Pertarungan Dua Retailer Global Ikea dan Courts di Jabodetabek

Ikea dan Courts Dua retailer global, Ikea dan Courts, hadir di Indonesia sejak 2014 lalu. Lantaran baru, awareness khalayak secara umum terhadap kedua brand tersebut relatif rendah. “Masyarakat Indonesia pada umumnya masih banyak yang belum tahu Ikea,” tutur Eliza Fazia, Manager Marketing Ikea. Hanya masyarakat yang tinggal di kawasan Alam Sutera Serpong, Banten saja yang aware dengan brand Ikea karena retail Ikea berada di Alam Sutera, imbuhnya. Courts pun menghadapi hal serupa. Awareness tertinggi Courts terjadi di Bekasi karena megastore pertamanya dibangun di Bekasi. Agar dapat menggaet konsumen sekaigus meningkatkan penetrasi di market retail Tanah Air, terutama di kota penyanga Jakarta yang meliputi Bogor, Tangerang, dan Bekasi, belakangan keduanya gencar melakukan edukasi brand. Menurut Eliza, strategi edukasi brand didasarkan pada riset yang dilakukan brand principal Ikea di Swedia. Pihaknya memahami, awareness menjadi hal vital untuk melanggengkan bisnis Ikea di Indonesia. Sebab, awareness ini berkorelasi dengan pelanggan dan penjualan (sales). Semakin tinggi tingkat awareness maka peluang untuk menggaet konsumen dan mendongkrak penjualan cenderung akan makin tinggi pula. “Kalau soal produk, tak ada masalah. Ikea menyediakan rangkaian produk rumahtangga (household) yang lengkap, tidak hanya furnitur. Dari kain lap (serbet) hingga semua yang terkait dengan produk rumahtangga, ada di Ikea,” paparnya. Dengan mengusung visi menciptakan kehidupan sehari-hari lebih baik buat banyak orang melalui rangkaian produk rumahtangga yang didisain bagus, modern, dan fungsional, Ikea menyasar target konsumen keluarga dari kalangan menengah atas. Alam Sutera Serpong menjadi pilihan pertama Ikea mendirikan gerai seluas 35 ribu meterpersegi. Selain strategis, lokasi merupakan tempat bermukim target konsumennya. Saat ini, ada sekitar 3-4 ribu pengunjung datang ke gerai Ikea setiap hari. Jumlah pengunjung ini, menurutnya, cukup bagus bagi Ikea yang tergolong retail baru. “Namun, kami akan tingkatkan lagi 2-3 kali lipat jumlah pengunjung agar sales ikut naik melalui edukasi brand,” ujarnya. Pada September 2015 lalu, Ikea membuka booth di kawasan Senayan City, Jakarta,. Booth-nya berupa ruang dapur yang didisain apik seperti sungguhan. Tidak cuma itu, pengunjung yang hadir dibagikan katalog secara gratis. Katalog memuat lengkap produk Ikea berikut produk yang sedang diskon. Selain itu, katalog disebar ke lokasi pemukiman yang menjad target konsumennya, seperti pemukiman di Pondok Indah Jakarta Selatan, Bintaro Jaya dan Bintaro Serpong amai Tangerang, serta kawasan pemukiman di Alam Sutera dan sekitarnya. Katalog yang disebar lebih 100 ribu eksemplar. Menariknya lagi, katalog Ikea juga hadir dalam format digital yakni IKEA Catalogue App yang dapat diunduh di Android atau iOS. Dengan aplikasi ini khalayak dapat mengeksplorasi lebih banyak informasi dan inspirasi. Ada 7.000 artikel produk disajikan dalam katalog. “Mengedukasi brand melalui katalog, inilah cara kami mendekati target agar mereka aware dengan Ikea,” jelas Eliza. Promo dan Gerai Baru Lain halnya dengan yang dilakukan Courts. Program promo besar-besaran menjadi strategi Court untuk merangkul konsumen. Pada Oktober 2015 lalu, bertepatan satu tahu Courts di Indonesia, digelar promo heboh “Beli 1 Gratis 1” di Mega Bekasi Hypermall untuk produk rumahtangga seperti mesin cuci, sofa, TV, sampai matras (kasur) tidur. Hadiah tambahan diberikan bagi member Homeclub melalui pembayaran Courts Flexiplans. Menurut Roy Santoso, Country CEO of Courts Indonesia, program promo adalah stategi jitu untuk menggaet konsumen belanja sekaligus menciptakan pengalaman (experience). Melalui promo diskon besar-besar, maka brand akan semakin mudah dikenal khalayak. “Lewat promo, penjualan diharapkan akan terdongkrak,” katanya. Courts, salah satu retailer elektronik, IT dan furnitur terbesar di Asia Tenggara mempunyai misi "menjadikan produk-produk rumah tangga yang aspirational agar mudah terjangkau,". Target konsumenna kalangan menengah, sesuai dengan taglinenya "Courts Price Promise" yang berkomitmen memberikan harga kompetitif untuk seluruh rangkaian produk yang ditawarkan. Di Indonesia, dikelola oleh PT Courts Retail Indonesia, yakni anak perusahaan dari Courts Asia, yang juga merupakan perusahaan induk Courts (Singapore) Pte Ltd, dan Courts (Malaysia) Sdn Bhd. Courts Asia telah terdaftar di Singapore Stock Exchange sejak Oktober 2012. Berakar dari retailer perabotan dari Inggris, brand Courts didirikan di Singapura pada tahun 1974, dan Malaysia pada tahun 1987 dan selanjutnya menjamah Indonesia pada 2014 lalu. Jika Ikea fokus hanya memiliki satu gerai di Alam Sutera, maka kebalikan dengan Courts. Upaya memenangkan persaingan bisnis ritail di Tanah Air dilakukan dengan strategi mendirikan gerai baru. Setelah sukses membuka Megastore pertamanya di Bekasi Harapan Indah pada Oktober 2014 dan yang ke-dua di Mega Bekasi Hypermal pada 2 Mei 2015, kini Courts Indonesia semakin memantapkan keberadaannya di Indonesia dengan membuka toko yang ke-tiga di wilayah Bogor. Bogor, akunya, merupakan kota yang memiliki potensi strategis bagi perkembangan pertumbuhan ekonomi dan jasa. “Bogor juga merupakan pasar yang menurut kami sangat baik perkembangannya, namun layanan toko retail di sana masih kurang,” ujar Roy. Pertumbuhan kelas menengah yang meningkat dan terbuka dengan konsep toko modern untuk produk elektronik dan furnitur, menjadi pertimbangan Court melakukan ekspansi penambahan gerai. Tak pelak, Courts berinvestasi sebesar US$ 15-20 juta untuk setiap gedung-nya, dan total Capex sekitar US$ 3-4 juta. Staregi ini dianggap mampu mendekatkan Courts dengan konsumen, di samping pula untuk mendongkak awareness-nya. Ikea tak ketingalan. Belakangan brand-nya kerap hadir di layar TVC. Sementara edukasi melalui sosial media sama-sama dilakukan keduanya. Courts melalui website www.courts.co.id, facebook courtsindonesia dan twitter @courtsindonesia, sedangkan Ikea juga memanfaatkan website www.ikea.com, facebook IKEAIndonesia, serta twitter @IKEA. Alhasil, serangkaian event dan edukasi komunikasi telah dilancarkan keduanya. Baik Eliza maupun Roy mengaku, program mampu mengatrol awareness. Buktinya, pengunjung yang datang ke gerai Ikea dari mana saja, termasuk dari Jakarta. Hal serupa dialami Courts. Namun, program edukasi tersebut belum mampu mendongkrak penjualan secara signifikan. Kalaupun ada peningkatan penjualan, peningkatan tersebut belum mampu menutup bujet untuk program edukas brand. “Butuh waktu dua tahun bagi Ikea agar semakin dikenal dan sales meningkat signifikan,” tandas Eliza Fazia.
Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Read previous post:
Babak Baru Model Bisnis Mobil BMW

Pembuat mobil mewah dari Jerman, BMW, tahun ini akan meluncurkan layanan mobil berbagi (car-sharing service) di Amerika Serikat. Menurut Wall...

Close