Empat Kesalahan yang Seringkali Dilakukan Startups

StartUps

Sebagai pemula yang minim biaya marketing, startup dituntut untuk jeli merancang strategi marketing mereka. Seringkali hidup-mati startup ditentukan oleh strategi marketing yang mereka rancang. Oleh karena itu, sekali startup salah langkah dalam merumuskan strategi marketing mereka, maka akibatnya akan sangat fatal.

Diana Labire, seperti yang dirilis Tech.co, mengungkapkan empat kesalahan yang umum dilakukan oleh para startup saat merancang strategi marketing.

#1 Tidak Melacak CPA (Cost Per Acquisition) Rate Ketika Anda baru memulai bisnis, memang sulit untuk menentukan metode terbaik untuk mendapatkan sekaligus meningkatkan pelanggan. Pemasar yang cerdas tentu saja tidak akan menaruh semua biaya atau anggaran hanya dalam salah satu saluran pemasaran. Sebaliknya, pemasar cerdas akan membuat anggaran terpisah untuk menguji strategi yang berbeda. Misalnya, menganggarkan untuk pemasaran konten (content marketing), pemasaran email (email marketing), strategi PR (Public Relations), SEO (Search Engine Optimization), media sosial, dan sebagainya. Singkirkan hal-hal yang tidak perlu dianggarkan, untuk fokus pada pada taktik yang mampu menciptakan CPA tertinggi.

#2 Tidak Mencoba Growth Hack Growth hacking, sejatinya telah menjadi strategi dalam memenangkan persaingan. Hal itu sudah dibuktikan oleh sejumlah merek seperti Basecamp, Dropbox, Pinterest, dan Airbnb. Growth hack yang cerdas dapat dengan mudah membuat bisnis Anda ke tingkat yang baru. Namun, banyak pemasar memilih untuk tidak mencobanya. Mengapa? Karena growth hacking membutuhkan waktu, kreativitas, dan investasi. Anda mungkin lebih sibuk mencermati analytics, menganalisis kampanye pemasaran sebelumnya, dan menghitung lead melalui afiliasi. Sebaliknya, Anda (startup) tidak punya waktu untuk duduk dan bermimpi bagaimana Anda dapat menggunakan teknologi untuk menciptakan cara kreatif baru untuk memasarkan produk Anda, antara lain lewat growth hacking.

#3 Mengabaikan Bad Numbers Sejumlah ide besar kadangkala tidak bekerja atau berjalan denga baik. Dan, hal itu tidak selalu kesalahan Anda. Ketika Anda menggunakan analytics, maka saatnya Anda meninggalkan hal-hal yang dianggap bias. Jika angka-angka dalam analitycs tersebut mengatakan bahwa pemasaran Anda tidak bekerja, maka Anda harus segera menarik stretegi atau kampanye itu. Bahkan, jika CPC dan CPV numbers tidak terlihat cukup menarik setelah sebulan kampanye iklan dijalankan, jangan menunggu sebulan lagi untuk dipertahankan hanya karena Anda berharap akan ada hasil yang lebih baik di bulan berikutnya.

#4 Meremehkan Value yang Dimiliki Iklan Jangka Panjang Dengan memanfaatkan saluran pemasaran seperti iklan display atau iklan sederhana di media sosial, maka Anda telah membayar sekian dolar dan Anda berpeluang mengukur berapa banyak impresion yang dapat diperoleh. Tentunya, dengan melacak jumlah orang yang meng-klik iklan tersebut. Namun, taktik pemasaran lainnya tidak begitu mudah untuk melakukan pengukuran sepeti itu. Contohnya, untuk strategi influencer marketing dan content marketing. Keduanya adalah iklan jangka panjang dan Anda tidak bisa menyamakan harganya dengan iklan jangka pendek seperti iklan display. Iklan jangka panjang membutuhkan waktu untuk melihat hasil yang terukur. Tidak seperti iklan display, iklan jangka panjang memiliki value yang berumur panjang pula, termasuk paska Anda berhenti berinvestasi di iklan jangka panjang. Contohnya, content marketing yang dapat terus membawa hasil selama rentang waktu yang lama. Begitu juga dengan Influencer Marketing. Influencer akan terus mempromosikan merek Anda kepada follower mereka, bahkan setelah kampanye berakhir.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Read previous post:
Dihujani Petisi Pelanggan Indihome, Buntut dari Kurangnya Komunikasi Telkom dengan Pelanggan?

Belum rampung kasus Netflix yang diblokir oleh pihak Telkom dan IndiHome, perusahaan BUMN tersebut kini harus berurusan dengan pelanggannya sendiri...

Close