Chrome, dan Gmail," paparnya.

Ketujuh produk tersebut bukan hanya sebuah aplikasi, tetapi juga platforms. Dengan platforms, inovasi bisa datang dari mana saja dan siapa saja bisa menciptakan produk yang popular. Ia mencontohkan bagaimana Google’s Platforms Search mampu membantu orang untuk mendapatkan jawaban yang relevan dengan mudah. Bahkan, mesin pencari Google juga dapat membantu mendorong traffic ke website perusahaan dan membantu pengiklan untuk menjangkau konsumennya di saat yang sama ketika konsumen mencari produk mereka.

Sementara itu, Android sebagai sistem operasi mobile open source pertama kali diluncurkan, saat ini telah mendukung lebih dari dua miliar perangkat dari 1.300 produsen hardware. "Google Play menghubungkan developer aplikasi dengan lebih dari satu miliar konsumen potensial. Tahun lalu, terdapat 82 miliar aplikasi yang diunduh melalui platform ini. Adapun YouTube telah dikunjungi lebih dari 1,5 miliar orang setiap bulannya, dan ada lebih dari 1 miliar jam (video) yang ditonton setiap harinya," tutur Karim.

Selain melalui produk, diakuinya, Google juga berkomitmen untuk memastikan setiap bagian dari ekosistem tersebut berkembang. "Kami melakukan itu dengan dua cara. Pertama memastikan partner kami memperoleh keuntungan dengan pertumbuhan platform kami, di mana dalam tiga tahun terakhir, kami telah membayar lebih dari US$ 24 miliar kepada developer, kreator, dan publisher partner kami di Asia Pasifik. Kedua, kami sadar bahwa kami memiliki tanggung jawab untuk melindungi masyarakat dan bisnis dari pihak yang ingin memanfaatkan ekosistem terbuka kami untuk niat yang tidak baik atau merugikan orang lain. Untuk itu, kami berkomitmen penuh untuk menjaga keamanan platforms ini karena bisnis kami bergantung pada platforms ini," tuturnya.

Selain itu, Google juga siap mengembangkan teknologi digitalnya dari Mobile-First menjadi Artificial Intelligence (AI)-First. "AI akan menciptakan platforms masa depan dan menumbuhkan ekosistem baru yang tidak dapat kita bayangkan. Bagi Google, AI akan memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat sama seperti mobile apabila dapat diakses oleh semua orang dan masyarakat memiliki kemampuan untuk berkembang dalam ekosistem tersebut di masa depan," pungkasnya.

Mengapa UMKM Harus Go-Online?

“Setiap bisnis seharusnya menjadi bisnis online,” tegas Managing Director Google Marketing Solutions Google Asia Pacific Kevin O’Kane. Keyakinan Kevin tersebut bukan tanpa alasan. Lantaran, data yang dirilis oleh Consumer Barometer 2017 menunjukkan bahwa konsumen di Asia Pasifik lebih banyak menghabiskan waktu mereka di media online, terutama mobile.

Di Singapura dan Korea Selatan, lebih banyak orang yang memiliki telepon selular dibandingkan TV. “Bahkan, di Indonesia, jumlah pengguna smartphone tumbuh sangat signifikan, dari yang hanya 16% di tahun 2013 menjadi 60% di tahun 2017. Itu sebabnya, mobile dan internet telah mengubah cara kerja dan bisnis dari UMKM,” yakinnya.

Bagi Google, UMKM merupakan segmen penting. Sebab, kustomer pertama Google di HongKong, Thailand, Jepang, Singapura, dan Indonesia justru datang dari segmen UMKM. “Sebagai wujud tanggung jawab kami terhadap segmen kunci ini (UMKM), Google menghadirkan sejumlah tools dan program gratis untuk segmen UMKM,” lanjutnya.

