Kalbiser, Endorser Efektif Kalbis Institute

Membangun brand dan reputasi kampus dari nol bukan perkara mudah. Ini diakui oleh Kalvin Kristianto, Marketing Manager Kalbis Institute, yang pada 2012 lalu memiliki hajat besar me-rebranding Institute Teknologi dan Bisnis Kalbe menjadi Kalbis Institute. Selain membutuhkan waktu, menurut Kalvin, membangun brand dan reputasi kampus harus ditempuh dengan upaya yang agresif kepada masyarakat, terutama kepada para calon mahasiswa.

“Sejak tahun 2012 sampai sekarang membangun brand image Kalbis masih menjadi prioritas kami. Tidak hanya ke masyarakat, tapi juga ke pengguna lulusan atau stakeholder seperti industri, dan lainnya,” tutur Kalvin.

Namun demikian dia menekankan bahwa kekuatan brand Kalbis Institute bukan semata di reputasi. Ada tiga kekuatan lainnya, yaitu pengembangan softskill, pembentukan karakter, dan career path, terangnya.

Untuk memantau terus perkembangan branding kampusnya, Kalvin mengaku setiap tahun melakukan berbagai review, mulai dari internal review, market review, feeder’s review, hingga competition review. “Itu semua bertujuan untuk mengukur brand equity, communication channel serta melihat ekspektasi para siswa dan orangtua terhadap Kalbis,” ujarnya. Hasil review ini, lanjutnya, kemudian menjadi acuan Kalbis Institute untuk menentukan langkah strategis manajemen dan taktikal campaign yang akan dijalankan pada tahun berikutnya.

Dia mencontohkan langkah strategis meresmikan program baru Business Mathematics yang diambil manajemen setelah melakukan market review. Kalbis meresmikan program baru ini, katanya, karena melihat potensi karir dari lulusan jurusan ini. “Selain itu, jurusan ini juga masih 'langka' tetapi juga sangat diperlukan di Indonesia. Pengambilan keputusan ini tidak lepas dari hasil market review yang telah dilakukan Kalbis sebelumnya,” tuturnya. Pembukaan program baru ini, lanjutnya, juga linear dengan salah satu campaign Kalbis yaitu #Better Education, terus meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Tentang perkembangan branding Kalbis Institute, menurut Kalvin, berdasarkan review yang telah dilakukannya, Kalbiser—sebutan mahasiswa Kalbis—ternyata adalah endorser yang paling efektif dalam membangun reputasi. Para Kalbiser inilah yang merekomendasikan dan menceritakan secara langsung experience mereka selama menuntut ilmu di Kalbis ke calon mahasiswa dan para orangtuanya. Kalbis juga menggunakan para Kalbiser untuk menciptakan Word of Mouth (WOM) di media digital.

Tidak hanya dalam how to communicate, Kalbis juga menggunakan consideration market untuk menciptakan pesan yang dibagikannya dalam kampanye. Pesan tersebut adalah #BetterEducation, #BetterFuture, dan #BetterLife. Pesan tersebut sejatinya juga merupakan nilai-nilai Kalbis yang diimplementasikan dengan melibatkan seluruh mahasiswa, dosen, dan karyawan. Mereka ikut berbagi secara langsung dengan seluruh lapisan masyarakat Indonesia melalui beragam kegiatan sosial yang dimotori oleh Biro Hubungan Tanggung Jawab Sosial, yaitu Kalbis Care & Share, ungkap Kalvin.

Melalui #BetterEducation, Kalbis selalu berusaha memberikan kualitas pendidikan yang lebih baik setiap tahunnya, mulai dari pencapaian institusi, prestasi mahasiswa, sistem pengajaran, koneksi dengan industri, sampai dengan beragam beasiswa yang ditawarkan kepada calon mahasiswa.

Lalu #Better Future, melalui proses pendidikan berkualitas yang didapat mahasiswa, kami mengangkat alumni yang telah berhasil di perusahaan/dunia usaha. Hal ini bertujuan untuk memotivasi calon mahasiswa maupun mahasiswa bahwa pendidikan adalah jembatan menuju masa depan. Pada akhirnya, #Better Life, mengejar masa depan untuk diri sendiri saja tidak cukup, jika tidak diiringi dengan nilai kepedulian untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat sekitar maupun bangsa ini.

Menurut Kalvin, Kalbis tidak hanya membentuk para mahasiswa yang pintar menjadi berhasil, tetapi fokus pada pengembangan setiap ragam potensi yang dimiliki mahasiswa. Inilah yang menjadi kekuatan utama Kalbis. Terutama di saat dunia industri berevolusi dengan cepat dan sangat dinamis, banyak bisnis start up bernilai miliaran yang dimiliki generasi muda, serta tumbuhnya jenis pekerjaan baru di perusahaan yang membutuhkan keahlian khusus.

“Hal ini yang kami angkat bahwa memilih kampus bukan sekadar membandingkan PTS, PTN maupun kampus asing, tapi ada hal besar lain yaitu softskill yang wajib menjadi nilai tambah mereka dan sangat dibutuhkan saat ini. Dan di Kalbis, kami siap menawarkan beragam softskill dan experience, pembentukan karakter serta career path,” tutur Kalvin.

Untuk lebih menambah ketertarikan calon-calon mahasiswa sekaligus meningkatkan semangat para Kalbiser dalma menuntut ilmu, Kalbis juga melakukan penjajakan kerja sama dengan perguruan tinggi asing. Beberapa kerja sama yang telah terjalin di antaranya dengan Southern Cross University (Australia) dan University of Buraimi (Oman).

“Dengan segala upaya yang kami lakukan untuk membentuk reputasi Kalbis selama ini, kami berhasil mendapat kepercayaan dari masyarakat. Bisa dilihat dari jumlah mahasiswa Kalbis dari yang hanya 300 mahasiswa pada 2012, saat ini sudah mencapai sekitar 2.600 mahasiswa,” pungkas Kalvin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)