Kemenpar Gaet 28 Perusahan Lokal Promosikan WI/PI

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggandeng 28 perusahaan lokal untuk mempromosikan wisata di Tanah Air ke ranah global. Kolaborasi branding (co-branding) partnership perusahaan lokal dengan brand Wonderful Indonesia (WI) atau Pesona Indonesia (PI) ini digagas pemerintah dalam rangka menyukseskan target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun 2019.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menjelaskan, inisiatif co-branding pemerintah-swasta diluncurkan untuk memanfaatkan momentum meroketnya brand equity WI/PI di mata dunia. Jika pada 2013 brand WI berada di peringkat 70 dalam Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI), maka pada 2015 peringkatnya naik di posisi 50, dan tahun ini kembali melejit ke posisi 42.

Co-branding ini jadi momentum karena branding pariwisata Indonesia tidak bisa dilakukan sendiri oleh Kemenpar, tapi butuh kebersamaan dan sinergi seluruh elemen bangsa,” papar MenparArief Yahya di acara Wonderful Indonesia Co-branding Forum (WICF) yang digelar di Jakarta, awal Agustus.

Ke-28 perusahan lokal itu diantaranya Martha Tilaar. Polygon, JJ Royal, Sunpride, Sido Muncul, Sekar Group, Garuda Food, Telkomsel, Batik Danar Hadi, Kalbe Farma, Pos Indonesia, dan Batik Trusmi. Dalam co-branding ini, logo WI dipasang pada produk atau kemasannya.

Seperti co-branding yang dilakukan dengan Garuda Food untuk produk kerupuk ikan Papatonk yang sukses menembus pasar China, hal yang sama juga dilakukan dengan brand Finna, produk hasil laut olahan produksi Sekar Group yang sukses menembus pasar Eropa dan Amerika. Logo WI/PI tercetak pada kemasan produk, disandingkan dengan brandnya dan disertai beberapa baris tentang tradisi dan destinasi lokal di Indonesia.

Co-branding pada brand lokal yang mampu menembus pasar global bertujuan supaya branding dan logo WI semakin dikenal konsumen mancanegara. Sedangkan untuk pasar lokal, brandingnya PI untuk mendongkrak jumlah wisatawan Nusantara. Di samping itu, untuk memperkokoh spirit Indonesia Incorporated di kalangan perusahaan lokal. “Co-branding menargetkan 100 brand hingga akhir 2017 supaya daya saing pariwisata Indonesia bisa naik 12 peringkat di posisi 30 besar dunia pada 2019,” kata Arief Yahya.

Pengamat pemasaran Yuswohady menilai, co-branding partnership WI/PI dengan beberapa merek sebenarnya sudah berlangsung, walaupun masih bersifat informal dan tak sistematis. Istilahnya masih pop-up. Martha Tilaar Group (MTG) misalnya, punya program tahunan yaitu Trend Warna Sariayu yang mengangkat tema kearifan lokal daerah. Tahun ini MTG mengambil tema "Gili Lombok" yang merupakan salah satu destinasi wisata prioritas yang dicanangkan Kemenpar.

Kemudian, kampanye TVC Kuku Bima yang mengangkat destinasi wisata unggulan baru Jawa Tengah yaitu Danau Rawa Pening dan merek Kuku Bima bersanding dengan merek PI. Upaya co-branding yang sifatnya pop-up inilah yang akan dibuat sistematis dan dilakukan secara massal oleh sebanyak mungkin merek yang ada di Tanah Air.

“Kalau ini terjadi, merek WI/PI bakal hebat luar biasa dan pariwisata betul-betul menjadi core economy Indonesia menggantikan minyak dan gas bumi (migas),” paparnya. Lebih penting lagi, Yuswohady mengingatkan, co-branding juga bisa menghemat spending dari masing-masing merek dalam building brand. Kalau pasarnya sama, lebih efektif disatukan di satu billboard, TVC, atau print ad yang sama. Jadi, di situ terjadi sharing resources. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Ketika Japfa Mengapresiasi Talenta Karyawan

Ada banyak cara yang dapat dilakukan perusahaan dalam merancang program internal yang terkait dengan karyawannya. Mulai dari pelatihan internal, outbound...

Close