Strategi Bank Mayora Makin Eksis di Usia Perak

Dikenal sebagai salah satu raksasa produsen food and beverages di Tanah Air, pada pertengahan 1993, Mayora Group memutuskan untuk memperluas portofolio produknya. Kali ini, bukan produk Fast Moving Consumer Goods (FMCG) yang selama ini dikenal sebagai bisnis intinya. Melainkan, Mayora Group cukup Pe-De (baca:  percaya diri) untuk memasuki industri perbankan.

Merek bank yang diusung Mayora Group saat memasuki industri perbankan adalah payung mereknya, Bank Mayora. Keputusan yang cukup strategis, mengingat untuk membangun sebuah merek baru dibutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Nama besar Mayora, sejatinya dapat mempermudah Bank Mayora untuk cepat dikenal oleh nasabah di Tanah Air.

Lima tahun memasuki industri perbankan, Bank Mayora harus menghadapi masa-masa sulit. Ya, tahun 1998 menjadi masa tersulit bagi para pelaku bisnis di industri perbankan. Tak sedikit bank yang harus di-merger, bahkan terpaksa ditutup karena krisis 1998.

Sebaliknya, pada masa krisis itu, Bank Mayora justru mampu melaluinya. Istimewanya, Bank Mayora termasuk salah satu Bank kategori A yang tidak memerlukan rekapitalisasi oleh pemerintah RI pascakrisis moneter tahun 1998. Kini, dengan terus memberikan pelayanan terbaik kepada nasabah, khususnya di segmen ritel dan konsumer, membuat Bank Mayora terus berkembang dan mendapat kepercayaan dari nasabah. Hasilnya, tahun 2013, Bank Mayora memperoleh status sebagai Bank Umum Devisa melalui Keputusan Gubernur Bank Indonesia.

Tak hanya memperoleh kepercayaan dari nasabah dan pemerintah, Bank Mayora juga mampu memperoleh kepercayaan dari investor. Tepat di tahun 2015 misalnya, International Finance Corporation (IFC) melakukan investasi penyertaan modal sebesar Rp 290 miliar atau US$ 22 juta di Bank Mayora. Sejatinya, tambahan modal dari lembaga keuangan yang merupakan anggota Kelompok Bank Dunia itu akan semakin memperkuat struktur permodalan dan mendukung Bank Mayora memperluas pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia.

Prestasi lain yang sukses diukir Bank Mayora adalah total aset Bank Mayora mencapai Rp 5,35 triliun pada akhir tahun 2016. Alhasil, kinerja Bank Mayora telah diakui oleh berbagai pihak dengan diraihnya penghargaan dari pihak independen, antara lain meraih predikat “Sangat Bagus” di ajang Infobank Award 2016.

Empat Strategi Bank Mayora Sukses Bank Mayora tetap eksis di industri perbankan hingga memasuki usia perak (ke-25) di tahun ini, tak lepas dari empat strategi kunci yang dilancarkan. Strategi Pertama adalah memperluas jangkauannya ke seluruh Indonesia lewat berbagai fasilitas mesin ATM ataupun EDC. Tahun 2006 menjadi awal Bank Mayora untuk bergabung ke jaringan ATM (Anjungan Tunai Mandiri) Bersama.

Upaya menjangkau nasabah yang lebih luas tak hanya dilakukan Bank Mayora lewat jaringan ATM. Mereka juga melakukannya lewat pengembangan mesin EDC pada tahun 2010. Setahun berikutnya, 2011, Bank Mayora mulai mengoperasikan EDC sebagai bagian dari e-channel. Bahkan, di tahun itu, Bank Mayora juga meningkatkan jumlah jaringan distibusi tradisionalnya, yakni dengan menambah 9 kantor cabang pembantu dan 6 kantor kas.

Tahun 2012, Bank Mayora memutuskan untuk mengoperasikan ATM milik sendiri yang terhubung ke dalam jaringan ATM Bersama. Langkah perluasan jaringan masih terus dilakukan Bank Mayora hingga sekarang. Hingga tahun 2016, Bank Mayora sudah memiliki 40 kantor cabang, total jumlah ATM sebanyak 51 unit, dan total jumlah EDC sebanyak 1.287 unit. Sementara itu, hingga tahun 2017 ini, jumlah kantor cabang Bank Mayora sudah mencapai 45.

