Influencer VS Artis, Siapa yang Paling Disukai Marketer?

SociaBuzz.com baru saja merilis laporan bertajuk “The State of Influencer Marketing 2018 in Indonesia”. Survey yang dilakukan kepada para praktisi pemasaran (marketer) dari brand (produsen), agensi, startup, dan online shop itu menghasilkan berbagai temuan menarik seputar influencer marketing (aktivitas pemasaran yang memanfaatkan influencer di media sosial, seperti selebgram, Key Opinion Leader, buzzer, youtuber, vloger, blogger, hingga content creator).

Dari hasil riset tersebut dijumpai alasan mengapa para praktisi pemasaran memilih menggunakan influencer untuk aktivasi pemasaran mereka. Hampir seluruh responden (98,8%) mengaku menggunakan influencer karena untuk membangun brand awareness. Disusul 62,7% mengaku untuk mengedukasi target market, untuk meningkatkan penjualan (50,6%), meningkatkan followers (39,8%), dan untuk Search Engine Optimization (25,3%).

Sementara itu, terkait influencer dari jenis social media mana saja yang sering mereka gunakan, ternyata mayoritas reponden menjawab instagram (98,8%) lewat selebgram. Selanjutnya, diikuti oleh Youtube (41%), blog (28,9%), twitter (26,5%), dan facebook (19,3%).

Ketika ditanya tentang pertimbangan utama mereka saat memilih influencer, maka lebih dari separuh responden (69,9%) mengaku engagement rate sebagai salah satu pertimbangan utama dalam memilih influencer. Pertimbangan lainnya adalah karakteristik atau gaya hidup influencer (53%), jumlah followers atau subscribers (50,6%), dan kualitas konten (47%).

Lantas, tipe selebriti seperti apa yang paling sering praktisi pemasaran gunakan? Jawabannya adalah selebriti internet (59%), artis/selebriti (22,9%), micro influencer (14,5%), dan semua tipe (3,6%). Selebriti internet sendiri adalah popular di dunia maya, namun tidak terlalu popular di dunia nyata, sedangkan artis adalah mereka yang popular di dunia maya maupun di dunia nyata. Adapun micro influencer adalah pemilik akun dengan jumlah followers yang mencapai 5.000 sampai 20.000.

Anggaran yang dikeluarkan untuk bujet influencer marketing ternyata juga tercatat cukup besar. Ada 10,1% responden yang menggunakan bujet influencer sebesar lebih dari 10%. Adapun praktisi pemasaran yang menggunakan bujet influencer di angka 6-10% mencapai 24,6% responden, 30,4% responden mengeluarkan bujet influencer sebesar 2-5%, dan 34,8% responden mengeluarkan kurang dari 2% untuk bujet influencer marketing.

Nilai anggaran yang dikeluarkan untuk influencer marketing juga tercatat cukup tinggi. Ada 2,9% responden yang mengeluarkan Rp 1 – 5 miliar untuk dana influencer marketing dalam setahun. Selanjutnya, disusul oleh 22,8% responden yang mengeluarkan dana kurang dari Rp 50 juta dalam setahun, 30% yang mengeluarkan dana untuk influencer marketing sebesar Rp 30-100 juta dalam setahun, serta 32,9% yang mengeluarkan anggaran untuk infleuncer marketing sebesar Rp 100-500 juta dalam setahun.

Tahun 2018 ini, separuh dari responden (50,6%) mengaku mungkin akan meningkatkan bujet influencer marketing mereka. Adapun 38,6% mengaku pasti akan meningkatkan bujet influencer marketing mereka, sedangkan 10,8% mengaku tidak akan meningkatkan bujet influencer marketing mereka.

Dengan anggaran yang cukup besar untuk influencer marketing, 83% marketer menganggap influencer marketing efektif dalam mencapai tujuan pemasaran mereka. Adapun yang mengaku sangat efektif dalam mencapai tujuan pemasaran mereka hanya 2,4%.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)