AI Research Untuk Dorong Peningkatan Transaksi di Bukalapak

Perusahaan e-commerce memiliki data pelanggan dan potential pelanggan yang sangat besar dan akurat. Siapa saja yang pernah mengakses situs sebuah e-commerce, secara otomatis datanya akan tercatat di gudang penyimpanan data mereka. Data yang secara otomatis disimpan ini sangat presisi, menyangkut demografi dan kebutuhan (need) serta keinginan (want) seluruh prospek pelanggan yang pernah mengunjungi situs tersebut, secara sengaja maupun tidak sengaja ketika mereka melakukan pencarian produk, tidak ada yang terlewatkan. Jangan heran kalau ketika membuka internet, tiba-tiba ada notifikasi tentang penawaran produk yang jenisnya persis seperti produk yang sedang Anda cari. Itulah karena kehebatan big data yang dihimpun oleh perusahaan-perusahaan e-commerce.

Inilah yang membedakan perusahaan e-commerce, termasuk Bukalapak, dari perusahaan konvensional. Dengan kekayaan datanya, Bukalapak bisa mengeksplorasi penciptaan value yang dapat ditawarkan kepada khalayak sasarannya, terutama untuk mengakuisisi pasar baru. Data yang dimiliki perusahaan e-commerce dikenal sangat 'mahal', karena detil dan akurat yang berisi tentang visit, demografis, kategori, akses, dan lainnya. Inilah big data yang dari data tersebut seketika perusahaan bisa melihat korelasi perilaku konsumen dengan program-program marketing dan selling yang sudah dilakukannya.

Tidak sekadar menghimpun data, Bukalapak, e-commerce yang berdiri sejak 2010, menurut Evi Andarini, Corporate Communication Manager, menganalisis data tersebut untuk mendapatkan gambaran konsumen secara keseluruhan. Dari data tersebut Bukalapak melakukan analisis statistik dan melibatkan metode machine learning untuk menjawab dan menyelesaikan pertanyaan bisnis yang ada.

“Kami menganalisis secara matang data yang kami punya untuk memutuskan setiap strategi bisnis. Di Bukalapak, kami mempunyai kultur yang kuat dalam hal penggunaan data dalam eksekusi strategi, juga didukung dengan berbagai teknologi yang kami punya. Kami tidak hanya mempertimbangkan potensi yang didapat, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana pelanggan dapat semakin nyaman menggunakan Bukalapak,” jelasnya.

Dengan menggunakan data yang sudah tervalidasi, imbuh Evi, Bukalapak melakukan segmentasi dan a/b test untuk mengidentifikasi dan meningkatkan pengalaman pelanggan dalam menggunakan Bukalapak. Dari strategi tersebut, target market yang ditentukan juga sudah dipersonalisasikan berdasarkan analisis yang dibuat.

Untuk mengidentifikasi pelanggan, Bukalapak juga melakukan Artificial Intelligence (AI) Research atau penelitian berbasis kecerdasan buatan. AI Research yang diadaptasi Bukalapak antara lain personalize type of consumers based on searching, interest, dan product transaction. “Product transaction adalah salah satu data kunci untuk menentukan strategi yang mampu membuat pelanggan membeli lebih sering di Bukalapak dan seberapa besar frekuensi-nya,” kata Evi.

Dari hasil analisis Big Data-nya, Evi lalu menjabarkan perilaku konsumen Bukalapak. Anatar lain bahwa dalam sebulan, konsumen Bukalapak melakukan transaksi 3-4 kali. Dan, dalam tiga bulan terakhir, kategori produk yang diminati konsumen antara lain gadget, hobi & koleksi, rumah tangga, perawatan dan kecantikan, serta elektronik. “Sementara, dari seluruh total transaksi di Bukalapak, paling banyak dilakukan melalui mobile, yaitu di platform Android. Dari platform tersebut, transaksi rata-rata konsumen Bukalapak saat ini secara total adalah sekitar Rp700 ribu-Rp1 juta per bulan,” ungkap Evi.

Melihat pesatnya perkembangan perangkat mobile, Bukalapak pun semakin memfokuskan strategi pemasarannya di kanal ini. Terbukti, jika pada 2015 lalu jumlah user yang men-download aplikasi Bukalapak baru 200 ribu, saat ini angka tersebut melonjak lebih dari 10 juta downloader. Tak heran jika transaksi di Bukalapak mayoritas terjadi melalui perangkat mobile.

Data konsumen yang volume-nya sangat besar ini digunakan antara lain juga untuk mendorong frekuensi transaksi konsumen, antara lain dengan menciptakan program marketing Top Spender dan Flash Deal yang telah menarik jutaan pengguna dan pelapak se-Indonesia pada bulan Ramadan 2018 lalu. Berdasarkan data konsumen itu juga, baru-baru ini Bukalapak menghadirkan program “Badai Uang Ratusan Miliar” untuk pengguna aplikasi mobile Bukalapak. Program ini terdiri dari Badai Flash Deal, Badai Uang, dan Badai Rumpi yang dieksekusi kurang lebih selama satu bulan pada 17 Juli 2018 hingga 16 Agustus 2018.

Program Badai Flash Deal berlangsung setiap hari dari tanggal 17 Juli hingga 16 Agustus 2018 pada pukul 08.00-22.59 WIB. Melalui program ini, seluruh pengguna Bukalapak dapat membeli beragam produk mulai dari kecantikan, fashion, hingga gadget dengan harga istimewa mulai dari serba Rp10.000. Lalu, program Badai Uang adalah program di mana pengguna hanya perlu mengguncangkan ponselnya sekuat mungkin untuk mendapatkan nilai cashback yang lebih besar pada jam-jam tertentu, yaitu 08.30 - 09.30 & 20.30 - 21.30 WIB.

Badai Uang dalam bentuk cashback akan ditambahkan ke BukaDompet. Selain cashback, pengguna yang beruntung berkesempatan untuk mendapatkan voucher diskon 99% untuk beberapa produk seperti pembelian emas, tiket pesawat, Samsung S9, IPhone X, motor Honda CB 150cc Verza, serta mobil Honda HR-V. Tidak hanya itu, pengguna juga berkesempatan untuk mendapatkan voucher yang dapat digunakan untuk membeli pulsa, paket data, pembayaran PDAM, listrik dan BPJS selama satu tahun penuh.

“Program Badai Flash Deal yang dilakukan Bukalapak bertujuan agar para UKM di seluruh Indonesia mendapatkan kesempatan yang sama untuk menunjukkan performa terbaiknya dalam melayani setiap pengguna di seluruh Indonesia. Dengan begitu kami berharap para UKM di Indonesia dapat 'naik kelas',” pungkasi Evi menutup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)