7 Prinsip Muhamad Ali yang Wajib Dipelajari Profesional PR dan Pemasar

Muhammad-Ali (ok)

Siapa yang tak kenal dengan Cassius Marcellus atau yang lebih dikenal dengan Muhamad Ali? Usai memenangkan medali emas di cabang tinju di Olimpiade 1960 di Roma, Ali yang kala itu merupakan seorang amatir berusia 18 tahun, akhirnya sanggup mengalahkan Sonny Liston pada tahun 1964. Sukses Ali, menurut William J. Comcowich, CEO sekaligus CMO of CyberAlert, lantaran ia tetap setia dengan nila-nilai inti atau core values yang dimilikinya.

Sejatinya, yakin William, profesional PR (Public Relations) serta pemasar dapat memetik pelajaran dari seorang Muhamad Ali dalam mempertahankan core values. Sebab, strategi Ali dalam mempertahankan core values-nya itulah yang mampu membuat pamor Ali berkibar hingga akhir hayatnya, bahkan menjadikannya sebagai petinju legendaris dunia.

Itu artinya, profesional PR dan pemasar juga harus mampu mempertahankan core values dari perusahaan maupun brand yang ditanganinya agar menuai sukses.

Lantas, prinsip-prinsip seperti apa yang diterapkan Ali dalam mempertahankan core values-nya? Dijelaskan William, setidaknya ada tujuh prinsip yang diusung Ali dalam mempertahankan core values-nya, yang tentu saja dapat ditiru oleh profesional PR dan pemasar.

#1 Identifikasi Core Values sekaligus Keyakinan Sejak awal, Ali mengusung value kebebasan dan anti rasis, terutama bagi orang kulit hitam—yang kala itu selalu mengalami penindasan di Amerika. Ia pun dikenal sebagai petinju yang berani mengusung keadilan bagi orang “berwarna” atau berkulit gelap. Tak hanya itu, Ali dikenal sebagai petinju yang memiliki disiplin ketat dalam hal latihan profesional.

#2 Agresif dalam Mempertahankan Posisi dan Keyakinan Banyak orang, termasuk banyak media, menolak untuk menerima keputusan berdasarkan agama. Ali justru berani untuk mengganti namanya sesuai dengan keyakinan baru yang dianutnya, Islam. Akibatnya, banyak yang tidak menghormati keputusannya. Namun, Ali tetap bertahan dengan nilai dan keyakinannya. Ali juga menolak otoritas pemerintah Amerika kala itu saat ia ingin direkrut oleh militer Amerika melawan Vietnam. Dengan lantang dan vokal, ia mengatakan bahwa penolakannya itu berdasarkan keyakinan hak-hak agama yang dianutnya serta hak sipil yang dimilikinya. Hasilnya, Ali dikenal sebagai ikon antiperang dan pembela hak sipil.

#3 Memperkuat Positioning dan Klaim Produk, untuk kemudian Membuktikannya Ali selalu mengklaim dan mem-positioning dirinya sebagai yang terbesar. “I am the greatest,” demikian ucapan yang selalu diproklamirkan Ali di hadapan musuh-musuhnya. Tak mengherankan, jika ia kerap disebut Big Mouth. Namun, Ali selalu meyakinkan kepada publik bahwa apa yang dikatakannya adalah apa yang dilakukannya. Dan, Ali selalu mampu membuktikan setiap omongan "besar"-nya. Sejatinya, dalam strategi komunikasi maupun pemasaran, positioning yang kuat serta klaim yang mampu membedakan dengan brand kompetitor merupakan salah kuncinya.

#4 Memperoleh Awareness dari Market Sejak awal penampilannya, Ali dikenal sebagai petinju yang blak-blakan. Itulah yang membuatnya mendapatkan perhatian media pada awal kemunculannya di dunia tinju. Media terus perhatian dan terfokus pada Ali melalui pernyataan tak terduganya saat memenangkan kejuaraan. Dan, hal itu dilakukan Ali secara konsisten.

#5 Berkomunikasi dengan Pesan Sederhana dan Mudah Diingat Ali selalu berbicara dalam irama musik dan sering menggunakan puisi dan aneka kutipan yang berani. Contohnya, “Float like a butterfly and sting like a bee”; “He who is not courageous enough to take risks will accomplish nothing in life”; “It isn’t the mountains ahead to climb that wear you out; it’s the pebble in your shoe”; “Don’t count the days. Make the days count”; dan “Service to others is the rent you pay for your room here on earth”.

#6 Membangun Strategi yang Baik Dalam tahun-tahun awal, Ali memenangkan pertarungan karena kecepatan superior, kekuatan, dan keterampilan. Setelah tiga tahun tidak bertarung, sayangnya keterampilan Ali mulai berkurang. Ia pun harus menggunakan pendekatan yang lebih strategis untuk setiap pertarungan. Ia mengembangkan “the rope-a-dope” dan teknik lain untuk mengimbangi keterampilannya yang mulai berkurang.

#7 Mudah Diakses Selama pelatihan, Ali mengundang pers dan publik untuk melihat ia latihan. Dia selalu menyediakan waktu untuk pers untuk diwawancara. Dia juga sering hadir dan berbicara di banyak acara publik. Langkah itulah yang membuat brand awareness Ali sebagai seorang petinju cepat terbangun.

“Kehidupan Muhammad Ali menunjukkan pentingnya bersikap jujur pada nilai-nilai inti yang brand Anda miliki. Nilai-nilai inti tersebut harus menjadi bagian dari proses pembuatan pesan komunikasi brand Anda,” saran William. (Sumber: business2community.com)

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Honda BR-V Kuasai 46% Pangsa Pasar LSUV

Menurut siaran pers yang diterima MIX Marcomm, pada Mei 2016, empat mobil Honda berhasil memimpin pasar di kelasnya masing-masing. Keempat...

Close