Dua Raksasa e-Commerce Asal Cina Bertarung di Indonesia, Siapa Menang?

Pasar e-Commerce Indonesia sepertinya tak hanya menggiurkan bagi para pemain lokal. Namun, raksasa e-Commerce dari negeri lain pun melihat e-Commerce Indonesia sebagai pasar yang sangat seksi. Tengok saja bagaimana salah satu raksasa e-Commerce asal Cina yang mencoba mencicipi bisnis e-Commerce Tanah Air lewat Lazada--market place yang telah menancapkan taringnya di Indonesia. Ya, baru-baru ini, Alibaba membeli Lazada sebesar US$1 miliar. IMG_20160418_44223 Gerilya Alibaba ke wilayah Asia Tenggara, khususnya Indonesia, lewat akuisisi Lazada sepertinya menyusul langkah kompetitornya, JD.com. JD.com--yang juga raksasa e-Commerce asal Cina--lebih dulu hadir di Indonesia pada akhir 2014 lalu. Kehadiran JD.com ke Indonesia jauh lebih percaya diri dengan mengusung brand sendiri, JD Id. Menurut Pengamat industri IT dari Indotelko Forum, Doni Ismanto, Alibaba sebenarnya punya e-commerce lain, Aliexpress dan TMall. "Namun, sepertinya Alibaba tidak percaya diri dengan produknya sendiri dikarenakan ketatnya persaingan di Indonesia. Alibaba cenderung memilih bermain aman dengan merangkul e-commerce yang sudah matang, yakni Lazada. Ini mirip dengan Naspers melalui OLX yang meleburkan Tokobagus dan Berniaga di pasar Classified Ads beberapa waktu lalu," katanya. Lantas, siapa JD.com? Data iResearch menunjukkan jika JD.com merupakan perusahaan online direct sales terbesar di Cina pada kuartal terakhir 2014. Pangsa pasar JD.com diketahui telah mencapai 49 persen. Sedangkan untuk layanan Marketplace, JD.com memiliki pangsa pasar 18,6 persen. Bahkan, Nikkei Asia berani memprediksi bahwa JD.com akan tumbuh lebih cepat ketimbang pesaingnya, Alibaba. Prediksi Nikkei Asia cukup dimaklumi. Lantaran, kinerja JD.com tumbuh lebih signifikan dibandingkan kompetitornya, Alibaba. Pada tahun 2015 misalnya, total nilai barang dan layanan yang dijual di e-retailer JD.com naik sampai 78 persen dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan bisnis B2C Alibaba yang hanya 30 persen. Bagaimana pertarungan keduanya di Indonesia? Dijawab Doni, jika dilihat dari model jualan, masyarakat Indonesia akan lebih tertarik dengan sistem direct sales online seperti yang ditawarkan JD.com melalui JD Id. Hal ini dikarenakan barang dikirim melalui gudang sendiri, pengiriman pun langsung dilakukan oleh perusahaan. Demikian juga dengan variasi produk yang akan terjamin keasliannya. Namun, JD Id tetap harus berhati-hati. "Mengingat, salah satu kelebihan Lazada adalah sudah memiliki lebih dari 20 Hub untuk pengumpulan dan distribusi barang. Lazada salah satu pemain yang berani investasi besar di logistik dengan Lazada Express dan bangun gudang. Belum lagi dukungan customer service. Lazada ini bukan Marketplace yang hanya menyediakan platform dan mengumpulkan para pedagang. Mereka tahu kondisi Indonesia dan bangun ekosistem dari hulu ke hilir," kata Doni. Ia menambahkan, Lazada yang sudah membangun sistem mendekati sempurna saja masih menghadapi kejadian pesan barang A datang B atau fraud di pembayaran. "Itulah dinamika marketplace. Variasi produknya lebih banyak, sulit untuk memonitor ribuan pedagang dalam satu platform, sehingga kemungkinan untuk terjadinya penipuan, baik terkait dengan pembayaran atau keaslian barang, lebih besar," terang Doni mengingatkan.
Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Read previous post:
Tumbuh 110%, Ini Strategi Telkomsel Tingkatkan Layanan Data

Sepanjang tahun 2015, konsumsi layanan data di jaringan Telkomsel naik sekitar 110% seiring dengan pertumbuhan pengguna smartphone dan menjamurnya aplikasi...

Close