Sederet tools dan program yang dimiliki Google untuk segmen UMKM adalah Market Finder, Google Analytics, Google Trends, Google MyBusiness, YouTube, Test My Site, Google Digital Garage, Go Global, dan WomenWill. Pada tools Market Finder dan Google Trends misalnya, Google membantu UMKM mengukur minat konsumen terhadap produk mereka. Melalui Analytics, pelaku UMKM dapat memahami performa situs atau aplikasi mereka. Adapun YouTube dapat digunakan UMKM untuk bertemu dan berinteraksi dengan pelanggan. Sedangkan lewat Test My Site, UMKM dapat mengecek kecepatan situs mobile dan membantu meningkatkan performa situs mereka.

Selain itu, dikatakan Kevin, Google juga memiliki serangkaian program untuk meningkatkan kompetensi bagi UMKM. Mengingat, tak sedikit pelaku UMKM yang masih belum “melek” digital. Program tersebut antara lain, “Digital Garage” di mana di beberapa negara seperti India, Indonesia, Australia, Jepang, dan Taiwan menawarkan pelatihan digital dan pemasaran online secara gratis.

Di Indonesia sendiri, program meningkatkan kompetensi tersebut dikenal dengan nama “Gapura Digital”. Diterangkan ‎Consumer and Corporate Communications ‎Google Indonesia Jason Tedjasukmana, Gapura Digital merupakan program yang mendukung UMKM di Indonesia untuk memajukan bisnis melalui teknologi digital. “Ada sejumlah topik yang dihadirkan, di antaranya trend digital, membangun portal usaha, hingga tips membuat SEO,” ucapnya.

Gapura Digital awalnya diselenggarakan Google bersama Kibar pada tahun 2014 silam. Gapura Digital juga telah menjangkau 7.000 UMKM di berbagai kota Indonesia, sebagai upaya membantu pemilik UKM dalam memaksimalkan internet bagi pengembangan usaha mereka.

Salah satu program dari Gapura Digital adalah kegiatan pembuatan web melalui layanan Google Bisnisku yang diluncurkan pada Mei 2017 lalu. Program tersebut diikuti dengan rangkaian workshop gratis bagi para pelaku UMKM di sepuluh kota di Indonesia.

Program lainnya dari rangkaian Gapura Digital adalah WomenWill yang dilakukan di lebih dari 25 negara, termasuk Indonesia, untuk membantu wanita dalam memanfaatkan teknologi digital. Di Indonesia, program tersebut dihadirkan lewat Konferensi Womenwill 2017 di sejumlah kota dan diikuti oleh ribuan pengusaha wanita. Rangkaian acaranya mulai dari sharing oleh pengusaha wanita yang telah berhasil membuktikan dirinya di dunia bisnis, edukasi, dan solusi praktis tentang cara menggunakan teknologi untuk memajukan usaha secara mudah dan efisien, hingga memperoleh akses untuk bergabung dalam komunitas UMKM wanita yang memiliki pengalaman dan passion dalam teknologi melalui komunitas GBG (Google Business Group).

Fakta Unik UMKM di Indonesia

Dibandingakan dengan negara-negara lain di Asia Pasifik, ada tiga ciri unik yang dimiliki UMKM di Indonesia. Menurut Arsianne Sanjaya, Community & Social Platform Program Lead-Google AdWords untuk Indonesia, yang akrab disapa Anne, ketiganya adalah UMKM Indonesia memiliki pertumbuhan yang sangat pesat pada digital advertising, terjadinya fenomena mobile, dan transaksi lewat bank transfer yang melebihi kartu kredit.

Dikatakan Anne, pertumbuhan Long-Tail SMB (Small Medium Business) yang eksponensial melebihi pertumbuhan di segmen middle dan upper. Bahkan, ada gap yang sangat besar di antara keduanya. Tak heran, jika pasar periklanan di Indonesia menjadi sangat menonjol jika dibandingkan dengan pasar di Asia Pasifik. “UMKM di Indonesia juga sangat bersemangat untuk go-online,” tandasnya.

Keunikan kedua adalah fenomena mobile yang terjadi pada segmen UMKM di Tanah Air. Diungkapkan Anne, merujuk data ComScore 2017, Indonesia menempati peringkat tertinggi kedua di global terkait jumlah pengguna yang hanya menggunakan mobile. Angkanya mencapai 67% terhadap total populasi digital. Hal itu ditandai dengan tingginya penggunaan smartphone untuk melakukan belanja online. “Untuk itu, penting bagi UMKM di Indonesia menghadirkan website yang mobile-friendly,” yakinnya.

