Ketika Brand Ambassador Menjadi Bumerang bagi Brand

Menggunakan selebritis yang tengah popular sebagai brand ambassador kerapkali dianggap sebagai jalan pintas untuk membangun brand awareness. Terutama, bagi brand baru yang ingin merebut perhatian konsumen di tengah pertarungan kampanye komunikasi yang sangat ketat. Sayangnya, alih-alih harus menggelontorkan biaya yang sangat mahal untuk mengontrak selebritis sebagai brand ambassador, sebaliknya brand malah kurang memetik manfaatnya. Misalnya, pamor selebritis jauh lebih moncer dibandingkan dengan brand yang diwakilinya. Paling apes, sikap dan perilaku sang selebritis sebagai brand ambassador justru menjadi bumerang, bahkan membahayakan kredibilitas brand. FB_IMG_1463662007716 Paling anyar, yang kini tengah ramai dibincangkan di dunia maya adalah Isyana Sarasvati, penyanyi muda yang tengah naik daun. Dikenal sebagai brand ambassador dari situs belanja online Tokopedia, Isyana justru mengaku takut tertipu berbelanja online. Seperti yang dimuat di koran nasional, Isyana mengaku tak pernah berbelanja online dan lebih memilih membeli pakaian di gerai fisik. Sontak saja, ucapan sang brand ambassador itu menjadi bumerang bagi brand Tokopedia. Foto guntingan tulisan tentang Isyana yang takut tertipu berbelanja online pun ramai beredar di dunia maya. Netizen pun berkomentar miring. Mulai dari komentar pedas yang menyalahkan sang brand ambassador, hingga mempertanyakan si pengelola merek ketika memilih Isyana sebagai brand ambassador. IMG-20160519-WA0004 Tak mau larut dengan komentar miring, akhirnya Isyana bersama Tokopedia menjawab isu tersebut dengan bercuit di akun resminya @isyanasarasvati. Pada cuitan yang diakhiri dengan emoticon senyum, ia mengatakan, "Berita soal aku gak berani belanja online memang benar, kalau bukan di Tokopedia." Bukan makin membaik, Isyana kembali "di-bully" netizen di ruang terbuka maya, lantaran memposting cuitannya dengan menggunakan ponsel iPhone. Padahal, ia masih resmi menjadi brand ambassador Oppo. FB_IMG_1463663770486 Lantas, cukupkah apa yang dilakukan Tokopedia dengan mendistribusikan cuitan balik Isyana di dunia maya? Bagaimana dengan Oppo yang masih belum melakukan tindakan apapun terkait isu tersebut? Dosen Komunikasi Universitas Indonesia yang juga pakar Public Relations (PR) Bambang Sumaryanto menegaskan bahwa jawaban sekaligus alasan Isyana tak cukup untuk mengembalikan kredibilitas brand maupun kepercayaan publik. Untuk itu, dianjurkan Bambang, memang sudah saatnya para pemilik merek menyadari bahwa memilih brand amabassador itu bukan sekadar popular. Namun, brand ambassador juga harus menjadi orang yang percaya dan menggunakan brand yang diwakilinya. "Kasus ini seharusnya menjadi pelajaran yang berharga bagi para pemasar yang banyak menggunakan selebritis sebagai brand ambassador produknya. Bila memang pemilik merek tidak mampu meyakinkan sang selebritis menggunakan produknya, cukup selebritis itu ditunjuk sebagai bintang iklan saja," saran Bambang. Ia menambahkan, sebenarnya pihak Tokopedia perlu memanfaatkan momentum itu untuk menjelaskan keunggulan belanja online di Tokopedia dibanding belanja di tempat lain. Misalnya, ada jaminan bila produk yang diterima berbeda dengan yang ada difoto. "Dengan statement semacam itu, maka akan memperkuat statement Isyana bahwa dia hanya berbelanja online kalau di Tokopedia," papar Bambang. Namun, ia mengingatkan, memanfaatkan isu negatif sebagai peluang dapat berhasil jika Tokopedia memang benar memiliki kekuatan itu. "Sebab, kalau kualitas baju yang dijual di Tokopedia sama saja dengan yang lain, maka Tokopedia perlu message dan taktik yang lain," ucapnya. Oleh karena itu, imbuh Bambang, pemilihan brand ambassador perlu melalui seleksi yang ketat. Sebab, dialah yang akan mewakili brand. Pertimbangkan dan perhatikan perilaku sehari-hari selebritis yang akan menjadi kandidat brand ambassador, kepercayaan selebritis terhadap brand, etika si selebritis, dan sebagainya. Ia mencontohkan, jika seorang penyanyi menjadi brand ambassador Piano Yamaha, maka setiap konser semestinya juga mengggunakan piano Yamaha. Bukannya menggunakan piano merek pesaing. "Dengan si selebritis menggunakan brand pesaing, maka kredibilitas brand akan ikut turun," yakinnya.   Melanggar Etika Pariwara Indonesia Menurut Bambang yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Musyawarah Etika Dewan Periklanan Indonesia, ¬†Dewan Periklanan Indonesia sebenarnya sudah mengantisipasi iklan-iklan yang mempromosikan sesuatu yang tidak benar. Hal itu telah diatur di dalam Etika Pariwara Indonesia (EPI) 2014 dimana brand ambassador sebuah produk haruslah pemakai produk itu selama yang bersangkutan menjadi brand ambassador hingga kontraknya berakhir. Ketentuan itu sama dengan testimoni, yang memang harus benar-benar memakainya. Jika ternyata brand ambassador tak menggunakan produk tersebut, maka EPI menganggapnya tak etis, karena iklan tersebut tidak mengatakan yang sebenarnya. "Lain dengan bintang iklan yang memang tidak wajib memakai produk tersebut," urainya. Itu sebabnya, pemilik merek seharusnya memberikan persyaratan agar kandidat brand ambassador bersedia memakai produk yang mengontraknya sebagai brand ambassador. "Kalau dia ternyata malah memakai produk lain atau tak pernah memakai sama sekali, maka perilakunya dianggap tidak etis dan iklannya bisa dikategorikan melanggar EPI," tutupnya.
Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 thoughts on “Ketika Brand Ambassador Menjadi Bumerang bagi Brand”

Apakah isyana saraswati yg bodoh atau tokopedia n oppo yg bodoh dalam menganbil ambassador brand ya? Lain kali perusahaan harus lebih jeli n ambil selebritis yg kredibel
by Rito, 23 May 2016, 06:32
Isyana nggak sepenuhnya salah. Yang salah adalah Manager Marketing perusahaan yang meng-hire nya. Keliatan banget cuma make template dan gak pakai analisis. Trus PR-nya gak kerja
by PicturePlay, 22 May 2016, 01:27
Mending gw aja jadi brand ambassadornye wkwkwk
by Aluvimoto, 20 May 2016, 07:32

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Gandeng HMD Global, Nokia Comeback ke Bisnis Gadget

Produsen peralatan telekomunikasi asal Finlandia, Nokia, berencana akan kembali ke bisnis telepon seluler dan tablet. Seperti dikutip MIX Marcomm dari...

Close