Kelas Kopi untuk Perbaiki Kultur Minum Kopi

Business Challenge

Bisnis minuman kopi di Indonesia semakin bertumbuh. kedai kopi tradisional maupun modern terus bermunculan. Varietas kopi hasil silangan kopi lokal yang lebih berkualitas terus lahir. Petani kopi Indonesia terus belajar menangani pasca panen yang lebih baik agar menghasilkan biji kopi yang lebih bermutu. Dan tidak ketinggalan, konsumen kopi—pecinta maupun penikmat kopi, pun terus berkembang. Data Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia menunjukkan bahwa pertumbuhan konsumsi produk kopi olahan di dalam negeri Indonesia meningkat rata-rata 7%-8% per tahun. Perubahan gaya hidup yang lebih mengapresiasi kopi sebagai minuman pergaulan merupakan salah satu pendorong berkembangnya bisnis kopi di Indonesia.

"Pertumbuhan konsumsi kopi di Indonesia setiap tahun jauh di atas pertumbuhan permintaan kopi secara global yang pada tahun lalu sebesar 2,5%. Jadi potensi pengembangan kopi lokal di Indonesia itu sangat tinggi," ujar Dewan Penasihat Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI), Moenardji Soedargo seperti dikutip detikFinance.

Terus berkembangnya pasar kopi di Indonesia ini tidak lepas dari upaya edukasi yang dilakukan para pelaku usaha industri kopi kepada konsumen, seperti yang dilakukan oleh Upnormal Coffee Roasters pada 12 Juli lalu di gerai terbarunya di kawasan Raden Saleh, Jakarta Pusat. Pada kesempatan itu, Upnormal Coffee Roasters membuka kelas “Basic Manual Brewing” untuk umum dan para jurnalis.

Insight & Activation

Dalam dua bulan terakhir ini Upnormal Coffee Roasters menyelenggarakan roadshow untuk edukasi tentang risalah kopi: seluk beluk tanaman kopi, cara membuat minuman kopi, dan cara menikmati minuman kopi yang benar. Kelas kopi yang diselenggarakan di gerai Raden Saleh itu adalah Coffee Class ke-16 yang diselenggarakan Upnormal Coffee Roasters. Ke depan, menurut Jelita Pramesti, Senior Media Relations Cita Rasa Prima Group, holding Upnormal Coffee Roasters dan Warunk Upnnormal, pihaknya menargetkan dapat menggelar kelas kopi semacam ini rutin, minimal sebulan sekali, untuk khalayak luas. Selain dihadiri jurnalis dari media cetak, online, maupun televisi, kelas kopi juga dihadiri tamu dari kalangan pecinta kopi.

“Kelas kopi semacam ini diharapkan dapat memperbaiki kultur minum kopi masyarakat Indonesia sehingga mereka bisa menikmati minum kopi dengan benar. Diharapkan kelas semacam ini juga dapat menciptakan tidak hanya pencinta kopi, melainkan juga penikmat kopi,” kata Setyo Prayitno, Coffee Master Champion, founder Barista Community Bandung, yang menjadi pemateri pada Kelas Kopi ini.

Kelas dibagi ke dalam dua sesi. Sesi pertama pembekalan tentang materi kopi: pengenalan jenis-jenis kopi, jenis-jenis alat seduh kopi, penjelasan tentang hal-hal yang bisa mempengaruhi cita rasa minuman kopi, tips menghasilkan minuman kopi yang bercita-rasa lebih baik, dan tips menyimpan kopi hasil grinder. Sesi kedua diisi dengan praktik membuat minuman kopi yang sesuai dengan cita rasa penikmat kopi.

Kelas pembekalan materi berlangsung interaktif. Pertanyaan silih berganti hadir, dijawab dengan lugas oleh Setyo. Membuka kelas ini, Setyo memperkenalkan jenis-jenis kopi di dunia, termasuk kopi Robusta dan Arabica yang populer di Indonesia. Tiga jenis kopi lainnnya yang jarang ditemukan di Indonesia adalah Peaberry. Liberica, dan Excelsa.

