Strategi Menghadapi The Powerful of Mobile and Technology

Perhelatan Asia Pacific Media Forum (APMF) akan kembali digelar di Bali pada Mei 2018 mendatang. APMF sebagai ajang berkumpulnya para marketer, praktisi komunikasi, praktisi media, hingga startup se-Asia Pasifik tersebut, mengelar Road to APMF 2018 di Jakarta pada Juli ini (25/7). Pada kesempatan itu, dua pembicara pakar berkelas dunia dihadirkan. Keduanya adalah Amit Chaubey, Head of Marketing Science Facebook Southeast Asia dan Gerd Leonhard, CEO of The Futures Agency.

Sebagai pembicara pertama, Amit menyajikan tema "Brain in Mobile". Ia menegaskan bahwa saat ini kecepatan menciptakan konten di mobile melebihi kemampuan seseorang dalam mengkonsumsi konten. Hal itu ditandai dengan setiap menitnya ada lebih dari 763 ribu pengguna menggunakan facebook, 41,6 juta pesan tercipta di Whats App, 65.900 video diposting di Instagram, $293.596 nilai transaksi penjualan di Amazon, dan 1.389 memesan dan menggunakan Uber. "Di Indonesia sendiri, 1 dari 3 orang mengakses internet melalui perangkat mobile," kata Amit.

Menurut Amit, jangan heran jika waktu yang dihabiskan pengguna untuk mengkonsumsi konten di mobile lebih cepat dibandingkan desktop (Personal Computer). Jika di mobile waktu yang dihabiskan mencapai 1,7 detik, maka di desktop mencapai 2,5 detik. Sementara itu, waktu yang dibutuhkan untuk mengingat konten isi berita di mobile cukup 0,25 detik. "Tingginya kecepatan seseorang melihat konten di mobile membuat pikiran seseorang membutuhkan perhatian yang tinggi pula," tegasnya.

Lantas, apa yang paling diperhatikan orang selama melihat konten di mobile dalam kecepatan yang tinggi? Jawabannya, kata Amit, mereka memperhatikan konten yang pendek dan ringkas, branding yang besar di awal konten, karakter yang terkait dengan mereka, selebritis, dan teks. Salah satu contoh merek di Indonesia yang sukses memperoleh perhatian orang di mobile adalah Lifebuoy untuk varian sabun mandi jenis gel.

"Kampanye mobile Lifebuoy mampu menyajikan konten yang relevan dan pesan yang sama dengan iklan TV-nya. Lifebuoy juga mampu menyampaikan pesan kuncinya dalam 7,1 detik. Hasilnya, kampanye tersebut mampu meningkatkan 28% niat orang untuk membeli di Facebook dan Instagram, serta meningkatkan Ad recall di facebook dan instagram sebesar 11%," paparnya.

Yang perlu diingat, lanjut Amit, konten yang mampu memaksimalkan kreatif, akan mampu meningkatkan kinerja merek, baik dari awareness maupun niat untuk membeli. Konten yan gkreatif memungkinkan awarness meningkat hingga dua kali lipat dan meningkatkan niat pembelian hingga 4,5 kali lipat.

Bahkan, menurut studi ARF, penggunaan mobile sebagai bagian dan kampanye pemasaran dapat mendongkrak ROI (Return of Investment) jauh lebih tinggi. Diterangkannya, jika TV dan media cetak digunakan untuk kampanye pemasaran, maka kenaikan ROI mencapai 19%. Sementara itu, jika radio dan TV digunakan untuk kampanye pemasaran, maka peningkatan ROI mencapai 20%. "Jika TV dan digital digunakan untuk kampanye pemasaran, maka ROI meningkat lebih tinggi, yakni 60%," urainya.

Hal yang sama juga terjadi pada kinerja penjualan. Diungkapkan Amit, jika merek hanya menggunakan TV sebagai kampanye pemasarannya, maka penjualan hanya meningkat 8%. Begitu juga jika hanya menggunakan facebook, peningkatan penjualan hanya 13%. Sementara itu, jika menggunakan TV dan Facebook, maka kenaikan penjualan dapat menyentuh 25%. "Untuk itu, penting bagi pemasar mensinergikan TV dan Facebook dalam kampanye pemasaran merek," ucapnya.

