Mengapa Video Digital akan Menjadi Media Pemasaran Masa Depan?

Penelitian yang dilakukan oleh Sequent Partners mengungkapkan bahwa fungsi dari video digital tengah bergeser. Jika dulu video digital digunakan sebagai tools atau alat pencitraan merek (branding), kini bergeser menjadi alat penjualan bagi merek. Masih menurut survei yang dilakukan kepada lebih dari 200 pemasar dari industri ritel, CPG (Consumer Packaged Goods), otomotif, dan travel tersebut terungkap sejumlah alasan mengapa perubahan itu terjadi.

Salah satu alasannya adalah pemasar berada di bawah tekanan konstan untuk memberikan hasil penjualan yang lebih baik. Hal itu terkait laporan Russell Reynolds baru-baru ini, yang menyebutkan bahwa terjadi kenaikan turn over di level Chief Marketing Officer (CMO). Alasan lainnya, pengiklan belajar bahwa menguasai empat keterampilan utama akan menghasilkan ROI (Return of Investment) video digital yang kuat.

Dari survei tersebut, ada sejumlah temuan utama tentang video digital yang menarik disimak oleh pemasar. Pertama, video digital akan menjadi generator pendapatan utama bagi pemasar. Terbukti, 65% pemasar mengatakan bahwa video digital semakin penting untuk mendorong penjualan offline. Pandangan pemasar tentang video digital di masa depan sangat kontras dengan situasi saat ini. Pemasar lebih cenderung melihat video digital sebagai alat branding, di mana lebih dari separuh responden melihatnya sebagai alat unggulan untuk membangun kesadaran dan kecanggihan merek, menceritakan kisah merek mereka, dan terhubung dengan konsumen secara emosional.

Kedua, persepsi pemasar terhadap video digital telah bergeser. Studi yang sama menunjukkan bahwa tidak ada kaitan antara persepsi pemasar dengan pengalaman mereka ketika menggunakan video digital. Ada 87% responden melaporkan bahwa mereka mampu meraih ROI positif dengan media video digital. Namun, hanya 42% yang berpikir bahwa vidod digital lebih baik dibandingkan media lainnya yang juga mendorong penjualan.

Ketiga, bukti menunjukkan bahwa ada potensi yang kuat akan video digital yang mampu mendorong ROI. Sejatinya, kunci sukses agar video digital berdampak pada ROI yang positif adalah kekuatan targeting, personalisasi, kreativitas yang efektif, dan belajar melalui perilaku ROI analytics.

Diterangkan Jim Spaeth, Co-Founder and Partner Sequent Partners, seperti yang dikutip www.marketingprofs.com, industri travel sudah menggunakan video digital sebagai “salesman” mereka. Sebagian besar pemasar dari industri travel yang disurvei sudah melihat video digital sebagai pendorong penjualan yang dapat diandalkan. Mengapa? Lantaran, cara konsumen memesan perjalanan sudah bergeser ke online. Dan, hal itu tercatat cukup cepat jika dibandingkan dengan jalur pembelian di industri lain. Pemasar di industri travel juga menyadari bahwa video digital dapat dipersonalisasi melalui behavioral targeting.

Mereka juga memiliki pengalaman ROI yang baik terhadap video digital, yakni pada kisaran $ 2-3. Untuk itu, mereka akan mengalihkan bujet marketing mereka dari email dan media sosial, untuk kemudian meningkatkan kemampuan video digital di masa depan.

Sementara itu, bagi pemasar otomotif, video digital dianggap sebagai cara untuk mendorong konsumen ke ruang pamer (showroom). Sebagian besar pemasar otomotif mengatakan bahwa mereka akan mengalihkan dana dari TV dan radio, jika mereka melihat lebih banyak bukti bahwa video digital mampu mendorong lalu lintas dan penjualan di showroom.

Di industri ritel, para pemasarnya melihat video digital sebagai medium pemasaran alternatif yang hanya mempengaruhi ekosistem digital. Membangun awareness dan mendorong penjualan online akan lebih banyak memotivasi pemasar ritel untuk berinvestasi lebih banyak di media video digital. Mereka juga akan mengalihkan bujet pemasaran dari pencarian dan OOH (Out of Home), jika mereka melihat kinerja yang lebih baik dari lalu lintas digital. Namun, mereka juga akan sedikit fokus pada penjualan offline.

Adapun pemasar di industri CPG masih belajar bagaimana menggunakan video digital untuk mendorong penjualan. Hal itu ditunjukkan dari ROI mereka di video digital. Mereka selalu melihat video digital sebagai alat branding untuk memotivasi pembeli. Mereka juga masih mengukur kinerja merek dengan metrik tradisional. Mereka pun masih menggunakan pendekatan yang sangat tradisional untuk mengoptimalkan jangkauan dan frekuensi mereknya ke konsumen. Namun, mereka tahu video digital tercatat menjanjikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
JD.ID Jemput Bola Ke Kantor-Kantor

Bertarung di pasar yang clutter—dalam hal ini di pasar e-commerce yang jumlah pemainnya mencapai 300—bukan perkara mudah bagi JD.ID. Sejumlah...

Close