Ini Bukti Mengapa Media Cetak Masih Diminati

Minat membaca orang Indonesia tercatat tidak mengalami penurunan. Hal itu dapat dilihat dari penetrasi media cetak di Tanah Air yang mencapai 8% atau dibaca oleh 4,5 juta orang. Demikian data yang dirilis Nielsen Consumer & Media View (CMV) kuartal III 2017. Survey dilakukan di 11 kota dan meng-interview 17 ribu responden.

Tak hanya media cetak, media digital sebagai pendatang anyar, juga memiliki tingkat kepembacaan yang cukup tinggi. Menurut data Nielsen Consumer and Media View, sampai dengan kuartal ketiga 2017, jumlah pembaca versi digital mencapai 6 juta orang dengan penetrasi sebesar 11%.

Dikatakan Hellen Katherina, Direktur Eksekutif dari Nielsen Media, alasan utama para pembaca masih memilih koran adalah karena nilai beritanya yang dapat dipercaya. “Elemen trust terhadap konten tentu berpengaruh terhadap iklan yang ada di dalamnya. Sehingga keberadaan koran sebagai media beriklan sangat penting untuk produk yang mengutamakan unsur trust, misalnya produk perbankan dan asuransi, ujarnya.

Sementara itu, alasan utama orang masih membaca tabloid dan majalah karena keduanya dinilai mampu menyajikan true story (43%), info fesyen atau mode (36%), cerita pendek (24%), dongeng (20%), dan infotainment (26%).

Yang menarik, para pembaca media cetak adalah konsumen dari rentang usia 20-49 tahun (74%), memilki pekerjaan sebagai karyawan (32%), dan mayoritas pembacanya berasal dari Kelas Atas (54%). Menurut Hellen, fakta itu menunjukkan bahwa pembaca media cetak masih produktif dan dari kalangan yang mapan.

Selain itu, pembaca media cetak juga merupakan pembuat keputusan dalam rumah tangga untuk membeli sebuah produk (36%). Membaca Buku adalah salah satu hobi dari konsumen media cetak. Selain membaca, mereka juga lebih cenderung menyukai Traveling. "Bahkan, tiga dari empat pembaca media cetak mengakui tidak keberatan saat melihat iklan karena iklan adalah salah satu cara untuk mengetahui produk baru," jelasnya.

Yang menarik, para pembaca media cetak juga tercatat sebagai internet savvy, karena mereka setiap hari berselancar di internet selama tiga jam melalui smartphone. Tingginya frekuensi penggunaan internet di antara pembaca media cetak yang mencapai 86%, yaitu di atas rata-rata yang sebesar 61%, semakin memperkuat fakta bahwa pembaca media cetak berasal dari kalangan yang lebih affluent, tegasnya.

Ditilik dari sisi belanja iklan, lanjut Hellen, meskipun jumlah pendapatan belanja iklan media cetak turun 13 persen dari tahun 2013 ke tahun 2017, namun total pendapatan iklan masih terhitung tinggi, yakni tembus Rp 21,8 triliun. Dari angka itu, koran masih tercatat mayoritas, yakni Rp 21 triliun, sedangkan majalah Rp 0,8 truliun.

Jika dibandingkan porsi belanja iklan di media cetak dan media televisi, Kategori Hotel dan Restoran masih banyak beriklan di media cetak dengan share 97 persen. Share iklan di media cetak yang tinggi lainnya adalah kategori Kesehatan dan Pengobatan serta kategori Toko/Toko Spesialis, di mana masing-masing memiliki share iklan di media cetak yang mencapai 95%.

Selanjutnya, disusul oleh Kategori Institusi Pendidikan Formal (89%). Sementara itu, share iklan di media cetak untuk Kategori Multivitamin dan Suplemen adalah 18 persen, dan Kategori Perangkat dan Layanan Komunikasi masih di angka 12%. "Itu artinya, pelaku media cetak masih memiliki peluang untuk memikat pengiklan dari kedua kategori tersebut," saran Hellen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
GINSI DKI Jakarta Akan Fokus pada Sosialisasi Regulasi dan Peningkatan Pelayanan

Nilai bisnis impor sepanjang Januari hingga Desember 2016, menurut data BPS, mencapai US$ 135,65 miliar. Nilai yang sangat menggiurkan tentunya...

Close