Mengintip Perilaku Pembelanja Online di Harbolnas 2017

Hari Belanja Online Nasional atau lebih dikenal dengan istilah Harbolnas, sejatinya menjadi salah satu perameter kinerja e-commerce di Indonesia. Maklum saja, nilai transaksi yang berhasil dicetak sepanjang periode Harbolnas tercatat sangat signifikan terhadap nilai bisnis e-Commerce di Tanah Air.

Lantas, bagaimana kinerja Harbolnas? Menurut catatan Nielsen, berdasarkan survei yang digelar pada 12-15 Desember 2017 di 24 kota dengan 720 responden, maka hampir 89% pengguna internet aware dengan program Harbolnas 2017. Serupa dengan tahun 2016, pada Harbolnas 2017 ini, mereka sudah aware dengan program Harbolnas pada seminggu sebelumnya.

Adapun situs belanja online dan media sosial masih menjadi kanal utama untuk publik mengetahui program Harbolnas. Peringkat tertinggi ditempati situs belanja online (29%), lalu diikuti oleh media sosial (26%), iklan digital 10%, iklan televisi (10%), dan news portal (3%). Dari sisi segmen market, rupanya wanita dan anak muda menjadi pembelanja tertinggi di sepanjang Harbolnas.

Yang menarik dicermati dari studi Nielsen ini adalah program Harbolnas 2017 mampu memicu para pembelanja offline untuk bertransaksi online. Artinya, pada sepanjang Harbolnas 2017, ada 68% pembelanja online dan Harbolnas regular. Sementara itu, 27%-nya adalah orang yang pertama kali beberlanja online di Harbolnas. Adapun pembelanja online baru, yang dari offline ke online, mencapai 5%.

Bagaimana dengan estimasi transaksi yang berhasil dicetak pada Harbolnas 2017? Studi Nielsen juga menunjukkan terjadi 4,2 kali kenaikan penjualan pada Harbolnas 2017, tepatnya 11-13 Desember 2017, jika dibandingkan dengan periode biasanya. Nilai transaksinya diperkirakan mencapai Rp 4,7 triliun.

Sepanjang Harbolnas 2017, kategori yang penjualannya meningkat siginifkan datang dari fashion dan sport clothes. Kategori tersebut meningkat 6% jika dibandingkan tahun 2016. Kenaikan yang sama juga terjadi pada kategori bill payment dan top up, yang tumbuh 6% jika dibandingkan tahun lalu.

Temuan yang lain patut dicermati oleh para pemilik belanja online adalah sejumlah faktor pemicu pengguna dalam berbelanja online. Studi Nielsen menjumpai bahwa 80% pengguna terdorong berbelanja online karena adanya diskon, 50% pengguna mengaku bebas ongkos kirim juga menjadi pendorong utama mereka untuk berbelanja online, 39% karena dipengaruhi voucher, dan 23% karena dipengaruhi cashback.

Lantas, di mana pembelanja online bertransaksi pada saat Harbolnas? Rupanya, 76% transaksi berlangsung pada saat mereka berada di rumah, 40% di kantor, 8% di pusat belanja atau mal. Pada saat berbelanja dan bertransaksi online di Harbolnas 2017, terjadi pergeseran ke aplikasi mobile. Ada 48% pengguna mengakses dan bertransaksi Harbolnas 2017 melalui aplikasi mobile e-Commerce. Itu artinya, naik 21% jika dibandingkan Harbolnas tahun 2016. Sementara itu, yang menggunakan aplikasi mobile dan browser, jumlahnya mencapai 35%. Adapun mereka yang hanya menggunakan browser sebanyak 17%.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)