Ketika Langkah Re-Branding Hillary Dijegal Trump

Personal branding menjadi kunci penting pada sebuah kampanye politik. Termasuk, pada kampanye pemilihan Presiden Amerika. Sebab, kampanye Presiden AS modern saat ini merupakan yang pertama, di mana pemilih diminta untuk memilih masa depan Amerika melalui cerita pribadi kandidat serta citra publik mereka.
Former U.S. Secretary of State Hillary Clinton speaks during the "Not There Yet: A Data Driven Analysis of Gender Equality" in New York, March 9, 2015. REUTERS/Lucas Jackson (UNITED STATES - Tags: POLITICS)

Former U.S. Secretary of State Hillary Clinton speaks during the "Not There Yet: A Data Driven Analysis of Gender Equality" in New York, March 9, 2015. REUTERS/Lucas Jackson (UNITED STATES - Tags: POLITICS)

Sebagai brand politik terhormat yang telah mengalami kegagalan besar beberapa waktu lalu, tim Ny. Clinton--alias Hillary Clinton--telah melakukan identifikasi dengan sungguh-sungguh bahwa Hillary sebagai sebuah brand memerlukan beberapa pembaruan citra. Mereka kemudian meluncurkan kampanye dengan strategi soft sell, seperti model yang dilakukan di perusahaan minyak besar atau layaknya perusahaan perbankan dalam mengangkat citra perusahaannya. Proses kampanye tersebut berjalan lancar. Sayangnya, sama seperti iklannya, konten yang meriah terasa tidak masuk akal. Pada iklan itu digambarkan bagaimana seorang Amerika kebanyakan, pensiunan dengan kelebihan berat badan yang sebentar lagi akan menikah dengan pasangan gay-nya. Lalu pasangan itu bicara tentang mimpi masa depan mereka, untuk kemudian  Ny. Clinton muncul di layar untuk menawarkan sebuah solusi bagi orang kecil tersebut. Tentu saja, langkah re-branding yang dilakukan Hillary sebagai "New Clinton" tidak dilewatkan oleh kompetitornya. Di dunia politik seperti itu, kompetitor selalu memperhatikan dengan cermat kesempatan untuk mendapatkan fire back. Pada minggu itu, Partai Republik sudah bersiap untuk mengawali proses menjatuhkan lawan potiknya dengan menghancurkan brand “New Clinton”. Strategi itu dimulai dengan “Clinton Cash”, sebuah buku yang akan diterbitkan oleh Peter Scheizer, seorang jurnalis yang memposisikan dirinya sebagai seseorang yang konservatif. Ia memetakan secara detil adanya garis kabur antara kekayaan pribadi dari Clinton dengan kekayaan yang didapatkan dari aksi filantropinya. “Mesin” Clinton tentu saja segera bereaksi. Mereka menilai Schwaizer sebagai pekerja partisan yang karyanya dibayar. Buku itu disebut-sebut  tidak lebih sebagai upaya untuk memutarbalikkan fakta-fakta yang sebelumnya sudah diketahui, alias sebagai teori konspirasi yang absurd. Selanjutnya, tim Demokrat membuat sebuah taktik yang sebenarnya usang bagi Clinton. Yakni, dengan menyerahkan materi yang mereka miliki ke media utama lainnya di sana, seperti NewYork Times dan The Washington Post. Hasilnya, sebelum “Clinton Cash” masuk toko buku, deretan informasi mematikan tentang keuangan Clinton justru muncul. Sebuah berita besar tentang bagaimana Clinton lebih dari satu dekade membayar $26M untuk personal speaker dari firma yang mendonasikan biaya filantropinya. Pada bagian ini, Schwizer tidak menuduhnya sebagai sebuah dosa besar, namun bicara tentang sebuah “teladan” dengan memunculkan sebuah hubungan antara Clinton, badan amalnya, dan pengaruhnya di dunia, dengan mengutip pernyataan Ny. Clinton bahwa The Deck penuh kebaikan orang-orang top. Fakta buruk itu diperparah oleh keputusan Ny Clinton untuk menghapus 30 ribu email setelah dia selesai sebagai Sekretaris negara. Namun, pukulan paling telak adalah  kabar tentang penjualan tambang uranium ke Rusia seharga $ 600juta yang sebenarnya  butuh regulasi persetujuan Departemen Luar Negeri yang dipimpin Hillary. Ia menemukan data bahwa vendor sosial keluarga telah mendonasikan $2.35 juta untuk Yayasan Clinton. KANDIDAT calon presiden (capres) Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik Donald Trump, Rabu (22/6) waktu setempat, kembali menyerang rivalnya, kandidat capres dari Partai Demokrat Hillary Clinton termasuk pula suaminya, Bill Clinton. Trump menyebut Bill Clinton, mantan presiden AS, diduga menerima pembayaran dari ratusan pidato yang disampaikan di seluruh dunia. Istri Bill, Hillary Clinton, juga dituduh melakukan hal serupa. Hillary menerima bayaran dari pidatonya yang mendapat undangan dari sejumlah kelompok penting, organisasi, dan perusahaan profesional di wilayah AS dan Kanada. Bahkan menurut analis CNN, pasangan politisi itu telah menerima bayaran US$153 juta untuk menjadi pembicara selama periode 2001-2015. Periode yang sama, sebagian dari dana Yayasan Clinton yang berdiri pada 2001 itu disebutkan dibiayai entitas asing, warga negara, perusahaan, dan pemerintah. Sejumlah kritik mengatakan uang yang mengalir ke yayasan atau bayaran pidato bertujuan untuk memengaruhi kebijakan politik luar negeri AS terutama saat Hillary menjabat senator sejak 2001-2009 dan menteri luar negeri pada 2009-2013. Meskipun tidak ada bukti kuat yang memberatkan Clinton terlibat korupsi, saingan dalam satu partai, Bernie Sanders, juga mengkritik Clinton karena memberikan uang kepada pebisnis Wall Street untuk berbicara meskipun sampai saat ini belum diketahui konten apa yang dibicarakan. Salah satu kritikus terbesar Clinton ialah Peter Schweizer, penulis buku Clinton Cash yang dipromosikan Trump dan pendukungnya. Buku tersebut berisikan dokumen bagaimana Bill dan Hillary menggunakan Departemen Luar Negeri AS untuk memperkaya keluarga mereka. Sementara itu, pendukung Clinton mengatakan tidak ada bukti kesalahan dilakukan pasangan tersebut dan mengutip beberapa kesalahan fatal dalam buku tersebut. Mereka mengatakan buku karya Peter Schweizer telah mengungkapkan fakta-fakta yang salah. Pengarang yang membuat buku biografi mantan Presiden George W Bush itu telah menulis banyak kesalahan. Pendukung Clinton meyakini buku tersebut bertujuan menjatuhkan nama baik Hillary dan Bill Clinton jelang pemilihan presiden AS yang digelar pada November mendatang. Trump dinilai mengkhawatirkan popularitas Hillary. (Sumber: Telegraph.co.uk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Dua Dekade Eksis di Bisnis Klinik Kecantikan, Begini Strategi MIRACLE

Bisnis klinik kecantikan di Indonesia tercatat sangat menjanjikan. Hal itu ditandai dengan makin banyaknya pemain di industri tersebut. Meski tidak...

Close