Dorong Inovasi, Kemenperin Gelar Program Diseminasi

Inovasi sejatinya menjadi salah satu kunci kemajuan sebuah industri. Termasuk, menjadi kunci dalam memenangkan persaingan pasar. Oleh karena itu, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memiliki komitmen terhadap inovasi sekaligus senantiasa menggelar program diseminasi atau sosialisasi atas hasil penelitian dan pengembangan (litbang) terapan Balai Besar Industri Agro (BBIA).

Program diseminasi merupakan ajang komunikasi antara peneliti, perekayasa, dunia usaha (pelaku industri) sebagai calon pengguna, dan pemangku kebijakan. Harapannya, melalui program diseminisasi, hasil penelitian dapat bermanfaat bagi semua pihak, termasuk para pelaku industri.

Dikatakan Kapuslitbang Industri Hijau & LH BPPI Ir. Teddy C Sianturi, MA, “Sesuai dengan tugas dan fungsinya, balai litbang yang berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) berperan aktif melaksanakan alih teknologi hasil litbang kepada industri pengguna. Industri dalam negeri membutuhkan dukungan teknologi dalam rangka efesiensi. Sementara untuk bersaing dalam menciptakan produk yang lebih bervariasi, diperlukan dukungan kemampuan desain produk dan inovasi."

Ditambahkan Kepala Balai Besar Industri Agro (BBIA) Umar Habson, untuk membangun sektor mamin (makanan dan minuman) misalnya, diperlukan inovasi. BBIA adalah pusat riset agro industri di bawah Kemenperin dan ditetapkan sebagai Pusat Unggulan IPTEK (PUI) Nasional bidang hilirisasi produk agro oleh Kemenristekdikti pada tahun 2016 dan mendapatkan anugerah Prayoga Sala tahun 2017.

"BBIA akan terus berbenah meningkatkan kompetensi sebagai pusat riset dan juga penyedia jasa teknis unggulan untuk industri mamin, seperti pengujian bromat, pengujian nutrisi dan kontaminan, uji profisiensi, dan pendugaan umur simpan produk agro. Kami ingin membantu industri dengan menyediakan litbang dan teknologi proses yang siap terap," tegas Umar.

Untuk itu, lanjut Umar, BBIA rutin tiap tahun mensosialisasikan hasil inovasi pengembangan produk dan teknologi proses kepada pelaku industri. Tahun 2017 ini, sosialisasi digelar selama dua kali. Pertama, sosialisasi untuk pewarna alami pada temu bisnis bulan Juli lalu. Kedua, pada akhir Novemver ini, sosialisasi untuk teknologi siap terap pangan berbasis tepung mocaf (modified cassava flour), cocoa butter subtitues (CBS) berbasis sawit untuk industri coklat, dan rancang bangun peralatan proses pengolahan holtikultura.

“BBIA juga sedang memfasilitasi ekspor produk ekstrak buah merah Papua ke pasar Eropa. Teknologi proses dikembangkan oleh BBIA, kemudian didiseminasikan ke IKM di Papua untuk memproduksi. Saat ini, masih dalam tahap registrasi ke badan regulasi pangan di Eropa sana. Harapannya, ke depan produk tersebut bisa dipasarkan ke Eropa,” harap Umar.

Selain teknologi produksi, diungkapkan Umar, BBIA juga membantu fasilitasi jejaring dengan mitra luar negeri termasuk calon investor. "Ke depan, model kerja sama seperti buah merah dan rumput laut ini akan terus dikembangkan BBIA untuk memperkuat daya saing industri nasional," tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
KNH Perhumas 2017 Ajak #IndonesiaBicaraBaik

Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) kembali menggelar Konvensi Nasional Humas (KNH) 2017 di IPB International Convention Center (IPB ICC), Bogor,...

Close