Digitalisasi UMKM Melalui Layanan TeleShop

Total pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencapai 59,2 juta. Dari angka itu, sayangnya baru 8% yang sudah memanfaatkan platform online. Demikian data yang dirilis oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM).

Fakta itu dicermati pula oleh PT Tele Utama Nusantara (TUN), perusahaan berbasis financial technology yang berdiri sejak tahun 2008. Untuk itu, pada Maret ini (12/3), TUN resmi meluncurkan TeleShop, sebuah layanan yang akan mendigitalisasikan  pelaku UMKM di Indonesia. Dengan demikian, para pelaku UMKM dapat mengakses ekonomi digital secara optimal.

Sejatinya, dengan layanan TeleShop, UMKM siap beralih rupa menjadi e-UMKM atau UMKM elektronik. Dikatakan Slamet Riyadi, CEO PT Tele Utama Nusantara, TeleShop adalah platform berbasis aplikasi android yang sangat mudah dioperasionalkan. “Dalam praktiknya, TeleShop merupakan layanan PPOB (payment point online bank) yang memungkinkan UMKM mentransaksikan lebih banyak produk, termasuk produk digital, mengingat fungsi TeleShop yang dapat berupa merchant aggregator,” tegasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa TeleShop menyasar sektor UMKM yang selama ini belum terjamah kalangan perbankan. Di antaranya, UMKM yang berada di area rural seperti para pedagang voucher, minimarket (terutama yang stand alone), warung–warung kecil, rombong/gerobak kaki lima, dan koperasi—termasuk koperasi sekolah.

“Saat ini, kami sudah memiliki 25 ribu mitra UMKM pengguna TeleShop di Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Papua. Dengan kehadiran layanan TeleShop, kami berharap ada kenaikan 4 kali lipat. Itu artinya, ada 100 ribu UMKM yang dapat menjadi mitra kami hingga akhir tahun 2018 di 34 provinsi di seluruh Indonesia,” patok Slamet.

Dengan modal awal yang relatif cukup kecil, yakni minimal deposit Rp 250 ribu, UMKM mitra TeleShop sudah bisa melayani transaksi. Setiap saat, UMKM mitra TeleShop juga dapat selalu mengetahui sisa saldo mereka. Pemanfaatan layanan TeleShop, diyakininya, dapat  melipatgandakan omset dan laba pelaku UMKM. Sebab, margin sebesar 6-7% setiap transaksinya dapat diperoleh mitra UMKM lewat layanan TeleShop.

“Para UMKM pun hanya memerlukan perangkat handphone android. Kami bahkan bisa meminjamkan perangkat itu untuk para mitra kami. Operasionalnya sangat mudah. Mereka tinggal mendaftar, kami akan tanamkan aplikasinya, lalu mereka menyetor deposit tertentu,” ungkapnya.

Bagi UMKM dengan pendapatan besar, yakni mencapai Rp 20 jutaan, TUN akan meminjamkan mesin EDC untuk melakukan transaksi. Mesin senilai US$ 300 itu, saat ini sudah berjumlah 5.000 unit. Itu artinya, baru ada 8% mitra UMKM dari TUN yang telah menggunakan mesin EDC TeleShop.

Diakuinya, salah satu keunggulan dari layanan TeleShop adalah banyaknya kebutuhan rutin konsumen yang dapat terlayani. Sebut saja, pembayaran listrik (dan token listrik), PDAM, Telepon, Leasing, pay-TV, dan lain-lain. Bahkan, TeleShop juga bisa digunakan untuk pembayaran asuransi, BPJS, pembelian pulsa, paket data, voucher game, tiket pesawat, kereta, kapal PELNI, atau kamar hotel. “Ke depan, TeleShop akan dikembangkan ke lebih banyak merchant sesuai dengan rencana kami menjadikannya sebagai merchant aggregator,” katanya.

Demi mencapai target tersebut, dipaparkan Slamet, strategi yang digunakan TUN adalah dengan memasuki remote area dan daerah pinggiran. Selain itu, TUN juga kan menarik kalangan UMKM yang unbankable untuk menjadi reseller yang terintegrasi dengan TeleShop. Termasuk, menawarkan layanan pembayaran untuk segala keperlua. “Ke depan Teleshop juga akan menyediakan modal pinjaman Peer to Peer landing, untuk meningkatkan modal bagi pelaku UKM,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)