Menyikapi fakta seperti itu, Amit menyarankan tiga cara. Pertama, konten kreatif harus disesuaikan dengan platform mobile. Tentu saja, kesesuaian harus memperhatikan kebiasaan dari para pengguna mobile, yang sifatnya sering, aktif, dan cepat dalam menciptakan maupun mengkonsumsi konten. Kedua, perencanaan media (media plan) harus disesuaikan dengan perhatian pengguna mobile yang kini telah terfragmentasi. Ketiga, mengukur hasil berdasarkan real people dan real business.

Selanjutnya, memasuki sesi kedua, Gerd membawakan tema "Ready fot the Future of Consumer Engagement?" Pada kesempatan itu, ia menegaskan bahwa business as usual is dead. Artinya, dengan segala perubahan yang terjadi di market, maka perusahaan yang hanya menjalankan bisnis seperti biasanya, alias tanpa inovasi, akan sekarat bahkan mati. Ia pun mencontohkan bagaimana para produsen mobil tradisional yang bermain di pasar global harus melakukan inovasi pada produknya.

Salah satu produsen yang telah sukses melakukan itu adalah Tesla. Tesla keluar dengan inovasi mobil listrik. Hasilnya, Tesla menjadi produsen mobil yang mengalami pertumbuhan paling tinggi, yakni 17,7%. Sementara kompetitornya, hanya tumbuh single digit. Sebut saja, VW yang cuma tumbuh 6,4%, BMW tumbuh 6%, General Motors naik 4,9%, Ford 4,5%, Daimler 4,4%, dan Toyota 3,7%.

Inovasi yang sama juga harus dilakukan di industri media maupun periklanan. Ia pun menunjukkan bagaimana belanja iklan di digital bertumbuh sangat tinggi dibandingkan iklan di TV. Bahkan, kini nilai belanja iklan keduanya di global sudah sama di tahun 2016. Hal itu terjadi karena rata-rata per hari orang mengkonsumsi konten di TV dan internet sudah tidak jauh beda. Jika orang mengkonsumsi TV tiap harinya mencapai 167 menit pada tahun 2017, maka konsumsinya di internet juga sudah mencapai 149 menit. Bahkan, tahun 2018, konsumsi orang di kedua media itu diprediksi hampir sama, yakni 164 menit di TV dan 157 menit di internet.

Semua itu terjadi tak lepas dari perkembangan teknologi. "Dengan perkembangan teknologi seperti sekarang yang powerful, maka etika, nilai, dan kemanusiaan menjadi lebih krusial dari sebelumnya. Pertanyaannya adalah jika saat ini perangkat mobile adalah otak eksternal kita, apakah konektivitas menjadi agama baru kita?" tanya Gerd kepada hadirin.

Menurutnya, tantangan terbesar yang harus dihadapi saat ini adalah bukan karena mesin mampu mengambil alih semuanya. "Akan tetapi, tantangan terbesarnya adalah karena kita terlalu begitu menyukai teknologi atau mesin. Akibatnya, data memang menjadi hal baru bagi perusahaan yang mampu mendorong kapitalisasi market," tegasnya.

Sayangnya, diyakini Gerd, teknologi tidak memiliki etika. Lantaran, media bersifat manusiawi, sedangkan teknologi hanya sebuah tools atau perangkat. "Untuk itu, masa depan media, marketing, dan advertising adalah salah satu jenis alchemy (alkimia) dari humanity dan teknologi," ucapnya.

Gerd pun meyakini bahwa ke depannya  segala hal yang dapat didigitalisasi atau di-automated akan menjadi unless humanis. Sedangkan segala hal yang tidak bisa digitalisasi atau di-automisasi menjadi sangat bernilai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Bagaimana Harian Kompas Tetap Eksis di Era Digital?

Juli tahun ini, Harian Kompas genap berusia 52 tahun. Sepanjang itu pula, Harian Kompas telah merekam jejak Indonesia dan “mengawal”...

Close