Humas Rumah Sakit Indonesia Harus Bisa 'Bergerak'

Sejumlah pasien Indonesia lebih memilih berobat ke negeri tetangga dibandingkan di negeri sendiri. Terutama kalangan atas, tidak sedikit yang lebih percaya kualitas pengobatan rumah sakit di Malaysia dan Singapura untuk urusan kesehatan.
Humas rumah sakit
Hal tersebut juga diperkuat dengan pernyataan Profesor Gufron dari Malaysia dalam acara Simposium Cendekia Kelas Dunia  yang  diselenggarakan Kemenristekdikti beberapa waktu lalu, bahwa mahasiswa Malaysia belajar kedokteran ke Indonesia, namun pasien Indonesia justru berbondong-bondong berobat ke Malaysia.
Apa alasannya? Menurut Dokter Spesial Orthopedi dari Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta, Dr. dr. Christiana Linda Wahjuni, SpOT, M.Kes, FICS, CCD, alasan mendasar mengapa pasien Indonesia lebih memilih pengobatan luar negeri adalah soal harga.
"Price adalah salah satu alasan pasien kita berobat ke negeri tetangga. Karena dibandingkan dengan pelayanan rumah sakit kita, jelas rumah sakit di sana jauh lebih murah. Tidak heran jika rumah sakit kita kalah dengan Malaysia, Singapura, dan lainnya," ungkap dr. Linda yang ditemui dalam talkshow event "Woman on Top" hasil kerja sama antara RSPP dengan LSPR di RSPP Jakarta, hari ini (22/12).
Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa strategi pemasaran rumah sakit di Indonesia juga masih jauh tertinggal dengan negara tetangga. "Di sana, dokter bisa 'mengiklankan' atau mempromosikan dirinya sendiri. Sementara di sini kami tidak bisa begitu karena tidak sesuai dengan kode etik dan peraturan di Indonesia. Rumah sakit di sini bukan 'bisnis'. Itu yang salah, makanya kita gak maju-maju," tuturnya.
Namun, bukan berarti rumah sakit tidak bisa melakukan promosi dan pemasaran. Iklan dan aktivitas pemasaran bisa saja dilakukan asal masih dalam koridor yang sesuai dengan kode etik kedokteran di Indonesia. Tapi, untuk dokter mempromosikan dirinya sendiri seperti dokter-dokter di negara tetangga, memang masih belum bisa.
"Untuk itu, pemasaran rumah sakit yang seharusnya bisa 'bergerak'. Harus pintar-pintar menentukan cara bagaimana 'menjual' rumah sakit yang tidak terkesan beriklan. Sejauh ini media yang efektif  untuk memperkenalkan dokter rumah sakit itu seperti berbicara di radio dan TV," pungkas dr. Linda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)