Bisnis Health & Beauty Terus Tumbuh

Nilai bisnis kosmetik di Asia Pasifik diprediksi akan mencapai USD126,8 miliar pada 2020. Pencapaian tersebut didukung oleh dua hal. Pertama, laju pertumbuhan majemuk tahunan atau Compound Annual Growth Rate (CAGR) sekitar 4,02% sepanjang periode. Kedua, penjualan online yang diproyeksi akan tumbuh lebih cepat, yaitu sekitar 10,3% selama periode tersebut.

Tahun ini dipercaya menjadi tahun recovery dimana tingkat konsumsi akan pulih didorong oleh sejumlah agenda yang digelar di Tanah Air, di antaranya Pilkada, Ramadhan, Piala Dunia, Asian Games, dan persiapan Pemilu 2019. Untuk industri beauty dan home care, diprediksi akan mencapai puncaknya pada seminggu sebelum Lebaran. Produk-produknya antara lan adult diaper, hair conditioning, foundation, cologne, face powder, hair coloring, hair styling, nose pack, facemask, baby diapers, dan skincare.

Industri kecantikan menjadi salah satu highlight di tahun ini. Tren-nya bukan lagi sekadar feeling good, looking good, tetapi juga healthy, convenient, dan affordable premium. Maksudnya, selain menginginkan produk yang bagus, menyehatkan, dan mudah didapat, konsumen sekarang ini juga cenderung mencari produk yang premium tapi terjangkau.

Tren tersebut mendorong gerai-gerai health & beauty (H&B) menjadi tumbuh lebih cepat dibanding modern trade. Gerai H&B terdiri dari gerai kosmetik tradisional dan gerai kosmetik modern, antara lain seperti Dan+Dan, Watsons, Guardian, Boston, dan lainnya.

Data Nielsen mencatat, dari 2016 ke 2018, gerai H&B selalu bertumbuh cukup signifikan. Dari 29% pada 2016, tumbuh menjadi 31,9% pada tahun lalu, dan tahun ini diprediksi akan tumbuh 40%. Tak heran jika produk kosmetik semakin banyak, termasuk produk-produk impor dengan berbagai segmentasi konsumen.

Lalu bagaimana dengan perkembangannya di e-commerce? Gerai online khusus kecantikan juga semakin bermunculan. Data ecommerceiq.asia menyebutkan setidaknya ada 6 beauty online store yang sering dikunjungi konsumen, yaitu Sephora, Zataru, Althea, Sociaolla, Perfectbeauty.id, dan Makeupuccino.

“Namun beauty online store tidak menawarkan shopping experience seperti yang ada di gerai fisik. Saat ini, untuk menangkap peluang, gerai-gerai kecantikan semakin memperbanyak experiencing self make-over. Ini menjadi salah satu kekuatan brand atau produk beauty saat ini dimana konsumen sebelum membeli bisa experience mencoba-nya terlebih dulu,” pungkas Yongky Susilo, Executive Director Nielsen, pada presentasi bertajuk “Survive in the Storm of Beauty: Indonesia paradox In the era of looking good generation” yang dibawakan dalam rangka Gala Dinner Anniversary Gathering Wardah pada pertengahan April lalu. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)