Untuk memberikan experience tentang cita rasa seperti yang dipaparkan pada sesi pertama, Setyo mengajak audience untuk membuat seduhan kopi dengan alat manual brewing V60. Kopi hasil seduhan alat ini dapat menunjukkan berbagai karakter kopi: rasa manisnya, asamnya, dan after taste-nya. Menurut Setyo, alat seduh kopi akan mempengaruhi hasil seduhannya. Alat seduh Moka Pot, misalnya, kata Setyo, akan menghasilkan kopi yang lebih kental dari hasil seduhan French Press. Setyo pada kesempatan itu memperkenalkan 11 alat seduh kopi, yaitu Turkish Coffee Pot, Turkish Coffee Pot, Aeropress Coffee Maker, Technivorm Coffee Maker, Moka Pot, Espresso Machine, V60 Dripper, Syphon Coffee Maker, Cold Drip Maker, French Press, dan Cafe Solo Coffee Maker.

Menurut Setyo, setidaknya ada lima hal yang mempengaruhi cita rasa seduhan kopi, yaitu kekasaran atau kehalusan hasil grinder, suhu air untuk menyeduh, rasio perbandingan air dan kopi, kualitas air, brewing turbulance, dan durasi menyeduh.

Hadir pada acara ini seorang ibu yang merupakan pecinta kopi, Irene Darryl. Warga Negara Indonesia yang saat ini bermukim di Abu Dhabi itu mengaku exiciting dengan kelas kopi ini. “Saya jadi lebih tahu seluk beluk kopi. Suami saya bekerja di perusahaan lokal Emirates. Dan saya sering ditanya tentang Kopi Luwak oleh bos suami saya yang orang Arab. Karena itu, saya jadi perlu mengetahui lebih banyak tentang kopi. Kebetulan saya sedang berlibur ke Indonesia dan melihat banner Coffee Class ini,” katanya.

Dia bercerita bahwa minum kopi merupakan kebiasaan yang mendarah daging bagi mayoritas orang Arab. Dalam sehari mereka akan meluangkan waktu dua kali atau tiga kali untuk secara khusus minum kopi di kedai kopi, katanya. Karena itulah, dia menjadi tertarik untuk mempelajari kopi. (Lis Hendriani)

Alex Mulya, Pakar Pemasaran: Perlu Publikasi Massif

Tujuan aktivitas komunikasi sebetulnya bukanlah "mengedukasi masyarakat", tetapi "meningkatkan penjualan." Kalau road show satu tim doang diputar-putar, rasanya tidak akan tercapai skala edukasi yang cukup luas. Minimum harus dilakukan sebulan sekali di semua gerai, selama minimum 12 bulan! Dengan cara ini, nilai edukasinya baru akan terasa oleh banyak peserta. Kalau cuma membuat kelas di satu gerai yang sepi, tidak ada gunanya. Harus dibuat banyak, supaya melekat pada brand-nya. Jaringan gerai Upnormal sepertinya cukup banyak. Jadi peran mereka untuk memperkenalkan coffee gourmet kepada kelas yang lebih luas (kepada konsumen Indomie) akan signifikan.

Sekali lagi, edukasi ini akan berdampak kalau dilakukan minimum sebulan sekali, di semua gerai dan selama 12 bulan. Karena sekali event paling yang hadir cuma 50 orang, nggak ada artinya tanpa publikasi yang massif. Jadi yang harus di-boost adalah publikasinya, yaitu publikasi pra-event kepada pengunjung; poster yang ditempel sebelum event dan sesudah event, berikut foto-fotonya; pemutaran kegiatan kelas kopi tersebut via videotron; dan publikasi paska event. Publikasi harus jauh lebih massif dari event-nya sendiri. Dari sisi konten edukasi, dari yang saya baca, cukup oke. Tidak perlu terlalu ribet memang.

Mereka juga harus mulai branding produk kopi nya. Kopi A, Kopi B (bukan sekadar "Cappucino") karena hal ini merupakan follow up dan reminder dari kegiatan edukasi tersebut. Di dalam kelas kan sudah diajarkan dan sudah disediakan produk untuk dicoba. Kalau tidak di-reminder dengan nama kopi, mereka pasti akan lupa.

Saya belum pernah ke Upnormal. Secara bisnis, saya tidak tahu apakah gerai coffee package seperti ini bisa berhasil menggarap segmen massal. Kalau kita melihat Starbucks, mereka tidak pernah membuatu event edukasi begini. Demikian juga dengan JCO yang kelasnya di bawah Starbucks, tidak pernah membuat event seperti ini karena gerai mereka selalu penuh. Lagi pula, event seperti ini tidak akan membantu mengangkat brand image JCO setinggi Starbucks. Jadi buat JCO, event seperti ini mubazir. Nah, kalau untuk Upnormal, mungkin perlu membuat event seperti ini guna me-leverage brand image. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)