Berapakah Yang Nonton Video Online Setiap Hari ? Lihat Disini

Brand mestinya tidak lagi hanya menargetkan prime time TV tradisional, namun juga harus mengidentifikasi primetime di media lain. Saran itu disampaikan oleh Zoe Lawrence, Director Digital APAC Kantar TNS terkait penemuan riset mereka tentang keinginan kuat dari responden untuk mengonsumsi video online kapan saja dan di mana saja yang mereka inginkan.

Connected Life merupakan studi global Kantar mengenai sikap digital dan perilaku 70.000 pengguna internet di 57 negara. Menurut temuan itu, connected consumer di seluruh APAC sekarang memiliki durasi menonton video lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya. Orang-orang tersebut mengonsumsi berbagai video melalui berbagai sumber, mulai dari Online TV, Netflix yang berbasis langganan, video bebas tonton di Youtube, hingga konten video yang disajikan melalui social feed mereka.

Sekitar 31% connected consumers menonton video online setiap hari, baik melalui channel gratis maupun berlangganan dan jaringan sosial. Konsumen itu rata-rata menghabiskan 1,1 jam setiap hari untuk menonton konten video online. Kendati begitu, siaran televisi masih cukup kuat karena 94% dari konsumen masih menonton TV Tradisional dengan rata-rata waktu 2,4 jam setiap hari.

Connected Life menunjukkan bahwa 33% dari connected consumer di Indonesia menonton video yang berasal dari brand di Youtube. Proporsi itu tertinggi di antara negara-negara APAC yang diikuti oleh Malaysia 28% dan Vietnam 25%. Tidak hanya itu, hampir setengah (42%) dari mereka membaca posting brand di Facebook. “Hal ini memberikan peluang yang lebih tinggi bagi para pemilik brand untuk menciptakan hubungan yang memiliki dampak yang lebih berarti dengan para konsumen di platform sosial online,” ujar Zoe.

Ditemukan juga bahwa selebriti atau blogger memberikan pengaruh penting terhadap publikasi video. Konten video di Youtube yang berasal dari selebriti atau blogger banyak dikonsumsi oleh connected consumer di Indonesia dengan kisaran 30% setiap minggu, padahal APAC hanya memiliki rata-rata 23%. Hal ini menunjukkan baha penggunaan influencer masih merupakan strategi yang bisa diandalkan untuk meraih ketertarikan dan berkoneksi dengan connected consumer di Indonesia.

"Jadi, cukup jelas, selera konsumen untuk video online tumbuh bersamaan dengan peningkatan kecepatan data seluler dan kualitas dan tren ini kemungkinan akan tumbuh lebih jauh. Tantangan untuk merek dan pemasar adalah untuk sekarang fokus pada konten video yang dapat terlibat, menghibur baik online untuk memaksimalkan kesempatan ini, kata Suresh Subramanian, Managing Director, Kantar TNS Indonesia. (Nurur R. Bintari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Ingat Ya… Menjadi Terbaik itu Bukanlah Strategi

Ketika sesuatu menjadi paritas - menjadi sebaik orang lain – itu merupakan pertanda bahwa sesuatu adalah yang buruk. Lalu apakah...

Close