Strategi Kedua adalah Bank Mayora senantiasa meningkatkan modal disetornya secara berkala. Penambahan modal disetor yang dilakukan secara bertahap dalam kurun waktu 1993-2009 misalnya, telah meningkat menjadi Rp 96 miliar pada akhir tahun 2009. Menginjak tahun 2011, peningkatan modal disetor Bank Mayora menjadi Rp 161 miliar. Selanjutnya, pada tahun 2012, modal disetor menjadi Rp 300 miliar, tahun 2013 menjadi Rp 385 miliar, dan tahun 2014 menjadi Rp 585 miliar.

Strategi Ketiga adalah Bank Mayora mencoba menggarap hampir semua segmen market di Indonesia. Oleh karena itu, selain segmen ritel, Bank Mayora juga mengembangkan segmen mikro yang dimulainya pada tahun 2012. Selanjutnya, Bank Mayora memasuki segmen Kredit Pensiunan pada tahun 2014. Masih belum cukup, tahun 2016, Bank Mayora masuk ke segmen bisnis bancassurance dan wealth management, alias segmen premium dengan nilai tabungan mulai dari Rp 50 juta hingga Rp 1 miliar.

“Akhir tahun 2017, kami berharap akan ada 250 hingga 300 nasabah wealth management yang dapat diperoleh, dengan rata-rata investasi yang dikelola mencapai Rp 250 juta hingga Rp 500 juta per nasabahnya," target Direktur Utama Bank Mayora Irfanto Oeij.

Kendati demikian, Bank Mayora tetap terus menggenjot segmen ritelnya. Pada tahun 2017 misalnya, Bank Mayora mulai membesarkan segmen ritelnya dengan memanfaatkan jaringan distribusi Mayora Group di seluruh Indonesia. Ribuan jaringan tersebut nantinya akan diajak Bank Mayora untuk menjadi agen Laku Pandai Bank Mayora.

"Mayora Group telah memiliki distributor produk-produk makanan dan minuman yang tersebar di seluruh Indonesia, baik tingkat grosir, reseller, dan sebagainya. Nah, kami akan mengajak mereka untuk menjadi agen Laku Pandai Bank Mayora. Januari 2017, kami sudah mulai dengan wilayah Ambon. Sampai akhir 2017, kami menargetkan akan ada 5.000 agen Laku Pandai di seluruh jaringan distribusi Mayora Group di Indonesia," papar Irfanto.

Strategi Keempat adalah meningkatkan daya saing dengan mempersiapkan layanan multichannel, antara lain mobile banking dan internet banking, di tahun 2017 ini. Keputusan tersebut merupakan salah satu upaya Bank Mayora dalam menjawab perubahan perilaku konsumen atau nasabah di Tanah Air yang sudah mulai mengarah ke digital. Tak tanggung-tanggung, untuk investasi Teknologi Informasi (TI) di 2017, Bank Mayora rela menggelontorkan dana sebesar Rp 20 miliar hingga Rp 30 miliar.

Besarnya investasi Bank Mayora di TI, diakui Irfanto, karena saat ini persaingan perusahaan perbankan bukan hanya dengan sesama perusahaan perbankan. Melainkan, juga dengan perusahaan fintech (financial technology) yang bukan perusahaan perbankan dan tak mengharuskan konsumennya memiliki rekening di bank. "Oleh karena itu, saat ini kami sudah mulai melakukan penjajakan ke sejumlah perusahaan fintech untuk kami ajak bersinergi di tahun 2017 nanti," tutupnya.

Tonggak Bersejarah Bank Mayora

1993 Bank Mayora hadir di Indonesia.

1998 Bank MAYORA termasuk salah satu Bank kategori A yang tidak memerlukan rekapitalisasi oleh pemerintah RI pascakrisis moneter tahun 1998.

2006 Bergabung ke jaringan ATM Bersama.

2010-2011 Melakukan pengembangan EDC dan mulai mengoperasikan EDC sebagai bagian dari e-channel.

2012 Mulai mengoperasikan ATM milik sendiri yang terhubung ke dalam jaringan ATM Bersama. Di tahun ini, Bank Mayora juga mulai mengembangkan segmen mikro.

2014 Mulai memasuki segmen Kredit Pensiunan.

2015 Masuknya International Finance Corporation (IFC) sebagai salah satu pemegang saham.

2016 Bank Mayora masuk ke segmen bisnis bancassurance dan wealth management. Total kantor mencapai 40 kantor, ATM sebanyak 51 unit, dan EDC sebanyak 1.287 unit.

2017

Bank Mayora tengah mempersiapkan layanan multichannel, seperti mobile banking dan internet banking.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Mencermati Perilaku Digital Wisatawan Indonesia

Studi "The Global Digital Traveler Research" yang dilakukan Travelport pada Agustus 2017 terhadap 11 ribu responden dari 19 negara di...

Close