Hal unik lainnya adalah bank transfer yang jauh mengungguli kartu kredit. Menurut Anne, di negara-negara lain, biasanya pertumbuhan e-Commerce diikuti dengan kenaikan transaksi kartu kredit. Akan tetapi, tren itu tidak berlaku di Indonesia. Di tengah pertumbuhan pesat e-Commerce di Indonesia, penetrasi kartu kredit hanya 5%. Bahkan, pertumbuhan kartu kredit di Tanah Air tercatat stagnan.

“Dan, transfer melalui bank telah mendominasi pembayaran yang terjadi di e-Commerce, yakni mencapai 80%. Bahkan, banyak UMKM di Indonesia yang hanya menerima pembayaran lewat bank transfer dan COD (Cash on Delivery), tanpa memberikan pilihan pembayaran lewat kartu kredit,” papar Anne.

Selain tiga keunikan tadi, menurut Anne, fakta lain yang harus dicermati oleh para pelaku UMKM adalah kebiasaan orang Indonesia dalam mencari informasi. Tak kurang dari 69% orang Indonesai mencari informasi pertama lewat internet. Selain itu, 80% adopsi digital berpotensi meningkatkan pendapatan UMKM hingga sampai 80%. Bahkan, keterlibatan digital pada UMKM dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi tahunan Indonesia sebesar 2%.

“Untuk itu, Google menggelar inisiatif sosial #GoogleDidikUKM. Di antaranya, melalui program Gapura Digital, WomenWill, dan yang terbaru yang baru saja di soft launching April ini adalah Komunitas Pengiklan Google,” tuturnya.

Komunitas Pengiklan Google adalah konten edukasi eksklusif untuk para pemula, termasuk UMKM. “Semua konten di dalamnya berbahasa Indonesia. Melalui platform tersebut, pemula dapat bertanya hal-hal terkait digital, misalnya cara bagaimana pertama kali membuat iklan di Google atau bagaimana memperbaiki iklan yang tidak disetujui Google. Semua pertanyaan akan dijawab oleh AdWords Experts,” Anne menguraikan.

Mereka yang Sukses Go-Digital

Veewo Games adalah salah satu UMKM di China yang sukses memanfaatkan platform online untuk pertumbuhan bisnis. Jason Yeung, Founder sekaligus CEO Veewo Games, mengatakan bahwa Google Play telah membantu Veewo Games dapam menjangkau orang-orang di seluruh dunia. “Kami memiliki hampir 20 juta unduhan untuk game kami. AdMob juga telah meningkatkan pendapatan kami sampai dengan lusinan kali lipat,” klaimnya.

Veewo adalah pengembang game mobile independen yang hadir sejak tahun 2011. Tantangan terbesar mereka kala itu adalah monetisasi. Melalui tools dari Google, game dari Veewo "Super Phantom Cat" sanggup mencetak 870.000 kunjungan dan 120.000 unduhan dalam seminggu. Bahkan, game-game dari Veewo telah diunduh hampir 20 juta kali. Itu adalah pencapaian langka untuk pengembang game independen di Tiongkok.

Baru-baru ini, Veewo mulai berkolaborasi dengan brand besar seperti Hello Kitty dari Sanrio. Ini adalah pertama kalinya Sanrio bekerja sama dengan pengembang game indie.

Di Indonesia, Go-Jek merupakan salah satu contoh startup yang memanfaatkan Google Cloud platform untuk mendukung ratusan ribu transaksi secara bersamaan dan lebih dari 100 juta internal API Calls per detik dengan response time rata-rata 50 milliseconds. Hasilnya, Go-Jek sukses naik kelas menjadi salah satu “unicorn” (startup dengan valuasi lebih dari US$ 1 miliar) Indonesia. Bahkan, Google pun baru-baru ini telah menyuntikkan investasinya ke Go-Jek.

Tags:
google UMKM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)