Di Asia Pacific, Aplikasi Mobile Marketing Baru 7%-10%

050441700_1444913188-mma_and_smarties_logoSmarties Indonesia Award yang diadakan Mobile Marketing Association (MMA) merupakan acara tahunan untuk mobile marketing yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada konsumen dalam mengenalkan produk secara mobile. Tahun ini, MMA kembali digelar untuk ketiga kalinya dan berlangsung di Ritz Carlton Hotel Kuningan, Jakarta, Kamis (22/09). Managing Director WMA Asia Fasifik Rohid Dadwal mengungkapkan, Smarties Indonesia Award merupakana cara tahunan untuk mobile marketing yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada konsumen dalam mengenalkan produk secara mobile. “Ukuransuksessebuah brand perlu melibatkan strategi yang solid, dan yang terpenting adalah strategi yang menarik, sehingga untuk mewujudkan itu semua butuh wadah untuk memfasilitasi para marketing berkarya salah satunya adalah Smarties Indonesia Award,” ujarnya di sela-sela acara. Dijelaskan, pesatnya perkembangan dunia digital turut membuat perubahan tren gaya hidup, tak terkecuali gaya beriklan yang dilakukan oleh korporat untuk mendapatkan konsumennya. Untuk region Asia Pasifik, tiap tahunnya pertumbuhan belanja iklan mobile terus merangkak naik. Namun porsinya diperkirakan belum mendominasi iklan konvensional. Selamaini, diakui masih banyak korporat menerapkan pemasaran lewat mobile sebagai jalur trial untuk mempelajari pasar dan testing keefektivitasannya. Sementara pemasaran iklan lewat jalur konvensional, seperti televisi, radio, billboard, media cetak, dan media online cenderung masih jadi andalan. Hal itu terlihat dari besaran porsi antar keduanya – mobile marketing dan konvensional – yang masih kontras. Dia memperkirakan, saat ini penerapan mobile marketing di lingkup Asia Pacifik secara persentase hanya  7%-10% dari total bujet iklan. Di Indonesia, dia tidak mengetahui secara detil seberapa banyak korporat yang mulai menerapkan mobile marketing untuk kegiatan pemasaran, namun porsinya masih kecil. Melihat hal tersebut, MMA tetap optmistis untuk memajukan mobile marketing. MMA memperkirakan, hingga tahun 2018 atau dua tahun mendatang, perusahaan bakal menambah budget untuk mobile marketing dari persen menjadi 20 persen dari total belanja iklannya. “Perlu diketahui, iklan mobile itu bukan kompetitor bagi iklan konvensional. Justru menjadi pelengkap yang sudah ada. Ada tambahan channel marketing yang tingkat efektivitasnya bisa terukur dengan tepat,” jelasnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Ekspansi Kagum Group Melalui Hotel Berkonsep Syariah

Salah satu indikasi masih menggeliatnya industri perhotelan di Indonesia, di tengah kondisi ekonomi yang masih belum membaik, adalah adanya kenaikan...

Close