Ini Empat Faktor yang Membuat Perusahaan Lokal Lebih Unggul

Laporan Nielsen Go Glocal yang dirilis April ini menjumpai empat temuan yang menarik, yang mampu mendukung perusahaan lokal dalam menghadapi persaingan dengan perusahaan multinasional atau global. 2016-04-29 08.08.20 Merujuk data Nielsen Go Glocal Report, share of value sales perusahaan global dan lokal pada tahun 2012 hingga 2014 hampir sama. Tahun 2012, share of value sales perusahaan global mencapai 50%, sedangkan perusahaan lokal 42%. Tahun 2013, share of value sales perusahaan global turun menjadi 48%. Begitu juga tahun 2014, tidak mengalami perubahan. Sementara itu, tahun 2013, share of value sales perusahaan lokal mengalami kenaikan, yakni menjadi 43%. Begitu juga tahun 2014, share of value sales perusahaan lokal masih di angka 43%. Namun, berdasarkan volume growth, perusahaan lokal mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan perusahaan global. Jika volume growth perusahaan lokal sanggup tumbuh 13%, maka perusahaan global hanya tumbuh 5%. Laura McCullough, Managing Director, Client Service Leader of Nielsen’s Growth and Emerging Markets, mengatakan, “Dalam beberapa tahun terakhir, telah banyak perusahaan lokal yang tidak hanya mampu bertahan dalam kompetisi dengan perusahaan multinasional. Namun, mereka juga telah sanggup mengungguli perusahaan multinasional di Asia Tenggara.” Sejatinya, menurut Laura, masuknya perusahaan multinasional ke pasar negara baru selain memberikan keuntungan bagi konsumen lokal yang ingin mendapatkan produk yang lebih beragam, juga dapat menjadi tantangan besar atau menjadi kompetitor terberat bagi perusahaan-perusahaan lokal. Cukup dimaklumi, lantaran perusahaan global masuk dengan sejumlah kekuatan seperti sumber daya keuangan yang besar, sumber daya manusia dengan beragam potensi, infrastruktur teknologi yang canggih, dan proses pengiriman dan operasional yang sudah mumpuni. Meski demikian, empat temuan dari laporan Nielsen Go Glocal, menunjukkan bahwa perusahaan lokal mampu bersaing dengan perusahaan global. Berikut ini empat temuan laporan Nielsen Go Glocal. 1. Kebanggaan Menggunakan Merek Lokal Survey Nielsen Global Brand-Origin, yang meneliti apakah konsumen lebih memilih barang yang diproduksi oleh merek global/multinasional (didefinisikan sebagai merek yang beroperasi di banyak negara) atau oleh pemain lokal (perusahaan yang hanya beroperasi di satu negara, yaitu negara asal responden), menemukan bahwa preferensi konsumen telah mulai mendukung merek regional dan lokal daripada merek global. Bahkan, pada kategori-kategori di mana merek global yang sejak dulu mendominasi seperti sampo, minuman ringan berkarbonasi, perawatan wajah, pelembab wajah dan susu formula, merek lokal tumbuh lebih cepat. Faktor kunci yang berkontribusi pada pilihan konsumen akan merek lokal atau global adalah keinginan untuk mendukung merek lokal dan pengalaman positif yang sebelumnya dirasakan oleh konsumen. 2. Merek Lokal Tumbuh Lebih Cepat Merek regional dan lokal tumbuh lebih cepat daripada pemain global, baik di pasar modern maupun pasar tradisional. Untuk pemain lokal, kesuksesan mereka telah menjadi evolusi yang perlahan, seiring dengan bertumbuhnya pengetahuan akan lingkungan pasar modern, khususnya pada beberapa area tertentu, seperti manajemen kategori. 3. Perusahaan Lokal Mampu Memahami Konsumen Lokal Hampir tiga dari lima konsumen di Asia Tenggara percaya bahwa merek lokal adalah yang paling sesuai untuk memenuhi kebutuhan dan selera mereka. Menurut tradisi, pemain lokal menguasai kategori-kategori yang bersinggungan erat dengan nuansa lokal, seperti makanan dan minuman. Saat ini, kedua kategori tersebut masih mendorong tingkat pertumbuhan terbesar bagi perusahaan lokal, dengan 17% untuk minuman dan 10% untuk makanan. 4. Perusahaan Lokal Menawarkan Variasi Harga yang Sesuai Kebutuhan Konsumen Munculnya kelas menengah yang terus berkembang telah merangsang aspirasi konsumen untuk bertransaksi dan menikmati kualitas tambahan dan manfaat fungsional dari produk-produk dengan harga yang lebih premium. Dulu, portofolio pemain global lebih kuat di lini premium dan pemain lokal lebih kuat dalam segmentasi nilai. Kini, terjadi perubahan fokus dimana pemain-pemain lokal dan regional menawarkan portofolio merek yang lebih seimbang pada semua tingkatan harga. Sementara itu, merek global mengalihkan fokusnya pada margin produk premium yang lebih tinggi. Pemain regional melawan tren premiumisasi dengan meningkatkan fokusnya pada nilai, yang tumbuh hampir 50% dibandingkan pertumbuhan di segmen yang umum (mainstream) yang sebesar 22%.
Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
idEA Gelar “Indonesia E-Commerce Summit & Expo”

Demi mendukung industri eCommerce di Indonesia, Pemerintah baru saja mengeluarkan roadmap yang menargetkan transaksi e-commerce mencapai 130 juta dolar pada...

Close