Benarkah Perusahaan yang Punya Banyak Brand Kinerjanya Lebih Baik?

Para pakar komunikasi tentu fokus mencari cara untuk mempromosikan bisnis mereka, baik itu melalui bantuan kolega maupun perusahaan yang dapat membantu melakukan banyak strategi. PR adalah strategi yang paling hebat dan efektif secara finansial untuk mempromosikan bisnis. Selain itu, iklan, promosi sosial media, dan marketing yang dilakukan secara tepat juga mampu mendorong bisnis Anda. Namun jika Anda benar-benar ingin memperkokoh usaha Anda, cobalah "branding".

rsz_your-brandGeoffrey James dari majalah Inc. menawarkan penjelasan yang apik tentang brand dan branding. " Merupakan mitos bahwa memiliki banyak brand dan cukup banyak branding merupakan hal yang baik untuk bisnis," kata James. "Setelah sebuah titik tertentu, manfaat brand dan branding cenderung berhenti- dan, faktanya, justru akan meracuni perusahaan. Sebuah brand adalah sekumpulan emosi yang diaseosiasikan dengan sebuah nama perusahaan atau produk. Brfand hampir sepenuhnya merupakan hasil dari customer experience terhadap produknya. Di sisi lain, branding melibatkan produk-produk dan aktivitas-aktivitas marketing yang bertujuan untuk membuat, mereinforce, dan mengubah emosi-emosi tersebut. Hal ini juga mencakup nama produk baru, desain logo, tagline, iklan brand, dan brand placement."

Bagi perusahaan-perusahaan bermodal besar, branding merupakan hal penting ketika mereka menawarkan produk baru atau membutuhkan identitas baru pascakrisis. Namun bagi perusahaan kecil, universitas, firma atau sejenisnya, branding adalah pemborosan.

Sebagian besar kampanye branding mencakup hal-hal berikut ini:

Presentasi menggunakan video, musik, lampu yang indah, dan salesman murah senyum

  1. Contoh logo lama, website, alat tulis, maupun foto"Before"
  2. Sebuah material branded baru untuk foto "After"
  3. "Result" seperti konsumen baru, aplikasi, atau kerjasama

Ini adalah proses yang harus dilalui pada rapat pertama sejak perusahaan menurunkan dana untuk branding

  1. Membuat beberapa rapat untuk mendiskusikan "brand", feeling mengenai brand, aura dari brand, dan sebagainya
  2. Mendengarkan hal-hal klise seperti "apa yang dibicarakan oleh customer tentang brand Anda?"
  3. Mencari pallete warna baru -"seperti apa efek gradasi biru ini pada Anda?"
  4. Mencari website baru serta skema-skema warnanya

Ini yang terjadi selanjutnya:

  1. Lebih banyak pertemuan rapat di mana pegawai melakukan voting untuk menentukan pallette warna dan logo
  2. Lebih banyak rapat untuk membahas website
  3. CEO, Presiden, atau dekan mendengarkan pendapat anggota, kemudian memilih logo dan skema warna yang paling ia sukai
  4. Tercapai suatu kesepakatan

Ini yang Anda akan dapat:

  1. Logo baru
  2. Skema warna baru
  3. Website baru
  4. masalah lama yang sama

John Crowe, sering mengungkapkan pertanyaan, "kenapa kamu ingin sebuah tampilan baru? Hanya ingin beda?". Menurut Crowe, akan lebih baik bila perusahaan berbudget terbatas sebaiknya lebih mengalokasikan dana mereka untuk berkomunikasi dengan para stakeholders atau konstituen mengenai kualitas dari institusi. Mereka juga sebaiknya mencari supporter-supporter baru untuk mendukung mereka. Semua orang menginginkan kualitas, tidak peduli apakah mereka civitas universitas, konsumen, maupun hainnya. Telusurilah kelompok-kelompok target audiens Anda, serta gunakanlah waktu dan biaya untuk selalu memberi informasi terkini kepada mereka.

Seorang ahli sosial media marketing, Neal Rodriguez percaya pada branding, namun bukan jenis branding yang kuno. "Logo dan skema warna secara sederhana merupakan salah satu unsur dari penampilan luar sebua kampanye branding. Praktek branding Anda harus ditujukan untuk meng-engage kelompok target Anda, serta menjadikan perusahaan Anda menawarkan sebuah solusi unik untuk memecahkan masalah konsumen." tandas Rodriguez.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Nestle Tarik Maggi dari India

Awal Juni 2015 ini, produsen makanan multinasional Nestle, resmi menarik produk mie instan Maggi dari pasar India, setelah ditemukannya masalah...

Close