Unpar Siap Berkompetisi dengan Kampus Asing

Era Masayarakat Ekonomi ASEAN (MEA) rupanya berdampak pula pada industri Perguruan Tinggi di Tanah Air. Selain harus mampu bertarung dengan sesama kampus lokal, kini perguruan tinggi di Indonesia juga harus berkompetisi dengan kampus asing. Maklum saja, pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, telah mewacanakan untuk mengizinkan kampus asing beroperasi di Indonesia. Setidaknya, ada sekitar 5-10 Perguruan Tinggi asing yang tengah bersiap membuka perwakilannya di Tanah Air.

Diungkapkan Dianta Hasri N. Barus ST, MM, dosen serta Marketing Manager Universitas Parahyangan (Unpar), sebetulnya dari dulu kampus lokal sudah bersaing secara tidak langsung dengan kampus asing. Hal itu dapat dilihat dari semakin meningkatnya siswa Indonesia yang belajar ke luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Australia, dan negara lain.

“Namun, bila kita ingin melihat plus minusnya, maka nilai plusnya bagi kampus lokal adalah mereka bisa belajar tentang kualitas pendidikan dan dapat lebih jauh berkolaborasi agar terjadi sharing knowledge. Minusnya, saya rasa pasar akan semakin ketat persaingannya di segmen pasar tertentu. Akan tetapi, di segmen lainnya yang berfokus kepada budget study, akan tetap memiliki daya jelajah pasar yang luas. Sebab, pada dasarnya, pendidikan adalah produk yang sekarang kekurangan supply dibanding demand-nya,” papar Dianta.

Diakuinya, siap-tidaknya kampus lokal dalam menghadapi masuknya kampus asing ke Indonesia, harus dilihat dari banyak aspek. Namun, yang paling perlu diperhatikan adalah market di segmen A dan B akan semakin ketat. “Adaptasi pemasaran harus ada pastinya. Dan beberapa kampus sudah siap. Artinya, kehadiran kampus asing menuntut kampus lokal mengubah cara pemasarannya agar dapat bersaing secara efektif, alias bukan lagi hanya menunggu,” katanya.

Di sisi lain, kampus lokal sejatinya menuntut fairness dalam penerapan kebijakan ini nantinya. “Kami yakin Pemerintah memiliki regulasi yang telah dipertimbangkan dengan baik. Namun, akan lebih baik bila kita dapat berfokus pada pertumbuhan kualitas Perguruan Tinggi dibandingkan jumlah mahasiswanya.”

Diyakininya, Pendidikan tinggi adalah produk dengan High Relationship Product. Artinya, butuh pertimbangan yang panjang dan kompleks hingga seseorang memilih kampus tertentu. Untuk itu, image atau reputasi adalah major point untuk bersaing.

“Dari dulu, kami dapat melihat bahwa image sebuah Perguruan Tinggi tercipta karena dua faktor utama, yaitu Experience dan Achievments. Experience dilihat dari sudah berapa lama kampus tersebut, siapa-siapa saja lulusan dan dosen nya. Lalu, Achievments berbicara mengenai apa yang telah dicapai para sivitas hingga saat ini, apakah itu di kejuaraan akademik, riset, dan lain-lain.” Namun, katanya, di masa di mana arus informasi begitu deras memenuhi ruang publik dan generasi millenials yang dominan dan bersemangat melahap informasi itu lewat internet, ini diperlukan lagi satu aspek utama dalam pemasaran kampus, yaitu marketing communication yang terintegrasi, intens, dan terukur. Sayangnya, belum semua Perguruan Tinggi melakukan ketiga hal itu dengan baik,” paparnya.

Menurut Dianta, ada tiga tantangan utama saat ini yang harus dihadapi Perguruan Tinggi lokal, yaitu adaptasi media digital, pengenalan perilaku millenials, dan Penerapan Pola Pendidikan yang aplikatif relevan dengan kebutuhan industri atau gaya hidup manusia aman now.

“Pasar Perguruan Tinggi itu unik, karena setiap tahun konsumennya berganti. Anda hanya sekali lulus SMA dan memilih kampus apa yang Anda inginkan. Sangat sedikit orang yang kembali berkuliah di strata yang sudah dia lulus sebelumnnya. Dan, setiap generasi memiliki karakter yang berbeda. Itu artinya, saat kita memasarkan ke Baby Boomers, maka kita menggunakan metode A. Selanjutnya, saat ke generasi X, Y, Z, tentu saja masing-masing menggunakan metode yang berbeda. Untuk itu, agar Perguruan Tinggi tetap relevan di pasar, maka mereka perlu untuk repositioning berkala. Walaupun secara Brand Life Cycle tidak secepat yang terjadi di industri lainnya,” ia menerangkan.

Unpar sendiri, diungkapkan Dianta, secara berkala melakukan monitoring tentang citra kampus, dengan cara melakukan survei dan kolaborasi dengan konsultan/praktisi terbaik di bidangnya. Sebab, kolaborasi adalah salah satu cara untuk mempertahankan citra. “Sampai saat ini, kami dapat melihat citra tersebut terjaga dan berkembang,” tandasnya.

Oleh karena itu, ada banyak hal yang telah dilakukan oleh Unpar untuk memelihara reputasi. Di antaranya, pemasaran terintegrasi dari hulu hingga hilir, baik ATL (Above the Line) dan BTL (Below the Line) serta integrasi teknologi informasi dalam penerapannya. “Langkah ini kami lakukan agar kami bergerak lebih ekspansif dan terukur,” ujar Dianta, yang menyebutkan bahwa citra dan positioning yang tengah dibangun Unpar adalah sebagai kampus yang dinamis, humanis, dan berfokus kepada kualitas.

Saat ini, dalam membangun citra kampus, Unpar juga aktif untuk melakukan release hasil pemikiran/berita di media berbayar dan organik. Kebanyakan dari kerja sama tersebut dilakukan di portal digital dengan segmen-segmen khusus. “Selain itu, alumni merupakan produk utama dari kampus. Jadi, konten-konten soft branding sebuah kampus seharusnya juga dapat mengekploitasi hal tersebut. Pendeknya, secara overall, kami sudah bersiap dengan sistem marcomm yang telah terintegrasi dengan segenap stakeholder maupun media-media yang related dengan segmen yang kami ingin tuju. Yes, we are ready to compete,” yakinnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)