Industri Minuman Ringan, Masih Prospektif, Meski Pertumbuhannya Melambat

Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM) Industry Outlook 2017 menunjukkan bahwa selama kuartal pertama 2017, pertumbuhan industri minuman ringan negatif, minus 3% - 4%. Hal ini terjadi hampir pada semua kategori minuman ringan, kecuali kategori minuman energi (sport) dan susu yang tumbuh positif di atas 15%. Dalam konteks ASRIM, yang masuk ke dalam kategori minuman ringan adalah Air Mineral Dalam Kemasan ( AMDK), minuman berkarbonasi, minuman teh siap saji, minuman jus dan sari buah, minuman kopi dan susu, dan minuman isotonic (sport dan energy).

Terlepas dari pertumbuhan yang masih rentan ini, Industri minuman ringan masih menyediakan potensi yang sangat besar. Menurut Triyono Pridjosoesilo, Ketua ASRIM, bonus demografi Indonesia sebagai negara dengan lebih dari 250 juta konsumen, dimana lebih dari 25%-nya berusia produktif, menyediakan potensi pertumbuhan pasar konsumsi yang menjanjikan, tidak hanya di kelas menengah, tapi juga konsumen menegah bawah. Data BPS 2013 menunjukkan bahwa konsumen Indonesia membelanjakan 2% dari belanja bulanan mereka untuk minuman, katanya.

Jelang Ramadhan 2017, diakui Triyono, sebagai festive season yang membawa harapan besar bagi industri minuman ringan karena puncaknya masa penjualan. “Berapa persen kontribusinya terhadap penjualan tergantung dari kategori minumannya. Yang jelas 30% dari total volume berasal dari festive season,” imbuhnya.

Pengaruh Perubahan Persepsi

Persepsi dan tren gaya hidup sehat sedikit banyak berpengaruh terhadap perubahan selera konsumen, tak terkecuali segmen anak muda sebagai salah satu pasar potensial industri minuman ringan. Setidaknya ada dua strategi yang bisa dilakukan industri untuk memperbaiki kondisi ini.

“Pertama, dari sisi produsen, khususnya kategori minuman soda yang pertumbuhannya minus 15%, diperlukan inovasi produk yang disesuaikan dengan preferensi konsumen saat ini. Misalnya, dengan menghadirkan produk less sugar, atau mengubah ukuran kemasan. Intinya, produsen harus membangun edukasi dan pemahaman yang utuh tentang produknya,” jelas Triyono.

Kedua, diperlukan kebijakan yang tepat sasaran untuk mendorong fase pertumbuhan.

Rangkaian paket kebijakan ekonomi pemerintah untuk mendukung dunia usaha dan investasi

telah memberikan harapan baru bagi para pelaku industri, tidak terkecuali pengusaha industri

minuman ringan. Namun tantangan terhadap industri minuman masih tetap tinggi, khususnya terkait dengan kebijakan/regulasi yang akan berdampak langsung pada biaya dan harga jual serta kebijakan yang berdampak pada alur proses perijinan yang panjang dan kompleks.

Terkait dengan isu kemasan plastik yang juga semakin menjadi perhatian, ASRIM juga mengkritisi wacana kebijakan cukai plastik kemasan produk minuman. “Kami terus mendorong

Pemerintah agar menyiapkan kebijakan pengelolaan sampah tepat sasaran, terintegrasi dan

berkelanjutan. Plastik kemasan produk minuman (jenis plastik PET) bekas pakai merupakan salah satu bahan yang masih bernilai ekonomis tinggi. Penelitian Komposisi Sampah DKI Jakarta tahun 2010 oleh Universitas Indonesia menunjukkan bahwa sampah plastik bekas kemasan sudah terserap oleh sektor informal untuk proses daur ulang,” tutur Triyono.

Dampak Terhadap Tenaga Kerja dan UMKM

Industri minuman merupakan industri yang strategis untuk mendorong pertumbuhan

ekonomi dan juga penyerapan tenaga kerja. Data Kementerian Perindustrian 2013 menunjukkan tenaga kerja langsung di sektor industri minuman saja adalah sekitar 120,000 orang, dengan multiplier effect jumlah anggota rumah tangga yang menjadi tanggungannya rata-rata sebanyak 3-4 orang.

Dari komposisi pelaku usaha, industri ini banyak melibatkan sektor usaha mikro

dan informal dari sisi distribusi. Sebagai gambaran, dalam Economic Impact Study terhadap Minuman

Berkarbonasi pada 2012 didapatkan bahwa lebih dari 60% produk minuman berkarbonasi

dijual oleh pedagang tradisional termasuk usaha kecil, dengan rata-rata omset minuman ringan

adalah 41%.

“Apabila terjadi penurunan omset minuman ringan, akan berdampak besar bagi omset

perdagangan secara keseluruhan. Oleh karena itu, kami memandang sangat penting untuk terus

dapat bersinergi bersama Pemerintah dalam proses perumusan kebijakan yang mendukung

pertumbuhan industri minuman di Indonesia”, tutup Triyono.

Di sisi investasi, industri makanan dan minuman (mamin), termasuk minuman ringan siap saji di dalamnya, juga masih menjadi salah satu penyumbang investasi yang signifikan. Data realisasi triwulan pertama 2017 dari BKPM menunjukan, sektor ini menyumbangkan nilai investasi sebesar Rp18,5 triliun. (Marina)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
The Theatre of War, The Danger

Beberapa hari lalu, saya jalan-jalan ke sebuah pasar tradisional di Bogor. Sejumlah pedagang di pasar itu mengeluhkan turunnya daya beli...

Close